Analisa Fundamental Astra International (ASII) – Besar dan Mature

Logo Astra
Sumber gambar: website Astra

Salah satu perusahaan Blue Chip terbaik di Indonesia. Nilai asset dan Market Cap sangat besar. Pertumbuhan penjualan sudah tidak fantastik lagi. Saham ASII dengan harga yang sekarang, masih belum menarik untuk dijadikan investasi. Kita mesti menunggu waktu yang sangat tepat untuk memberikan kesempatan mendapatkan harganya yang lebih murah.

Didirikan pada tahun 1957 oleh William Soerjadjaja. Go Public tahun 1990, kode saham ASII. Penjelasan dan sejarah tentang Astra secara sederhana bisa dibaca di Wikipedia.  William Soerjadjaja tidak lagi menjadi pengendali Astra ketika tahun 1993 menjual sebagian besar sahamnya. Saat ini pemegang sahamnya adalah Jardine Cycle & Carriage Limited 50,11% dan masyarakat 49,89%.

Segment Bisnis , atau Struktur Group Astra meliputi:

  • #1. Otomotif: Mobil (Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Peugeot, BMW), sepeda motor (Honda), Komponen (Astra Otoparts idx.AUTO), Lain-lain (Astra World)
  • #2. Jasa keuangan/Financial services: Pembiayaan Mobil (ACC, TAF), Pembiayaan Motor (FIF Group), Pembiayaan alat berat (SANF, Komatsu), Asuransi (Astra Life, Asuransi Astra), Perbankan (Bank Permata idx.BNLI).
  • #3. Alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi: Mesin Konstruksi (United Tractor idx.UNTR, Acset Indonusa idx.ACST, Kontraktor Pertambangan (PAMA), Pertambangan (Tuah Turangga Agung)
  • #4. Agribisnis: Astra Agro Lestasi (idx.AALI)
  • #5. Infrastruktur dan logistik: Jaringan Infrastructure (Astra Infra), Jaringan Logistik (Serasi Autoraya)
  • #6. Teknologi informasi (IT): Astragraphia (idx.ASGR)
  • #7. Property: Menara Astra, Astra Land, Brahmayasa, dll

Kinerja Bisnis per Segmen dan Konsolidasi tahun 2017

Data meliputi: Revenue, net profit, asset, liabilitas, ekuitas, ROE, net margin, asset turnover, financial leverage, growth, revenue share, dan asset share.

ASII - Kinerja per Segmen tahun 2017
Tabel 1. ASII – Kinerja per Segmen tahun 2017

Review Kinerja, diurutkan berdasarkan kontribusi profit:

  • Segment #1 Otomotif yang paling menguntungkan dengan ROE 23%, kontribusi profit 39%, kontribusi revenue 46%, dan kontribusi asset 23%.
  • Segment #3 Alat Berat ROE 16%, kontribusi profit 34%, kontribusi revenue 31%, dan kontribusi asset 27%.
  • Segment #2 Jasa Keuangan ROE 13%, kontribusi profit 17%, kontribusi revenue 9%, dan kontribusi asset 31%. Aset paling besar dengan komposisi liabilitas terbesar, ini adalah wajar di industri keuangan (perbankan) karena banyak menghimpun dana nasabah sebagai liabilitas.
  • Segment #4 Agribisnis ROE 11%, kontribusi profit 9%, kontribusi revenue 8%, dan kontribusi asset 8%.
  • Segment #6 Teknologi Informasi ROE 19%, kontribusi profit 1%, kontribusi revenue 2%, dan kontribusi asset 1%.
  • Segment #7 Property ROE 3%, kontribusi profit 1%, kontribusi revenue <1%, dan kontribusi asset 3%.
  • Segment #5 Infrastruktur dan logistik ROE -1%, kontribusi profit -1%, kontribusi revenue 4%, dan kontribusi asset 7%.
  • Kinerja konsolidasi Astra ROE 15%

Kinerja Historical Fundamental Bisnis dari tahun 2008 – 2017

Data Laporan keuangan meliputi Asset, Liabilitas, Ekuitas, pendapatan/penjualan/revenue, laba kotor, laba usaha, laba bersih. Rasio-rasio meliputi gross margin,  net margin, ROA, ROE, Assest turnover, Financial Leverage, DER, payable period, Receivable period. Keterangan (induk) pada ekuitas, laba bersih, dan ROE itu menunjukkan nilai yang diatribusikan kepada entitas induk (dalam hal ini adalah pemegang saham Astra) setelah dikurangi dengan nilai untuk non pengendali.

ASII - Kinerja Historical Fundamental Bisnis
Tabel 2. ASII – Kinerja Historical Fundamental Bisnis

Analisa yang pertama kali dilihat adalah ROE. Dari tahun ke tahun ROE menurun. Dengan teknik analisa Dupont, ROE bisa dibreakdown lagi komponen-komponennya yaitu Net Margin, Asset Turnover, dan Financial Leverage. Dari tabel 2 di atas bisa dilihat bahwa selama bertahun-tahun perusahaan mampu menjaga Margin (baik gross maupun net) dan Financial Leverage (struktur permodalan) tetap stabil. Idealnya, perusahaan yang bagus adalah yang marginnya naik dari waktu ke waktu. Namun karena Astra ini sudah mature, bukan lagi perusahaan tumbuh, maka mampu mempertahankan margin saja sudah cukup lumayan.

Sementara itu, terjadi penurunan Asset Turnover yang sebanding dengan penurunan ROE. Asset turnover (Revenue/Asset) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menciptakan revenue, kadang disebut juga “omset yang likuid”. Dari sisi bisnis, ini memang menunjukkan telah terjadi penurunan competitive advantage. Cuma perlu dilihat lagi, di segment bisnis yang mana yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Sepertinya ini lebih dikarenakan segment keuangan (lebih khusus lagi Bank Permata), dari tabel 1 di atas diketahui bahwa asset segment keuangan paling besar (31%) sementara itu revenue hanya 9%.

Pertumbuhan Fundamental Bisnis

Data berikut adalah CAGR 1 tahun sampai 9 tahun, di mana acuannya adalah tahun 2017 ke belakang.

ASII - Pertumbuhan rata-rata (CAGR)
Tabel 3. ASII – Pertumbuhan rata-rata (CAGR)

Untuk melihat pertumbuhan, yang paling penting adalah pertumbuhan jangka panjang, dari tabel 3 di atas data terpanjang adalah 9 tahun. Lihat nilai CAGR 9 tahun, pertumbuhan pendapatan (9%) jauh di bawah pertumbuhan asset (16%), sehingga asset turnover semakin lama semakin mengecil (seperti yang telah dibahas di atas). Untuk mengejar pertumbuhan pendapatan dibutuhkan pertumbuhan asset yang lebih besar, menunjukkan perusahaan semakin tidak efesien. Dari sisi pertumbuhan laba (11%), memang lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan, namun tetap saja pertumbuhan asset adalah paling besar.

Untuk pertumbuhan CAGR 1 tahun, itu adalah pertumbuhan YoY dari 2016 ke 2017. Memang sangat tinggi dan sangat ideal di mana pertumbuhan laba lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan, dan pertumbuhan pendapatan lebih besar daripada pertumbuhan asset. Jadi kenerja bisnis tahun 2017 mulai membaik.

Kinerja Market dan Harga Saham

ASII - Pertumbuhan rata-rata Harga Saham
Tabel 4. ASII – Pertumbuhan rata-rata Harga Saham

Kinerja harga saham terbaiknya terjadi pada tahun 2009 (229%). Itu terjadi setelah market crash pada tahun 2008. Menjadi pelajaran buat kita, bahwa setelah terjadi market crash maka akan diikuti dengan kenaikan harga saham yang luar biasa. Memang setelah tahun 2009 kenaikan harga saham mulai tidak fantastis lagi, namun tetap saja selama sembilan tahun memberikan pertumbuhan majemuk (CAGR) 26%, termasuk luar biasa.

ASII - Historical Harga Saham
Graphic 5. ASII – Historical Harga Saham

Pasca terjadinya krisis 2008, harga saham melonjak tinggi sampai tahun 2011. Namun ini tidak semata-mata karena situasi psikologis market saham semata, kinerja bisnis pun (dari nilai ROE)  memang sangat tinggi sampai tahun 2011.

Valuasi Harga Saham ASII

Mari kita pakai metode valuasi Relative PER. Dari tahun 2008 sampai 2017:

  • rata-rata PER adalah 14,7.
  • EPS tahun 2017 adalah 466
  • Pertumbuhan/CAGR EPS = CAGR laba bersih = 11%

Ekspektasi Harga Saham 2018
= Rata-rata PER x EPS ekspektasi 2018
= Rata-rata PER x EPS 2017(1+CAGR)
= 14,7 x 466 x (1+11%)
= 7604

Data terakhir per 28 Mei 2018

  • Harga Saham: 7175
  • PER (annualized): 14,6

Margin of Safety
= (Ekpektasi Harga-Harga)/Harga
= (7604-7175)/7175
= 6%

Margin of Safety lumayan kecil, hanya 6%. Ini berarti di harga yang sekarang ini, saham ASII harganya tergolong wajar.

Kesimpulan

Dengan ukuran bisnis yang sangat besar (tahun 2017 Asset 296 trilyun dan market cap 336 trilyun) dan pertumbuhan yang lamban (CAGR pendapatan 9%) menjadikan Astra sebagai perusahaan raksasa yang sudah mature. Pertumbuhan perusahaan yang sudah mature memang berada di sekitar angka segitu.

Profitabilitas Astra sudah termasuk bagus, di mana pertumbuhan laba (CAGR 11%) lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan (CAGR 9%). Namun pertumbuhan asset yang jauh lebih tinggi lagi (CAGR 16%) ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak terlalu efektif dalam mengelola assetnya, di mana dibutuhkan pertumbuhan asset sebesar 16% untuk menumbuhkan pendapatan yang hanya 9%.

Dengan harga sekarang yang memberikan Margin of Safety (MOS) hanya 6%, menjadikan saham ASII tidak terlalu menarik untuk investasi. Harga sahamnya wajar, namun bisnisnya tidak wonderful. Namun karena ini perusahaan yang sangat kuat, tentunya akan relatif tahan terhadap berbagai krisis, sehingga akan tetap memberikan peluang investasi jika harganya jatuh sangat rendah. Saya akan meng-consider untuk mulai invest saham ASII jika memberikan MOS paling tidak 40%.

Catatan terakhir. Sebagai perusahaan konglomerasi yang segment bisnisnya sangat luas, untuk analisa yang lebih detail memang mesti menganalisa per segmentnya. Riset selanjutnya adalah melakukan analisa pada perusahaan-perusahaan tbk di bawah Astra (AUTO, UNTR, BNLI, AALI, ASGR, dan ACST). Juga melakukan valuasi harga wajar (nilai intrinsik) saham ASII dengan metode Discounted Free Cashflow (DFCF).

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan