Analisa Fundamental AKR Corporindo (AKRA) – Kembali ke Core Business

Logo Akra
PT AKR Corporindo Tbk, kode saham AKRA. Go public sejak 1994. Didirikan dengan nama PT Aneka Kimia Raya oleh Soegiarto Adikoesoemo pada tahun 1977, yang sekarang menjadi presiden komisaris. Manajemen sekarang dipimpin oleh Haryanto Adikoesoemo, sang anak, sebagai Direktur Utama. Menurut Forbes, Soegiarto saat ini menjadi orang terkaya no#25 di Indonesia dengan total kekayaan US$1,35 milyar atau setara 18 trilyun rupiah lebih.

Pemegang saham adalah PT Arthakencana Rayatama (milik keluarga Adikoesoemo) 58,47%, manajemen 0,58%, dan public 40,95%. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan besar dan bagus kebanyakan dikendalikan oleh perusahaan keluarga seperti AKRA ini.

Tulisan ini akan membahas hal-hal berikut:

  • Bidang Usaha (Segmen bisnis) AKRA
  • Kembali ke Core Bisnis – Divestasi non Core Bisnis
  • Analisa Kinerja Perusahaan
  • Analisa Kenerja per Segmen
  • Analisa Pertumbuhan
  • Analisa Kinerja Market AKRA
  • Valuasi dengan Metode Relative PER
  • Apakah Rugi dari bisnis distribusi BBM subsidi?
  • Kesimpulan

Bidang Usaha (Segmen bisnis) AKRA

  1. Utama(core): Perdagangan dan Distribusi Kimia Dasar. Berkontribusi 25% revenue, per 2017. Ini adalah bidang usaha yang paling dulu dirintis.
  2. Utama: Perdagangan dan Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM).
    Sejak tahun 2005, sebagai ekspansi atas keberhasilannya di sector Kimia Dasar. Untuk pasar industry dan retail. Productnya baik BBM subsidi maupun non subsidi. Meliputi solar, bensin RON 92, oli bahan bakar, dan oli industry. Berkontribusi 66% revenue.
  3. Utama: Jasa logistic. Berkontribusi 3% revenue.
  4. Manufacturing (pabrikan). Product-nya adalah perekat untuk industry kayu dan kertas. Berkontribusi 3% revenue.
  5. Kawasan Industri dan Pelabuhan. Berkontribusi 3% revenue.
  6. Kerjasama dengan British Petroleum (BP) untuk mengembangkan BBM ritel non-subsidi, dan BBM untuk penerbangan (aftur). Akan beroperasi di tahun 2018.

Kembali ke Core Bisnis – Divestasi non Core Bisnis

Dengan tujuan strategis untuk focus dan mengembangkan bisnis utamanya (core), AKRA melakukan divestasi bisnisnya di China, meliputi jasa logistic (angkutan dan pelabuhan) dan pabrik Khalista yang memproduksi sorbitol. Selain itu juga mendivestasi bisnis batubara PT Bumi Karunia Pertiwi. Semua proses divestasi ini dimulai 2017 dan akan selesai 2018.
Strategi pertumbuhan untuk tahun 2018 dan ke depannya adalah: mulai beroperasinya partnership dengan BP untuk membuka POM Bensin (fuel retail outlet), mempertahankan kinerja bisnis Kimia Dasar, melakukan konsolidasi bisnis BBM, dan meningkatkan penjualan dari Kawasan industry.

Sumber informasi dari Laporan Tahunan AKRA 2017 dan Corporate Press.

Analisa Kinerja Perusahaan

Data-data Laporan Keuangan meliputi: Balance sheet (total Asset, Current Asset, Fixed Asset, Total Liabilitas, Liabilitas jangka pendek, Liabilitas jangka panjang, Equitas), Laporan laba-rugi (Pendapatan, Laba kotor, Laba usaha, Laba sebelum pajak, Laba bersih), Cash Flow (Operating Cashflow, Investing Cashflow, Financing Cashflow, Free Cashflow, Cash awal tahun, Cash akhir tahun), dan Rasio-rasio (Gross Margin, Net Margin, Asset Tunrover, Financial Leverage, ROA, ROE, DER, Payable period, Receivable period).

Sebagai referensi, silahkan baca artikel berikut untuk istilah-istilah, dasar-dasar analisa laporan keuangan, dan metode valuasi saham:

Catatan:
Untuk Equitas, Laba Bersih, dan ROE adalah tambahan (induk), itu adalah nilai yang diatribusikan kepada AKRA sebagai entitas induk dari anak-anak perusahaannya setelah dikurangi untuk kepentingan non pengendali. Dari perspektif pemegang saham, nilai inilah yang akan dipakai untuk mengukur kinerja (seperti mengukur EPS, PER, dan PBV) karena kepentingan non pengendali bukan merupakan dari bagian share holder. Biasanya kepentingan non pengendali ini kecil makanya sering diabaikan; karena di case AKRA ini besar oleh karena itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Data Laporan Keuangan AKRA 2008 – 2017
Tabel 1. Data Laporan Keuangan AKRA 2008 – 2017

In summary, ROE(induk) 16% itu cukup bagus. Bedakan ROE dan ROE(induk), lihat lagi catatan di atas tabel 1. Secara lebih detail, kinerja ROE bisa di-breakdown dengan melihat kinerja Net Margin, Asset Turnover, dan Financial Leverage.

Perusahaan juga mampu meningkatkan efektivitas modal kerja dengan mengeksploitasi selisih antara receivable period dan payable period, lihat juga Analisa Fundamental Unilever yang membahas ini lebih panjang lebar.

Analisa Kenerja per Segmen

Kinerja Per Segment
Tabel 2. Kinerja Per Segment

Dilihat dari ROA dan ROE, segment Perdagangan dan Distribusi memberikan return/laba yang sangat besar. Bandingkan dengan Logistik dan Manufacturing. Divestasi Logistic dan Manufacturing dari bisnis di china tentunya mempunyai dasar yang sangat kuat kalau dilihat dari perspektif ini. Sementara itu, ada prospek yang besar di segment Kawasan Industri yang memberikan margin yang sangat besar.

Analisa Pertumbuhan

Pertumbuhan Bisnis AKRA
Tabel 3. Pertumbuhan Bisnis AKRA

Lihat pertumbuhan pendapatan (penjualan), dalam jangka 9 tahun tumbuh rata-rata (CAGR) 8% per tahun. Angka pertumbuhan yang masih tergolong bagus mengingat sebagian besar pendapatan berasal dari bisnis Perdagangan dan Distribusi yang sudah mature. Pertumbuhan laba bersih (23%) dan laba usaha (10%) yang lebih besar dari pada pertumbuhan laba kotor (7%), itu juga menunjukkan hal yang bagus, di mana perusahaan semakin efesien dalam menghasilkan laba. Meskipun perlu dicatat bahwa laba bersih banyak mendapat kontribusi dari divestasi, namun tetap bahwa laba usaha lebih besar daripada laba kotor.

Analisa Kinerja Market AKRA

Analisa Kinerja Market AKRA
Tabel 4. Analisa Kinerja Market AKRA

Harga saham memberikan return pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) selama 9 tahun sebesar 28%, di luar dividen saham yang beberapa tahun terakhir ini lebih dari 30% dari laba bersin (dividend payout ratio). Ini adalah angka return yang besar untuk investor saham, bandingkan dengan return rata-rata investasi di saham Indonesia yang sebesar 18%.

Historical Harga Saham AKRA
Grafik Historical Harga Saham AKRA

Dalam setahun terakhir, di bulan Oktober 2017 harga saham tertinggi adalah 8025. Per sekarang (4 Mei 2018) harga saham turun 44% menjadi 4510. Sebuah gap yang sangat besar. Untuk kembali ke harga 8025 dari 4510, ada opportunity gain sebesar 78%. Menarik.

Valuasi dengan Metode Relative PER

Menggunaka data 2008-2017

Harga Saham akhir 2017: 6350
Rata-rata PER (2008-2017): 18.5
Rata-rata Growth EPS: 15%
EPS 2017: 300

Ekspektasi Harga Saham 2018

= Rata-rata PER x Ekspektasi EPS 2018
= Rata-rata PER x EPS 2017 x (1+ Growth EPS)
= 18.5 x 300 x (1+15%)
= 6,386

Margin of Safety (MOS)

= (Intrinsic Value - Harga Saham) / Harga Saham
= (6386-6350)/6350
= 1%

Menggunakan data terkini (Dengan Update Data Laporan Keuangan Q1 2018)

Harga Saham 4 Mei 2018: 4510
Current PER TTM: 9.65
Rata-rata PER (2008-2018 TTM): 17.7
Rata-rata Growth EPS: 15%
EPS 2018 TTM: 285

Catatan: Kinerja Q1 2018, EPS TTM: 467. Di periode ini ada penerimaan yang besar dari pemasukan Divestasi sebesar 729B, dibagi jumlah saham 4B menjadi 182/share. Karena ini adalah pendapatan non rutin, maka untuk valuasi ini akan saya keluarka dari EPS. Sehingga EPS yang dipakai untuk valuasi = 467-182 = 285.

Ekspektasi Harga Saham

= Rata-rata PER x Ekspektasi EPS
= Rata-rata PER x EPS 2018TTM x (1+ Growth EPS)
= 17.7 x 285 x (1+15%)
= 5,808

Margin of Safety (MOS)

= (Intrinsic Value - Harga Saham) / Harga Saham
= (5808-4510)/4510
= 29%

Jadi, dengan melihat kinerja Q1-2018 dan harga saham saat ini (per 4 Mei 2018) 4510, dan valuasi harga wajar saham AKRA adalah 5808, sehingga memberikan margin of safety 29%.

Seandainya hasil pemasukan Divestasi itu tidak di-exclude dari perhitungan, maka dengan EPS TTM: 467 akan memberikan nilai harga dan margin of safety yang lebih besar.
harga wajar saham AKRA

= 17.7 x 467 x (1+15%)
= 9510

Margin of Safety

= (9510-4510)/4510
= 111%

Apakah Rugi dari bisnis distribusi BBM subsidi?

Catatan: bagian ini ditambahkan sebagai respon atas komentar dari Dimastio di bagian komentar terhadap artikel ini. Terima kasih rekan Dimastio untuk feedback-nya.

Telah disampaikan oleh Manajemen bahwa AKRA merugi dari bisnis distribusi BBM subsidi.

Tentang kerugian mendistribusikan BBM subsidi, AKRA sudah menyampaikan bahwa secara umum AKRA masih mendapatkan untung dari bisnis distribusi BBM secara keseluruhan (non subsidi dan subsidi) karena porsi BBM subsidi hanya 10% dari total BBM yang didistribusikan oleh AKRA.

Analisa saya, sejak awal kontrak dengan pemerintah tentang distribusi BBM subsidi ini, tentunya sudah dihitung trade-off nya, di mana AKRA berpotensi mendapatkan kerugian dari BBM subsidi namun tetap mendapatkan untung dari BBM non subsidi. Ada potensi kerugian (yang sekarang terjadi) pada distribusi BBM subsidi, namun itu dikompensasi oleh keuntungan dari distribusi BBM non subsidi.

Situasi ini mirip dengan yang dialami oleh Pertamina yang juga rugi dalam bisnis distribusi BBM subsidi ini, bahkan angkanya sangat besar sekali. Namun pemerintah telah menyatakan bahwa secara Company (bukan cuma dari sisi distribusi BBM subsidi saja) Pertamina mendapatkan kompensasi dari Pemerintah untuk mengelola Blok Mahakam yang menguntungkan Pertamina.

Terasa ada kekurangjelasan dalam bisnis modelnya, karena adanya deal-deal khusus dengan pemerintah misalnya tentang seberapa besar persentase BBM non subsidi atas keseluruhan BBM (subsidi + non subsidi) yang didistribusikan oleh AKRA. Namun jika AKRA mampu membuat deal (negosiasi) dengan pemerintah, kekurangjelasan ini justru bisa membawa peluang.

Kesimpulan

Harga saham di awal tahun 2018 ini jatuh, sebagai lanjutan dari kejatuhan sejak akhir 2017. Divestasi yang menghasilkan nilai penjualan aset besar sehingga menyebabkan angka laba tinggi, tidak menjadikan harga saham naik bahkan turun. Mungkin ini berkaitan dengan respons negatif market atas divestasi. Juga mungkin berkaitan dengan berita meruginya AKRA dari bisnis distribusi BBM subsidi.

Overall dengan harga yang saat ini memberikan nilai PER yang lebih rendah daripada PER tahun 2017 dan tahun-tahun sebelumnya, dan juga valuasi yang memberikan Margin of Safety yang lumayan, saya berencana untuk menjadikan saham AKRA sebagai bagian dari portfolio InvestorSadar.

Komitmen perusahaan untuk kembali fokus ke core business, di mana selama ini yang memberikan keuntungan yang lebih besar, memberikan tambahan alasan untuk ambil bagian sebagai pemegang saham perusahaan ini.

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

11 tanggapan pada “Analisa Fundamental AKR Corporindo (AKRA) – Kembali ke Core Business”

  1. Akhir-akhir ini asing banyak jual saham ini ya Mas Somad, sehingga harga saham nya jatuh. Mungkin strategi kembali ke core business kurang disukai oleh asing ya Mas?

    1. Anything possible, Mas. Thanks untuk feedbacknya. Namun untuk term jangka panjang, fluktuasi asing keluar-masuk mungkin tidak akan terlalu merisaukan.

  2. Harga akra terus merosot..?
    Kondisi terakhir 2018q1 nyatanya laba operasi nya turun, dan akan semakin turun.
    Contoh sederhana ratusan miliar rupiah yg ditanggung akra atas biaya subsidi yg tidak bisa ditagih ke pemerintah..
    Hal ini terjadi karena biaya subsidi pemerintah hanya 500 per liter sedangkan harga jual – cogs sdh minus 5200an per liter, artinya rugi rp 4700 an per liter.
    Penjualan sebulan bbm subsidi 20.000.000 ltr.
    Kerugian 2018q1 dr solar subsidi sj diperkirakan
    3x4700x20 juta = 282 miliar an..

    1. Thanks pak untuk feedbacknya. Kondisi ini sepertinya sudah price-in di harga sekarang ya. Tapi memang tetep, masa depan bisnisnya tidak terlalu cerah. Ada trade off antara murahnya harga sekarang dengan opportunity masa depan bisnisnya.

      Tentang kerugian mendistribusikan BBM subsidi, AKRA sudah menyampaikan bahwa secara umum AKRA masih mendapatkan untung dari bisnis distribusi BBM secara keseluruhan (non subsidi dan subsidi) karena porsi BBM subsidi hanya 10% dari total BBM yang didistribusikan oleh AKRA. Sejak awal kontrak dengan pemerintah tentang distribusi BBM subsidi ini, tentunya sudah dihitung trade-off nya, di mana AKRA berpotensi mendapatkan kerugian dari BBM subsidi namun tetap mendapatkan untung dari BBM non subsidi.

      Situasi ini mirip dengan yang dialami oleh Pertamina yang juga rugi dalam bisnis distribusi BBM subsidi ini, bahkan angkanya sangat besar sekali. Namun pemerintah telah menyatakan bahwa secara company (bukan cuma dari sisi distribusi BBM subsidi saja) Pertamina mendapatkan untung dari penunjukan oleh Pemerintah untuk mengelola Blok Mahakam.

      Memang bisnis modelnya tidak terlalu jelas, butuh deal-deal khusus dengan pemerintah.

      1. Allo Mas Rohmad,
        Mantab kali web nya…thanks utk review AKRA nya
        btw maksud nya masa depan bisnis ini tidak cerah gimana yah Mas…kebetulan saya pegang AKRA dengan porsi 10% dari portofolio saya avg price di 4500
        bukan kah distribusi kimia dasar n & BBM akan selalu di perlukan di industri

        Thanks
        Manto

        1. Semangat AKRA untuk kembali ke core business, saya sebut itu sangat bagus. Focus ke bisnis yang sangat dikuasai.

          Penegasan saya, tentang masa depan yang tidak terlalu cerah itu adalah pada bisnis distribusi BBM. Ada potensi kerugian (yang sekarang terjadi) pada distribusi BBM subsidi, namun itu dikompensasi oleh keuntungan dari distribusi BBM non subsidi.

          Nah, yang tidak terlalu jelas adalah bisnis modelnya, karena adanya deal-deal khusus dengan pemerintah misalnya tentang seberapa besar persentase BBM non subsidi atas keseluruhan BBM (subsidi + non subsidi) yang didistribusikan oleh AKRA.

          Dari sisi distribusi kimia, AKRA tidak ada isu.

          Secara umum, dengan harga saham AKRA yang sekarang ini, saya menilainya menarik. Saat ini AKRA sudah menjadi bagian dari portfolio saya meskipun dengan jumlah yang sedikit.

  3. Halo Mas Rohmad,
    Mohon komentar terkini mengapa harga AKRA turun terus per hari ini..? Apa yg terjadi? Terimakasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan