Analisa Bank Bukopin (BBKP) – Bangkit dari Krisis

BBKP - Logo

Bank Bukopin, kode saham BBKP, tengah dilanda krisis. Pada laporan keuangan tahun 2017, dilakukan koreksi yang sangat besar atas laporan keuangan tahun 2016 dan 2015. Sebagai akibatnya, terjadi penurunan yang sangat besar pada aset, ekuitas, dan laba pada tahun tersebut. Hal ini direspon negatif oleh market. Harga sahamnya turun 35% dari 590 (di awal tahun 2018 ini) menjadi 382 (per 8 Juni 2018). Menjadikan harga sahamnya sangat murah, dengan PER (annualized) 6,9 dan PBV 0,5 yang sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata PER dan PBV sektor perbankan. Memberikan peluang value investing yang sangat significant.

Tulisan ini akan membahas hal-hal berikut:

  • Sekilah Tentang Bank Bukopin
  • Inti Masalah dari Koreksi atas Laporan Keuangan 2016 dan 2015
  • Kinerja Fundamental Bank Bukopin
  • Kinerja Market dan Saham BBKP
  • Valuasi Harga Wajar Saham BBKP
  • Mengenal Manajemen Baru dan Bosowa sebagai Pengendali
  • Transformasi oleh Manajemen Baru
  • Peluang Investasi Saham dari Perusahaan yang Bangkit dari Krisis (Turnover)

Sekilas Tentang Bank Bukopin

Bank Bukopin berdiri tahun 1970 sebagai badan hukum koperasi dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin). Tahun 1993 berubah status jadi perseroan terbatas dengan nama PT Bank Bukopin. Tahun 2006 go public (IPO) dengan kode saham BBKP. Saat ini saham dikuasai oleh Bosowa 30%, Kopelindo (Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia) 18%, Pemerintah Republik Indonesia 11,43%, dan public 40,48%.

Kegiatan usaha perseroan mencakup 3 besar layanan yaitu Kredit, Dana, dan produk/layanan yang menghasilkan Fee Based Income (FBI).  Adapun segment layanan meliputi mikro, UKM, Konsumer, dan Komersial. Saat ini segment mikro dan UKM berkontribusi paling besar, dan memang sesuai dengan Pengalaman dan Kompetensi di Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai keunggulan kompetitifnya.

Saat ini telah menjadi bank kelas menengah, satu kelompok dengan bank-bank berikut ini (untuk kategori asset 50 – 120 trilyun dan book value atau equitas  7 – 20 trilyun): Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat (BJBR), Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), Bank Mega (MEGA), Bank Mayapada Internasional (MAYA), Bank Pembangunan Daerah Jawa (BJTM).

Inti Masalah dari Koreksi atas Laporan Keuangan 2016 dan 2015

Pada Laporan Keuangan 2017 disebutkan di bagian Penyajian Kembali Laporan Keuangan Konsolidasian, bahwa koreksi laporan keuangan 2016 dan 2015 dilakukan karena telah terjadi kesalahan penyajian pada dua hal berikut: Piutang kartu kredit Bank yang disebabkan oleh modifikasi data kartu kredit tertentu, dan pembiayaan/piutang syariah BSB terkait dengan penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur tertentu.

Dalam suratnya kepada BEI, Manajemen menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk pertanggung jawaban dan penerapan prinsip kehati-hatian oleh Bank Bukopin. Berikut ini summary-nya:

  • Permasalahan pada kartu kredit karena terdapat penjurnalan transaksi abnormal kartu kredit yang dihasilkan oleh sistem yang tidak sesuai dengam standard akuntansi serta ketentuan internal perusahaan. Tidak terdapat aliran dana dari penjurnalan transaksi abnormal ini.
  • Sedangkan permasalahan Jasa pembiayaan/piutang syariah karena terdapat penyesuaian kualitas pembiayaan dan berdampak pada pementukan cadangan (CKPN) di perushaan anak yaitu Bank Syariah Bukopin (BSP).
  • Tidak terdapat dampak secara khusus yang mengganggu aktivitas operasional, layanan nasabah, maupun dampak hukum. Penyesuaian tersebut berdampak pada Rasio Kecukupan Modal (CAR) yang menurun menjadi 10,52% di akhir tahun 2017. Perbaikan di Q1 2018 telah meningkatkan CAR menjadi 11,09%.
  • Untuk meningkatkan rasio CAR menjadi di atas 14%, perseroan akan melakukan Aksi Corporasi (Corporate Action)

Di kesempatan lain Manajemen menjelaskan lagi rencananya berkaitan dengan strategy untuk meningkatkan rasio CAR di atas 14%:

  • Akan melakukan Corporate Action pada pertengahan Juni 2018, Right Issue 30% saham BBKP dengan harga 550 – 700 untuk mendapatkan dana baru sebesar 1,9 trilyun rupiah.
  • Akan melakukan revaluasi aset dan divestasi saham perseroan pada Bank Syariah Bukopin (BSB). Menurut artikel di portal Kontan, Divestasi saham BSB ini sekitar 40% – 50%.

Kinerja Fundamental Bank Bukopin

Data meliputi Aset, Liabilitas, Equitas, Pendapatan/Penjualan/Revenue, Laba Kotor (Gross), Laba Usaha, Laba Bersih, Gross Margin, Net Margin, ROA, ROE, CAR, NPL. Untuk melihat lebih holistik lagi kinerja Bank Bukopin ini, analisa akan disertakan pula perbandingan dengan bank lain yang sekelas: BJBR, BJTM, BTPN, MAYA, dan MEGA.

BBKP - Kinerja Fundamental Bisnis dan Perbandingan dengan Kompetitor
Tabel 1. BBKP – Kinerja Fundamental Bisnis dan Perbandingan dengan Kompetitor

Nilai aset yang dikelola 107 trilyun, nomer 2 terbesar setelah BJBR. Namun equitasnya paling kecil, hanya 6,8 trilyun. Secara cepat bisa kelihatan bahwa rasio kecukupan modal (CAR)nya paling kecil, 10,52%.

Gross Margin 32,56%, Net Margin 1,41%, ROA 0,12%, ROE 2,01%, CAR 10,52. Dari semua ukuran kinerja ini, Bank Bukopin paling rendah performanya dibandingkan bank sekelas lainnya.

NPL Gross 8,54% dan NPL net 6,37%. Merupakan indikator kesehatan bank. Nilai NPL semakin tinggi menunjukkan resiko bank semakin tinggi (bank tidak sehat). Dan dari semua ukuran kinerja kesehatan ini, Bank Bukopin paling tinggi angka resikonya dibandingkan bank sekelas lainnya.

Dampak dari NPL adalah: Bank harus mencadangkan dananya untuk kemungkinan bahwa kredit yang tidak perform (NPL) tersebut tidak akan tertagih. Dan dana cadangan ini dicatat sebagai beban (pengeluaran) sehingga  berakibat pada meningkatnya beban biaya dan menurunnya laba. Hal ini sangat mirip dengan yang dialami oleh Bank Permata di mana tingginya NPL telah menggerus labanya.

Pertumbuhan Bisnis

Untuk menganalisa kinerja pertumbuhan sebuah peusahaan, angka pertumbuhan YoY (year on year) setahun terakhir tidak cukup. Perlu visibility pertumbuhan majemuk (CAGR) dalam jangka panjang. Angka-angka pertumbuhan di tabel 2 berikut ini dihitung dari data tahun 2017 mundur ke belakang sampai tahun 2008. Untuk Bank yang IPO-nya setelah 2008, maka data histori hanya sampai di tahun IPO tersebut.

BBKP - Pertumbuhan Bisnis
Tabel 2. BBKP – Pertumbuhan Bisnis

Kinerja setahun terakhir, pertumbuhan YoY sangat kecil. Dan paling kecil di antara bank-bank sekelasnya. Dari koreksi/penyesuaian laporan keuangan tahun 2016 dan 2015 memang diketahui bahwa kinerja bisnis Bank Bukopin sedang ada isue.

Dalam jangka panjang, dari sisi pertumbuhan ukuran bisnis (Aset dan Penjualan) kinerja Bank Bukopin tidaklah buruk, lebih tinggi daripada BJRM dan Bank Mega. Namun dari sisi profitabilitas, tingkat keuntungan Bank Bukopin sangat kecil sehingga berdampak pada pertumbuhan Equitas yang kecil juga. Catatan: di dalam Equitas terdapat bagian laba di tahan yang merupakan kumulasi dari semua laba yang diperoleh yang tidak dibagikan kepada share holder dalam bentuk dividen.

Kinerja Market dan Saham BBKP

Data Market Capital, PBV, PER, Harga saham. Untuk melihat lebih holistik lagi kinerja Bank Bukopin ini, analisa akan disertakan pula perbandingan dengan bank lain yang sekelas: BJBR, BJTM, BTPN, MAYA, dan MEGA.

BBKP - Kinerja Market dan Harga Saham
Tabel 3. BBKP – Kinerja Market dan Harga Saham

Dalam jangka panjang (sejak 2008 sampai 2017) rata-rata kenaikan (CAGR) harga saham BBKP adalah 15%.  Tidak fantastis. Kelihatan juga kinerja kenaikan harga saham bank-bank lain sekelasnya, memang kelas bank ini tidak fantastis kinerja sahamnya.

Di antara bank-bank sekelasnya, Market Cap saham BBKP paling kecil, hanya 5 trilyun. Dengan Equitas sebesar 6,8 trilyun, maka nilai PBV (market cap dibagi equitas) sama dengan 0,8. Nilai PBV-nya paling kecil.

Dari sisi PER, nilai PER BBKP sangat besar yaitu 39,6. Paling besar di antara bank-bank sekelasnya. Idealnya adalah nilai PER yang besar itu biasanya terjadi pada saham-saham perusahaan yang sangat menguntungkan ataupun tumbuh pesat. Namun dalam beberapa kasus, nilai PER tinggi juga terjadi pada saham perusahaan yang sedang recovery seperti BBKP ini. Kalau umumnya PER tinggi itu menunjukkan bahwa harga saham sedang mahal, maka di sini nilai PER saham BBKP tidak bisa dipakai untuk menilai (valuasi) mahal atau murahnya harga sahamnya.

Update dari Kinerja Q1 tahun 2018

Berdasarkan update data kinerja Q1 2018, dan harga saham yang jatuh sangat dalam di periode tersebut, maka nilai PBV sekarang ini (8 juni 2018) menjadi lebih kecil lagi yaitu 0,48. Itu artinya harga saham BBKP di market hanya senilai 0,48 kali dari nilai equitas (modal)nya. Murah sekali.

Nilai PER (annualized) sekarang ini jadi 6,86. Kinerja bisnis (profitability) mulai membaik sehingga nilai PER-nya tidak tinggi abnormal seperti akhir tahun 2017 lalu.

Histori Harga Saham BBKP

Penutupan harga saham pada 8 Juni 2018 adalah 382. Telah turun tajam sebesar 35% sejak awal tahun 2018. Dari grafik juga kelihatan bahwa dalam jangka panjang kenaikan harga saham BBKP tidak bagus. Sampai akhir tahun 2017 saja sebelum kejatuhan besar tersebut, CAGR harga saham (2008 – 2017) hanya 15%.

BBKP - Historical Harga Saham
Grafik 4. BBKP – Historical Harga Saham

Valuasi Harga Wajar Saham BBKP

Seperti telah dibahas sedikit di atas, untuk perusahaan dengan kinerja seperti BBKP ini di mana PBV lebih relevan daripada PER, maka metode valuasi yang paling tepat adalah metode valuasi relatif PBV. Namun mengingat kinerja Q1 2018 yang sudah mulai membaik dan nilai PER sudah mulai kembali ke normal, maka akan dihitung juga degan metode valuase PER. Cuma nanti hasil akhirnya akan memberikan bobot yang lebih kepada valuasi PBV.

Data per 8 Juni 2018

Harga Saham = 382 
PER (annualized) = 6,86
PBV = 0,48

Metode Relative PBV

Nilai rata-rata PBV yang dipakai adalah rata-rata dari tahun 2008 sampai 2017 = 0,87
Nilai CAGR BV/share yang dipakai adalah rata-rata dari tahun 2008 sampai 2017 = 7,8%

Expected Harga Saham
= Expected PBV x Expected BV/share
= Rata-rata PBV x BV/share 2017 (1 + CAGR BV/share)
= 0,87 x 744 x (1 + 7,8%)
= 698

Margin of Safety (MOS)
= (Expected Harga Saham - harga saham) / harga saham
= (698 - 382 )/382  
= 83%

Metode Relative PER

Nilai rata-rata PER yang dipakai mestinya rata-rata dari tahun 2008 sampai 2017. Namun karena PER 2017 sangat tinggi (abnormal), maka diambil rata-rata tahun 2008 sampai 2016, diperoleh rata-rata PER 5,32.

Tidak mudah untuk membuat asumsi pertumbuhan EPS karena dari data CAGR EPS-nya negatif. Maka akan kita buat pendekatan pertumbuhan EPS sebanding dengan pertumbuhan BV/Share yaitu 7,8%.

Expected Harga Saham
= Expected PER x Expected EPS
= Rata-rata PER x EPS 2017 (1 + CAGR EPS)
= 5,32 x 79 x (1 + 7,8%)
= 453

Margin of Safety (MOS)
= (Expected Harga Saham - harga saham) / harga saham
= (453- 382 )/382  
= 18%

Kombinasi Valuasi Metode Relatif PBV dan PER

Bobot lebih diberikan kepada metode relatif PBV sebesar 70%. Sementara itu metode relatif PER diberi bobot 30%. Sehingga

Kombinasi Margin of Safety (MOS)
= 70% * MOS[PBV] + 30% * MOS[PER]
= (70% * 83%) + (30% * 18%)
= 64%

Mengenal Manajemen Baru dan Bosowa Sebagai Pengendali

Bosowa merupakan sebuah perusahaan swasta nasional yang didirikan pada tahun 1973 di Makassar, Sulawesi Selatan. Nama Bosowa berasal dari nama 3 Kerajaan Bugis yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Bergerak di 6 grup usaha yaitu otomotif, semen, pertambangan dan energi, jasa keuangan, properti dan pendidikan. Selain menjalankan grup usaha intinya, Bosowa juga menjalankan sejumlah proyek perintis di bidang media, olahraga dan agrokultur. Bosowa juga melakukan kegiatan CSR di bidang pendidikan, kemanusiaan dan keagamaan, serta sosial dan kebudayaan. Untuk lebih detail bisa dibaca di webisite perusahaan dan Wikipedia.

Didirikan, dimiliki, dan dikendalikan oleh Aksa Mahmud dan keluarganya. Aksa Mahmud tercatat sebagai salah satu orang terkaya Indonesia. Aksa Mahmud juga merupakan adik ipar dari Jusuf Kalla. Jusuf Kalla yang sekarang Wakil Presin RI adalah pemilik bisnis Kalla Group. Kedua group bisnis ini, Bosowa Group dan Kalla Group, adalah konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia bagian timur.

Bosowa menguasai 30% saham BBKP secara bertahap:

  • Juni 2013. Membeli dari Yabinstra (Yayasan Bina Sejahtera Warga Bulog) dan Kopelindo. Total 14% saham senilai 1,16 trilyun atau per lembarnya 1050. Membeli dengan harga premium karena harga pasar waktu itu 800. Walaupun premium masih termasuk wajar karena PER pembelian 10x dibandingkan PER indutri Bank yang 11,5x
  • Desember 2013. Melalui right isue, per lembar 660. Total kepemilikan saham menjadi 18,57%.
  • Oktober 2014. Membeli lagi dari Kopelindo. Close harga saham Oct 2014 755. Total kepemilikan saham menjadi 22,42%.
  • April 2015. Membeli dari Kopelindo. Close harga saham April 2015 695. Total kepemilikan saham menjadi 30%.

Eksekutif dari Bosowa yang menghandle Bank Bukopin adalah Muhammad Rachmat Kaimuddin yang menjabat Komisaris sejak 2014 sampai 2018, dan Eko Rachmansyah Gindo yang menjabat Direktur Keuangan sejak 2015 sampai 2018. Kemudian Eko Rachmansyah Gindo diangkat sebagai Direktur Utama pada awal tahun 2018 dan Muhammad Rachmat Kaimuddin sebagai direktur Operasional pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Mei 2018.

Eko Rachmansyah Gindo

Bergabung Bosowa sejak tahun 2005. Sebelumnya pernah berkarir di Bank Niaga, BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan Bank Danamon. Para Bankir sukses yang telah mendidik dan menempa naluri bisnis Eko di antaranya adalah Prasetio waktu di Bank Niaga, Arwin Rasyid waktu di BBPN dan Bank Danamon, dan Jerry Ng. Dan tentu saja Eko adalah didikan Aksa Mahmud selama di Bosowa.

Awal mula Eko direkrut Bosowa adalah untuk mengembangkan investasi Bosowa di sektor Perbankan. Namun karena situasi ekonomi yang tidak memungkinkan waktu itu, akhirnya Eko diberi kepercayaan untuk membantu melakukan restrukturisasi bisnis-bisnis Bosowa. Hingga kemudian Eko menjadi Direktur Utama Semen Bosowa Indonesia.

Tahun 2012 Eko pindah dari Bosowa dan menjadi Komisaris Utama Bank Victoria Tbk (BVIC). Tidak lama kemudian menjadi Direktur Utama. Dari berbagai search di internet, diketahui bahwa Bank Victoria ini ada afiliasi dengan Jusuf Kalla, di mana Jusuf Kalla adalah kerabat Aksa Mahmud. Jadi bisa ditafsirkan bahwa kepindahan Eko ke Bank Victoria ini merupakan bentuk assignment dari Aksa Mahmud (Bosowa) kepada Eko untuk mengelola Bank Victoria.  Eko sangat dikenal public telah sukses dalam memimpin Bank Victoria.

Hingga kemudian di tahun 2015 Eko dipercaya oleh Bosowa untuk menjadi jajaran eksekutif Bank Bukopin. Profil lebih detail silahkan baca di Linkedin , Beritasatu.com, dan portal Bisnis.com.

Muhammad Rachmat Kaimuddin

Seorang eksekutif muda yang sangat pintar dan beretos kerja tinggi. Bergabung dengan Bosowa pada tahun 2014. Sebelumnya pernah menjadi konsultan di BCG dan IFC.  Pernah menjadi eksekutif di Cardig Air ServicesQuvat Management, dan Baring Private Equity Asia.  Dari informasi di Laporan Tahunan Bank Bukopin 2017, Rachmat juga menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Bosowa Corporindo and Direktur Utama PT Semen Bosowa Maros.

Dalam aktivitas sosial, Rachmat pernah menjadi Ketua Umum IKASTARA 2014-2017. Ikastara adalah Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Profil lebih detail silahkan baca Linkedin, Website Bosawa Semen, dan portal Swa.co.id.

Transformasi oleh Manajemen Baru

Mengenai case pencatatan Piutang kartu kredit Bank dan pembiayaan/piutang syariah BSB, sepertinya ini lebih karena Financial Reengineering yang dilakukan oleh Manajemen sebelumnya. Kita bisa berspekulasi banyak mengenai motivasi hal ini. Dari beberapa riset di internet, diketahui ada beberapa isu yang sempat hangat dibicarakan public seperti Kasus korupsi Bank Bukopin. Meskipun isu ini bisa diperdebatkan, namun paling tidak ini bisa menjadi bahan riset lebih lanjut mengenai Manajemen lama Bank Bukopin.

Menurut portal CNBCIndonesia, case modifikasi data kartu kredit di Bukopin telah dilakukan lebih dari 5 tahun yang lalu. Jumlah kartu kredit yang dimodifikasi juga cukup besar, lebih dari 100.000 kartu.

Bosowa mulai masuk ke Bank Bukopin pada tahun 2013. Tahun 2014 sudah menempatkan Rachmat sebagai komisaris. Dan Tahun 2015 ketika menjadi pemegang saham mayoritas menempatkan Eko sebagai Direktur. Apakah waktu itu Bosowa belum mengetahui modus case Kartu Kredit ini? Bisa iya bisa tidak.  Jika tidak, mungkin memang butuh waktu untuk mengetahuinya. Melihat informasi bahwa Bosowa membeli saham Bukopin pada tahun 2013 dengan harga premium, mengindikasikan bahwa Bosowa tidak tahu akan modus case tersebut.

Seiring masuknya Eko menjadi Direktur di tahun 2015, pelan-pelan Bosowa mungkin mulai mengetahui modus case ini. Namun Bosowa tidak bisa mengambil keputusan penting karena pimpinan tertinggi perusahaan masih dipegang oleh Manajemen lama. Dalam industri perbankan, pemegang saham mayoritas tidak bisa serta merta langsung memegang kendali perusahaan karena berkaitan dengan ijin dari OJK dan lain-lain. Makanya butuh waktu 3 tahun buat Bosowa untuk bisa menempatkan orangnya menjadi Direktur Utama.

Bangkit dari Krisis

Kondisi Krisis ini sebenarnya tidak pernah disebut oleh Manajemen baru. Namun saya sebagai investor pasar modal bisa membaca adanya krisis di Bank Bukopin ini. Bertahun-tahun kinerja perusahaan tidak bagus, terlihat dari profitabilitas yang paling kecil jika dibandingkan dengan bank-bank lain yang sekelas. Adanya krisis semakin terlihat dengan diumumkannya case pencatatan Piutang kartu kredit Bank dan pembiayaan/piutang syariah BSB.

Semangat transformasi Bank Bukopin terasa sangat kuat sejak Eko memegang tampuk pimpinan tertinggi sebagai Direktur Utama. Expose ke public tentang kesalahan dan koreksi Laporan Keuangan tahun 2016 dan 2015 sangat kuat mengindikasikan semangat tersebut.

Membuat Strategi Andalan Tahun 2018

Bank Bukopin menyampaikan strateginya ke public melalui Press Release pada April 2018 lalu. Detailnya silahkan baca Bank Bukopin Siapkan 7 Strategi Andalan Tahun 2018.

  1. Peluncuran Flexy Bill
  2. Peningkatan penyaluran pembiayaan properti
  3. Memacu promo kartu kredit
  4. Memperkuat sinergi pembiayaan kendaraan bermotor
  5. Tabungan Digital Wokee
  6. Program kredit personal
  7. BNV Labs

Sesuai dengan tag Laporan Tahunan 2017, yang saya qoute di bawah logo di awal artikel ini “Kualitas, Efesiensi, Digitalisasi”. Bank Bukopin tengah mentransformasikan dirinya untuk menjadi Bank yang unggul.

Peluang Investasi Saham dari Perusahaan yang Bangkit dari Krisis (Turnover)

Dengan Valuasi harga saham yang sangat murah. Penghitungan Margin of Safety yang cukup besar (64%) sebagai bantalan keamanan investasi. Dan Manajemen baru yang sedang mentransformasi bisnis perusahaan. Juga kinerja Q1 2018 yang mulai membaik. Menjadikan investasi saham BBKP sangat menarik.

Peter Lynch, salah satu guru investasi terbesar, menekankan bahwa salah satu sumber hasil investasi yang multi bagger (naik berkali lipat)  didapatkan dari perusahaan turnover. Perusahaan turnover, perusahaan yang sedang jatuh dan harga sahamnya jatuh lebih dalam lagi, menawarkan peluang hasil investasi yang besar jika perusahaan sukses melakukan recovery dan berbalik arah menuju perbaikan.

Berkaca dari pelajaran masa lalu. Pada Oktober 2008 harga terendah saham BBKP adalah 141. Dan pada Mei 2013 harga saham tertingginya adalah 890. Dalam waktu kurang dari 5 tahun harga saham naik dari 141 menjadi 890 menjadikan pencapaian kinerja harga saham sebesar 531% atau CAGR 45%. Sangat fantastis.

Catatan terakhir. Kualitas manajemen perusahaan adalah salah satu faktor paling penting dalam menimbang keputusan investasi. Manajemen yang baru, sangat diharapkan untuk bisa membawa Bank Bukopin melakukan recovery dan selanjutnya melanjutkan kinerja bisnis yang bagus. Saham BBKP sekarang sedang saya pertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam portfolio InvestorSadar.

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

5 tanggapan pada “Analisa Bank Bukopin (BBKP) – Bangkit dari Krisis”

  1. Kalau memang management $BBKP menerapkan prinsip kehati-hatian dari awal, kesalahan akibat modikasi kartu kredit dan yang lain lain itu tidak akan pernah terjadi. saya kira tidak ada prinsip kehati-hatian dari awal, dan sayang nya, alih-alih “mengaku salah” atas apa yang terjadi, management bbkp terlihat membuat pembelaan atas apa yang terjadi, dan itu kurang gentle, in my opinion..

    1. Thanks Pak untuk feedbacknya. Memang melihat case ini, kelihatan sekali bahwa prinsip kehati-hatiannya sangat kurang. Namun setidaknya kelihatan bahwa manajemen baru (Dirut yang baru diangkat awal tahun 2018 ini) lebih baik daripada manajemen lama, di mana perbaikan laporan keuangan ini dilakukan oleh manajemen yang baru. Ada harapan perbaikan di sini.

      Walau mungkin terkesan ada pembelaan atas apa yang terjadi, tetep saja bahwa perbaikan laporan keuangan itu sangat menunjukkan adanya perbaikan.

  2. wow salut dengan penjelasan bapak yang sangat detail…memang “perbaikan” laporan keuangan yang dilakukan Bukopin sangatlah menurut saya di luar kewajaran..ada bank yang diawasi oleh begitu banyak institusi mulai dari BI, OJK melakukan kesalahan yang kurang elegan. Hal ini membuat saya tidak terlalu mengamati bank ini lagi terlebih mereka mau rights issue. Awalnya BBKP termasuk dividen income stock bagi saya tapi saat ini liat sikon aja dlu. Penjelasan balak sangat detail salut pak 👍

Tinggalkan Balasan