Analisa Fundamental Garuda Indonesia (GIAA) – Bisnis yang Tidak Menguntungkan

Bisnis Garuda Indonesia (kode saham GIAA) sangat tidak menguntungkan, bisa dilihat dari analisa data-data laporan keuangannya. Bagi investor yang membeli sahamnya di bursa, juga tidak menguntungkan, karena sejak IPO sampai saat artikel ini ditulis, harga saham GIAA turun. Yang beruntung mungkin hanya beberapa trader saham yang memanfaatkan momentum jangka pendek saja. Daya tarik Garuda bukan di kinerja (baik bisnis maupun sahamnya) yang menguntungkan, tapi dari ramainya pembicaraan karena menyangkut pelayanan public yang sangat penting. Isu kecil saja terjadi, maka akan langsung menuai polemik di media-media.

Karena tulisan berikut ini lumayan panjang, maka perlu saya rangkumkan pokok-pokok isinya:

  • Tentang Garuda Indonesia dan Industri Penerbangan
  • Ringkasan Laporan Keuangan Garuda Tahun 2011 sampai 2018
  • Analisa Profitability dan Analisa Pertumbuhan
  • Analisa Kinerja Market dan Valuasi harga saham GIAA
  • Penyebab utama Garuda Indonesia dan Industri Penerbangan tidak menarik bagi Investor
  • Adakah Harapan Masa Depan Garuda untuk Lebih Baik?
  • Ulasan khusus: Dugaan manipulasi laporan keuangan 2018

Logo Garuda Indonesia (GIAA)

1. Tentang Garuda Indonesia dan Industri Penerbangan

Tentang sejarah dan perjalanannya, bisa dibaca lebih detail di wikipedia dan website perusahaan. Go public pada Februari 2011. Kepemilikan saham saat ini adalah Pemerintah Republik Indonesia 60,54%, PT Trans Airways 25,62%, dan public 13,85%. Segment usaha meliputi Penerbangan dengan revenue share 90%, pemeliharaan (maintenance) pesawat revenue share 3%, dan lain-lain (Travel, Food, hotel, transportasi, dll) 7%.

Di segment penerbangan, Garuda mengusai pangsa pasar (market share) terbesar untuk penerbangan internasional, dan nomor dua terbesar (setelah Lion Air) untuk penerbangan domestik. Lihat data market share di tabel 1 di bawah ini.

GIAA - Market Share Perusahaan Penerbangan di Indonesia
Tabel 1. Market Share berdasarkan jumlah penumpang Perusahaan Penerbangan di Indonesia (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Nam Air, Lion air, Batik Air, Wings Air, Air Asia Indonesia, Air Asia X Indonesia, Kal Star, Express Air, Trans Nusa, Susi Air). Dengan kelas (segment) layanan FSA (Full Service Airline), Medium, dan LCC (Low Cost Carrier). Sumber data dari BPS tahun 2018 untuk penerbangan domestik, dan BPS tahun 2017 untuk penerbangan internasional.

Di antara semua perusahaan penerbangan di atas, yang merupakan perubahaan public hanya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan kode saham GIAA dan PT AirAsia Indonesia Tbk dengan kode saham CMPP. Sementara itu Lion Air dikabarkan sedang mempersiapkan untuk go public.

2. Ringkasan Laporan Keuangan Garuda Tahun 2011 sampai 2018

Untuk memahami angka-angka ini, kita harus faham dasar-dasar laporan keuangan. Silahkan baca artikel-artikel berikut ini:

GIAA - Ringkasan Laporan Keuangan Tahun 2011 sampai 2018
Tabel 2. Kinerja GIAA – Ringkasan Laporan Neraca (Aset, Liabilitas, Equitas), Laporan Rugi-laba (Pendapatan/revenue, Laba Usaha, laba bersih/net profit), dan Laporan Cash Flow (Operating, investing, Financing, dan Cash akhir periode).

Dengan nilai aset yang di atas 60 trilyun tersebut (lihat tabel 2), Garuda menempati urutan ke-30 besar di antara perusahaan terbuka di Indonesia. Dengan total pangsa pasar domestik dan internasional (lihat tabel 1) Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia.

2.1. Analisa Profitability (Kemampuan Menghasilkan Profit)

Ukuran utama dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan adalah ROE, di mana ROE bisa di-breakdown ke dalam Net Margin, Asset turnover, dan Financial Leverage.

GIAA - Rasio Kinerja Bisnis
Tabel 3. Rasio Kinerja Bisnis GIAA – Net margin, Asset turnover, financial leverage, ROA, ROE, dan DER.

Dengan membaca angka ROE ini, kita bisa langsung menyimpulkan bahwa Garuda Indonesia bukanlah perusahaan yang menguntungkan. Sejak tahun 2011 sampai 2018, rata-rata ROE -4%.

2.2. Analisa Pertumbuhan

Analisa berikut ini menggunakan data selama 7 tahun periode (tahun 2011 sampai 2018). Jadi, angka-angka pertumbuhan per tahun dalam analisa ini adalah CAGR 7 tahun (lihat kolom 7 dari tabel 4 berikut ini).

GIAA - Pertumbuhan dalam Jangka Panjang
Tabel 4. Pertumbuhan GIAA dalam Jangka Panjang – Aset, Liabilitas, Equitas, Pendapatan, Laba bersih, EPS, BV per share, dan harga saham

Aset tumbuh 20% per tahun. Pertumbuhan ini bukan merupakan hasil dari keuntungan bisnis, tapi lebih karena utang yang bertambah rata-rata per tahun 25%, dan lebih dijelaskan lagi dengan equity yang hanya tumbuh 8% per tahun. Ingat persamaan aset sama dengan utang (liabilitas) ditambah modal (equity). Pertumbuhan equity yang 8% per tahun inipun lebih karena penambahan jumlah saham melalui right issue daripada karena keuntungan bisnis, dapat dilihat dari pertumbuhan book value (BV) per share (atau equitas per lembar saham) yang hanya 6% per tahun.

Sebuah bisnis yang tidak menguntungkan, di mana pertumbuhan equity (bagi perusahaan yang tidak pernah membagi dividen) di bawah pertumbuhan aset. Dan sebuah bisnis yang semakin terpapar resiko, di mana pertumbuhan utangnya melampaui pertumbuhan aset dan equity.

Untuk pendapatan (revenue), tumbuh 13% per tahun. Termasuk bagus, bisnis yang terus tumbuh. Namun pertumbuhan revenue tersebut tidak diikuti dengan pertumbuhan profit (laba bersih). Bahkan profitnya tumbuh negatif. Artinya, dibutuhkan biaya (beban) operasional yang semakin lebih besar untuk menopang pertumbuhan bisnisnya. Jelas sekali, perusahaan tidak punya keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Dari perspektif investor, pertumbuhan BV/Share yang hanya 6% per tahun ini hanya sebesar bunga deposito. Dengan return segitu, jadinya malah lebih baik investor menaruh uangnya di deposito saja yang aman tanpa resiko. Untuk investor yang mendapatkan sahamnya dari pasar modal, malah rugi, karena selama periode itu (2011 sampai 2018) harga saham turun dari 660 menjadi 298, alias rata-rata per tahun turun 6% (return per tahun -6%).

2.3. Analisa Kinerja Market dan Valuasi harga saham GIAA

GIAA - Data dan Rasio Market
Tabel 5. Data dan Rasio Market GIAA – Jumlah saham yang beredar, harga saham, market capital, Book Value (BV) per share, profit per share (EPS), PBV, dan PER.

Profit sangat tidak stabil, sehingga PER pun berfluktuatif. Oleh karena itu PER tidak bisa digunakan untuk melakukan valuasi. Data yang relatif bisa digunakan untuk melakukan valuasi adalah PBV.

Dari table 5, nilai rata-rata PBV adalah 1,0.
Dari tabel 4, pertumbuhan BV/share adalah 6% (CAGR 7 tahun).
Dari tabel 5, Nilai BV/Share terakhir  adalah 509 (tahun 2018).
Harga saham GIAA saat ini (22 Mei 2019) adalah 412.

Expected Harga Saham
= Expected PBV x Expected BV/share
= Rata-rata PBV x BV/share 2018 (1 + CAGR BV/share)
= 1,0 x 509 x (1 + 6%)
= 539

Margin of Safety (MOS)
= (Expected Harga Saham - harga saham) / harga saham
= (539 - 412)/412
= 30%

Untuk perusahaan dengan track record yang sangat buruk profitabilitasnya, MOS 30% ini belum cukup buat saya untuk menempatkannya pada posisi aman buat membeli sahamnya.

GIAA - History Harga Saham
GIAA – History Harga Saham

3. Penyebab utama Garuda Indonesia dan Industri Penerbangan tidak menarik bagi Investor

3.1. Sangat Rentan dengan Regulasi

Pesawat terbang adalah angkutan umum yang sangat vital bagi masyarakat, sehingga pemerintah merasa perlu untuk melakukan interfensi dengan membuat aturan tentang Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB). Tujuan TBA adalah untuk melindungi konsumen, dan tujuan TBB adalah untuk melindungi maskapai dari perang harga.

Untuk Garuda Indonesia, yang pemegang saham pengendali adalah pemerintah, maka akan lebih terikat dengan resiko ini. Akan ada saat di mana kebijakan pemerintah lebih mengedepankan aspek lain sehingga mengesampingkan tujuan Garuda Indonesia sebagai perusahaan (BUMN) yang berorientasi profit.

Selain regulasi tentang tarif, yang tidak kalah ketatnya adalah regulasi tentang keamanan. Jika beberapa kesalahan terjadi dalam maskapai, maka pembatasan atau pencabutan ijin rute terbang akan sangat mengurangi pendapatan, bahkan bisa menyebabkan berhentinya operasinal perusahaan maskapai.

3.2. Biaya Operasional yang sangat besar dengan tingkat ketidakpastian yang sangat besar pula

Sebesar 70% dari biaya operasional itu hanya untuk :

  • biaya bahan bakar (avtur) yang sangat dipengaruhi  oleh fluktuasi harga minyak
  • sewa pesawat dan perawatan (maintenance) yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs dolar AS.

Maskapai tidak mudah untuk menaikkan harga tiket (tarif)nya ketika biaya operasional naik tinggi karena faktor fluktuasi harga minyak dan dolar. Itulah kenapa dari sekian panjang umur perusahaan maskapai penerbangan Indonesia, tidak ada yang untung besar.

3.3. Kepercayaan Market yang rendah terhadap bisnis penerbangan.

  • Juga rencana go public lion air yang tidak medapat sambutan antusias dari market. Silahkan baca Panin Sekuritas: IPO Lion Air kurang menarik dan Lion Air akan IPO, Analis Trimegah: Hasil penerbitan emisi tak akan capai target.

4. Adakah Harapan Masa Depan Garuda untuk Lebih Baik?

Harapan tetap ada. Tengok saja pertumbuhan jumlah penumpang pesawat di Indonesia, empat tahun terakhir tumbuh rata-rata 9,2% per tahun, dan tahun 2019 ini ditargetkan tumbuh sebesar 13,8%. Artinya, dari sisi pendapatan (revenue), akan ada pertumbuhan yang positif. Market tetap tumbuh.

Dengan hanya ada dua group maskapai besar, yaitu Garuda Indonesia dan Lion Air, maka industri penerbangan Indonesia dimonopoli oleh kedua maskapai tersebut. Monopoli, tentu saja akan lebih memungkinkan maskapai untuk mengatur harga tiketnya. Terbukti dengan naiknya harga tiket pesawat terbang sejak setahun belakangan ini.

Walaupun harapan di masa depan tetap ada, untuk saat ini saya sendiri masih belum tertarik untuk investasi (membeli saham) GIAA. Masih banyak saham-saham dari perusahaan lain yang jauh lebih potensial buat investor.

5. Ulasan khusus: Dugaan manipulasi laporan keuangan 2018

<<< Bersambung >>>

1 tanggapan pada “Analisa Fundamental Garuda Indonesia (GIAA) – Bisnis yang Tidak Menguntungkan”

Tinggalkan Balasan