Analisa Fundamental – Peluang Investasi Saham Rokok

Analisa fundamental komprehensif tentang Industri rokok di Indonesia. Meliputi saham-saham rokok HMSP, GGRM, RMBA, WIIM, ITIC. Industri yang dilematis, di-stigma sebagai pemberi kontribusi yang sangat besar terhadap kerugian kesehatan, namun di sisi lain memberikan kontribusi yang sangat besar pula terhadap ekonomi negara. Rokok, telah berakar sangat dalam dan kuat di kultur (budaya) masyarakat Indonesia, dan juga didukung oleh sumber daya alam (suburnya tanah untuk perkebunan tembakau) yang melimpah.

Ada isu besar saat ini yang menyebabkan saham-saham rokok turun, yaitu kenaikan cukai rokok dan kebijakan free floating. Dan tentu saja isu-isu yang terus berlangsung seputar kampanye anti merokok. Kejatuhan harga saham-saham perusahaan rokok ini menjadi menarik untuk dianalisa, apakah harga sahamnya sudah murah dan layak untuk investasi?

Tulisan ini relatif panjang, silahkan klik link berikut ini untuk langsung membaca bagian yang dikendaki:

Profile Singkat Perusahaan Saham Rokok di Indonesia

Diurutkan berdasarkan market share.

H.M. Sampoerna Tbk (HMSP)

Liem Seeng Tee memulai usaha di Surabaya pada tahun 1913, dengan produksi rokok kretek merek Dji Sam Soe. Kemudian mendirikan perusahaan dengan nama Sampoerna pada tahun 1930. Pada tahun 1959 bisnis dipimpin oleh generasi kedua, yaitu Aga Sampoerna. Generasi ketiga, yaitu Putera Sampoerna, memimpin tahun 1978. Go public pada tahun 1990. Generasi keempat, yaitu Michael Sampoerna, menjadi pemimpin pada tahun 2001. Philip Morris International (PMI) mengakuisi mayoritas saham Sampoerna pada tahun 2005. Website perusahaan: https://www.sampoerna.com/

Pemegang saham saat ini PT Philip Morris Indonesia 92.5%, public lainnya 7.5%. Menguasai pangsa pasar rokok dalam negeri sebesar 33%. Dengan product/produk/merk:

  • Machine-Made Clove Cigarettes: Sampoerna A Mild
  • Machine Clove Cigarettes: Sampoerna U Mild
  • Hand-Rolled Cigarettes: Dji Sam Soe, SAMPOERNA HIJAU
  • Machine White Cigarette: Marlboro.

Gudang Garam Tbk (GGRM)

Didirikan oleh Surya Wonowidjojo di Kediri Jawa Timur pada tahun 1958. Go public tahun 1990. Pemegang saham saat ini PT Suryaduta Investama 69%, PT Suryamitra Kusuma 6%, public lainnya 24%. Website perusahaan https://www.gudanggaramtbk.com/

Menguasai pangsa pasar rokok dalam negeri sebesar 23,1%. Dengan product/produk/merk:

  • Hand made atau Sigaret Kretek Tangan (SKT): Klobot, Sriwedari, Djaja
  • Machine made atau Sigaret Kretek Mesin (SKM): Gudang Garam International, Surya, Merah
  • Low tar nicotine rendah tar nikotin (LTN): Gudang Garam Signature Mild

PT Djarum

Didirikan pada tahun 1951 oleh Oei Wie Gwan di Kudus. Saat ini dipimpin oleh generasi kedua yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Menguasai market share nomor 3 terbesar di Indonesia, sekitar 20-an% persen, sedikit di bawah Gudang Garam. Dengan product/produk/merk utama mencakup Djarum Super, Djarum Coklat, Djarum 76, Djarum Black, LA Lights, Cigarillos, dan lain-lain. Bisnis besarnya selain rokok adalah Bank BCA (BBCA), property Grand Indonesia, elektronik dengan (Polytron), perkebunan (Hartono Plantataion), dan Ecommerce (Blibli.com). Di bidang olahraga, berkontribusi sangat besar dengan PB Djarum-nya yang telah melahirkan banyak atlit bulu tangkis besar.

Merupakan satu-satunya produsen rokok besar yang tidak go public. Dan memang Djarum sepertinya tidak butuh itu karena uang cash-nya sangat melimpah sehingga tidak butuh tambahan modal untuk bisnisnya. Website perusahaan https://djarum.com/

Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA)

Didirikan pada tahun 1930 oleh Ong Hok Liong dengan nama Strootjes Fabriek Ong Hok Liong. Saat ini merupakan anggota dari British American Tobacco Group, kelompok perusahaan tembakau kedua terbesar di dunia. Pemegang saham saat ini British American Tobacco 92,48%, public lainnya 7,52%. Website perusahaan http://www.bentoelgroup.com/

Menguasai pangsa pasar rokok dalam negeri sebesar 7% (terbesar keempat di Indonesia). Dengan product/produk/merk utama mencakup Dunhill Filter, Dunhill Mild, Club Mild dan Lucky Strike Mild. Juga memproduksi dan memasarkan brand lokal, seperti Neo Mild, Tali Jagat, Bintang Buana, Sejati, Star Mild dan Uno Mild, serta brand global seperti Lucky Strike dan Dunhill.

Wismilak Inti Makmur tbk (WIIM)

Didirikan di Surabaya pada tahun 1962 oleh Lie Koen Lie, Tjio Ing Hien, Tjioe Ing Hwa, dan Oel Bian Hok. Go publik pada tahun 2012. Pemegang saham saat ini Indahtati Widjajadi 16,14%, Ronald Walla 14,56%, Stephen Walla 14,56%, Gaby Widjajadi 9,34%, Sugito Winarko 7,30%, PT Union Sampoerna 5,52%, dan public lainnya 32,57%. Website perusahaan https://www.wismilak.com/

Menguasai pangsa pasar rokok dalam negeri relatif kecil. Dengan product/produk/merk:

  • Sigaret Kretek Tangan: Wismilak Spesial, Wismilak Slim, Galan Kretek
  • Sigaret Kretek Mesin: Wismilak Diplomat, Diplomat Mild, Diplomat Mild Menthol
  • Cerutu: Wismilak Premium Cigars, Wismilak Premium Seleccion

Indonesian Tobacco Tbk (ITIC)

Didirikan pada tahun 1955 di Malang Jawa Timur dengan nama N.V. Indonesian Tobacco & Industrial Company oleh Chandra Saksono. Go public Juli 2019. Pemegang saham pengendali adalah Djonny Saksono. Website perusahaan https://www.indonesiantobacco.com/

Produknya meliputi rokok kretek, juga tembakau siap pakai untuk diracik (dilinting) sendiri oleh perokok. Mempunyai 16 merek dagang yaitu Pohon Salak, Pohon Tanjung, Rumah Minangkabau, Pohon Mangga, Pohon Duren, Pohon Djambu, Kuda Terbang, Bunga Sakura, Anggur Kupu, Lampion Lilin, Roda Terbang, Pohon Sagu, dan lain lain.

Prospek Positif dari Industri Rokok di Indonesia

Pangsa Pasar (Market Share) yang Sangat Besar

Indonesia adalah pangsa pasar (market share) rokok terbesar di Asia Tenggara dan nomor dua di dunia. Memberikan peluang bisnis dengan skala yang sangat besar. Terbukti bahwa orang-orang terkaya Indonesia adalah para pemilik bisnis rokok.

Prevalensi perokok sangat tinggi di Indonesia, dan meningkat secara global

Indonesia memiliki tingkat prevalensi (persentase atas total populasi orang dewasa) perokok di atas 60%, paling besar dibandingkan negara-negara asia tenggara lainnya. Menurut penelitian Mohtar Rasyid & Henny Oktavianti (Dilema Produk Tembakau di Era Globalisasi: Studi Komparatif Rokok Indonesia dalam Lingkup ASEAN) terdapat hubungan yang solid antara tingkat prevalensi dengan harga rokok di negara-negara Asia Tenggara, semakin mahal harga rokok maka tingkat prevalensi semakin kecil. Namun Indonesia termasuk outlier, tidak mengikuti hubungan tersebut dengan ketat, di mana tingkat prevalensi paling tinggi meskipun harga rokok tidak paling murah.

Menurut Kementerian Kesehatan pada saat ini terdapat situasi dimana terjadi peningkatan prevalensi perokok secara global dari 32,8% menjadi 33,8%. Perokok pada usia anak dan remaja juga mengalami peningkatan dari 7,2% menjadi 9,1%, demikian halnya untuk perokok perempuan dari 1,3% menjadi 4,8% (press release Kemenkeu 13 september 2019).

Keberhasilan Bea dan Cukai menekan rokok ilegal

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga independen (UGM), dalam 3 tahun terakhir Bea dan Cukai berhasil menekan peredaran rokok ilegal dari 12,1% menjadi 7% di tahun 2018, dan di tahun 2019 diperkirakan akan berhasil ditekan menjadi 3%. (press release Kemenkeu 13 september 2019)

Rokok menjadi salah satu andalan ekonomi Indonesia

Penerimaan pemerintah dari cukai tembakau/rokok sangat bersar. Dan meningkat dari tahun ke tahun.

Pemerintah sangat menyadari bahwa sektor cukai rokok banyak berkaitan dengan sektor lainnya yaitu industri, tenaga kerja, dan petani tembakau dan cengkeh. Maka tentu saja pemerintah mempertimbangkan semua sektor diatas dalam mengambil kebijakan cukai hasil tembakau. Sebagaimana diketahui fungsi dari pungutan cukai hasil tembakau adalah untuk pengendalian konsumsi rokok (legal maupun ilegal), menjamin keberlangsungan industri dengan menjaga keseimbangan antara industri padat modal dan padat karya, dan untuk mengoptimalkan penerimaan negara.

Jadi, apapun kebijakan pemerintah, pasti didasarkan pada pemaksimalan dan kontinuitas industri rokok dan industri yang terkait dengannya. Lebih detail tentang kontribusi rokok sebagai andalan ekonomi Indonesia, dibahas di bagian Analisa Competitif Advantage Industri Rokok di bawah.

Prospek Negatif (Resiko) dari Industri Rokok di Indonesia

  • Kebijakan pemerintah, terutama tarif cukai rokok.
  • Perluasan area-area dilarang merokok dan penegakan aturan (dan sanksi) yang semakin ketat
  • Kesadaran masyarakat tentang kesehatan.
  • Kampanye goblal tentang Bahaya Merokok
  • Trend beralihnya ke rokok elektrik. Namun berita-berita tentang bahaya rokok elektrik terkesan menguntungkan rokok tradisional

Mengapa Saham-Saham Rokok Saat ini Turun?

Seperti biasa, market selalu bereksi ektrim terhadap isu-isu yang berkaitan dengan emiten saham. Berikut ini beberapa isu yang menjadikan harga saham-saham rokok turun:

Seberapa besarkah dampak penurunan harga-harga saham rokok tersebut? Silahkan lihat analisa Perbandingan Valuasi Harga Saham di bawah.

Analisa Competitif Advantage Industri Rokok

Data yang berbicara. Banyak insight yang akan kita lihat dari data di tabel 1 di bawah ini.

Industri Rokok Indonesia. Data tahun 2008 sampai 2019
Tabel 1. Industri Rokok Indonesia. Data tahun 2008 sampai 2019

Keterangan data:

  • Data penjualan dan Laba diambil dari Laporan Keuangan HMSP, GGRM, dan RMBA. Total Market share ketiga perusahaan ini adalah 63% dari industri rokok Indonesia.
  • Penjualan dan laba rokok (total semua perusahaan rokok di Indonesia), dihitung dari Penjualan dan laba HMSP+GGRM+RMBA dibagi 63%. Diasumsikan market share dari tahun 2008 sampai 2019 ketiga perusahaan tetap 63%.
  • Cukai, data dari realisasi APBN. Untuk tahun 2019, ini angka target.
  • PPN, Pajak Pertambahan Nilai, besarnya 10% dari penjualan. Diasumsikan PPN dari tahun 2008 sampai 2019 adalah tetap 10%.
  • PPH, Pajak Penghasilan Korporat, besarnya 25% dari laba sebelum pajak. Diasumsikan PPH dari tahun 2008 sampai 2019 adalah tetap 25%.
  • Pajak Tot, penerimaan negara dari industri rokok yang merupakan jumlah total dari cukai+PPN+PPH.
  • Volume penjualan batang rokok, diolah dari berbagai sumber terutama Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI). Data tahun 2019 merupakan estimasi dari data tahun 2018 yang turun 2%.
  • CAGR, Compound Annual Growth Rate, merupakan rata-rata pertumbuhan per tahun selama 11 tahun terakhir (2008 sampai 2019).

Kontribusi Rokok terhadap Pendapatan Negara yang Terus Meningkat

Dari tabel 1 diketahui bahwa pertumbuhan penerimaan (pendapatan) negara rata-rata per tahun (CAGR) adalah 7,5%. Sementara itu pertumbuhan penerimaan dari industri rokok (cukai, PPN, dan PPH) adalah 11,3%. Ini menunjukkan bahwa negara semakin tergantung dengan nilai ekonomi industri rokok.

Berapa nilai ketergantungan ini? Lihat nilai “% Pajak Tot thd penerimaan negara” dari tabel 1, di tahun 2019 ini sebesar 9,6%. Bahkan dalam 5 tahun terakhir ini rata-rata 10-an%. Walaupun tampak sedikit menurun dalam 5 tahun belakangan, selama 11 tahun terakhir terjadi peningkatan ketergantungan dengan industri rokok sebesar 3,6% (CAGR).

Profitabilitas (keuntungan) yang Terus Meningkat

Dari tabel 1 diketahui bahwa pertumbuhan penjualan rokok rata-rata per tahun (CAGR) adalah 11,5%. Sementara itu pertumbuhan laba (profit) lebih besar, yaitu 13%. Ini menunjukkan bahwa skala ekonomi yang semakin besar telah menjadikan perusahaan-perusahaan rokok semakin efesien.

#Kemampuan_dalam _mempertahankan_pertumbuhan_dan_profitabilitas

Kemampuan dalam mempertahankan pertumbuhan dan profitabilitas

Dari tabel 1 diketahui bahwa pertumbuhan (CAGR) cukai adalah 11,1%. Dan pertumbuhan nilai penjualan (rupiah) tetap terjaga di 11,5%. Padahal pertumbungan volume penjualan (batang rokok) lebih kecil yaitu hanya 2,8%.

Kenaikan cukai dan harga rokok akan berdampak pada menurunnya jumlah volume penjualan (batang rokok), itu benar dan ditunjukkan oleh pertumbuhan volume penjualan rokok (2,8%) yang lebih kecil daripada pertumbuhan cukai (11,1%). Namun perusahaan meningkatkan harga jual rokok lebih tinggi lagi (lebih tinggi daripada kenaikan cukai) agar bisa mengkompensasi penurunan jumlah volume penjualan batang rokok. Dan lihatlah hasilnya, pertumbuhan penjualan (rupiah) tidak kurang dari pertumbuhan cukai.

Dari sisi profitabilitas (keuntungan), ketika jumlah volume penjualan (batang) kecil maka cost juga kecil; namun pada saat yang bersamaan penjualan (rupiah) besar, sehingga profit (laba) yang diperoleh akan lebih besar. Itulah kenapa pertumbuhan laba (13%) lebih besar daripada pertumbuhan penjualan (11,5%).

Dan selama bertahun-tahun industri rokok mampu menjaga pertumbuhan penjualan dan profitnya. Sebuah keunggulan kompetitive yang luar biasa.

Kekuatan Monopoli pada Perusahaan Besar

Lebih 80% market share dikuasai oleh 4 perusahaan besar yaitu HM Sampoerna (33%), Gudang Garam (23%), Djarum (20%), dan Bentoel Internasional (7%). Dan mayoritas keuntungan dikuasai oleh tiga terbesar, di mana Bentoel sendiri dari tahun ke tahun terus merugi. Lihat tabel 2 di bawah, hanya 2 perusahaan Tbk (HMSP dan GGRM) yang meraup untung besar (ROE dan CAGR Laba) dari industri rokok; catatan: angka-angka Djarum tidak diekspose karena bukan perusahaan public.

Menurut data dari GAPPRI, yang disajikan oleh EY (lihat referensi), jumlah pabrik rokok di Indonesia menurun 81,6% selama tahun 2009 (dari 3255 pabrik) sampai tahun 2014 (menjadi 600 pabrik). Menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan kecil sulit survive di tengah-tengah industri rokok yang dikuasai oleh para raksasa.

Buat raksasa penguasa market, ini adalah sebuah competitive advantage, di mana tidak mudah buat pesaing (kompetitor) untuk masuk ke industri ini.

Ringkasan Valuasi Harga Saham Rokok

Industri Rokok Indonesia. Perbandingan Fundamental Bisnis dan Valuasi Market
Tabel 2. Industri Rokok Indonesia. Perbandingan Fundamental Bisnis dan Valuasi Market. Catatan: untuk WIIM, data yang dianalisa adalah dari tahun 2011-2019.

Kinerja fundamental bisnis yang paling mempengaruhi mahal atau murahnya harga saham adalah ROE. Terlihat bahwa HMSP memiliki rata-rata ROE tertinggi, dan harga saham termahal (rata-rata PER dan PBV paling tinggi).

Benar, ROE adalah indikator fundamental utama. Namun, buat investor yang mengejar kenaikan harga saham, pertumbuhan adalah segala-galanya. Terlihat bahwa GGRM memiliki pertumbuhan (CAGR) penjualan dan laba tertinggi, dan kenaikan harga sahamnya (CAGR) tertinggi.

Untuk RMBA dan WIIM, rata-rata ROE kecil. Bahkan pertumbuhan laba negatif. Sebuah bisnis yang merugikan. Oleh karena itu market menghargai sahamnya sangat murah, dan harga sahamnya pun terus menurun. ITIC tidak masuk perhitungan karena baru go public tahun 2019 ini, jadi tidak cukup data untuk membuat analisa dan kesimpulan.

Diskusi tentang Aspek Moralitas Investasi di Saham Rokok

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa merokok adalah merugikan kesehatan. Menjadi pertanyaan yang menarik, apakah dengan berinvestasi di saham-saham perusahaan rokok akan menjadikan kita ikut berkontribusi dalam merugikan kesehatan masyarakat? Sangat banyak perspektif, mari kita lihat beberapa contohnya:

Pandangan Moralis

Kalau bisa menghindari hal-hal yang merugikan, sebaiknya menghindarinya. Jangankan yang berkaitan langsung, yang tidak langsung pun sebaiknya dihindari. Di Indonesia, saham-saham perusahaan rokok tidak menjadi bagian dari Index Saham Syariah.

Menurut SEATCA (lihat referensi), biaya perawatan kesehatan karena rokok (baik yang langsung maupun tidak langsung) Indonesia tahun 2015 adalah 597 trilyun rupiah. Sekitar 4x penerimaan negara dari cukai dan pajak industri rokok.

Menurut perspektif ini, adalah tidak bijaksana jika mencari keuntungan 1x tapi mendapatkan kerugian 4x. Komentar: Walaupun itu di-state sebagai angka kerugian, namun itu sebenarnya adalah nilai ekonomi dari industri kesehatan dan pengobatan.

Pandangan Pragmatis

Rokok di Indonesia, bukanlah hal yang sederhana. Berkaitan dengan budaya masyarakat yang sudah mendarah daging. Selain itu, aspek ekonominya sangat besar. Kalau toh kita tidak mengambil bagian keuntungan ekonomi, pastinya akan ada orang lain yang akan mengambilnya. Jika kita merasa sebagai orang baik, kenapa tidak kita saja yang mengambil keuntungan itu, dan selanjutnya hasilnya kita gunakan untuk hal-hal yang lebih baik?

Silahkan masing-masing memilih, tentunya dengan penuh kesadaran dan pertimbangan. Saya sendiri saat ini memiliki saham rokok dalam portfolio investasi.

Kesimpulan

Industri rokok, industri yang dilematis, di-stigma sebagai pemberi kontribusi yang sangat besar terhadap kerugian kesehatan, namun di sisi lain memberikan kontribusi yang sangat besar pula terhadap ekonomi negara. Meskipun pemerintah terlihat aktif mengkampanyekan sosialisasi bahaya merokok, apapun kebijakan pemerintah, pasti didasarkan pada pemaksimalan dan kontinuitas industri rokok dan industri yang terkait dengannya.

Market share dan profit yang besar dikuasai oleh 3 raksasa yaitu HM Sampoerna (HMSP), Gudang Garam (GGRM), dan Djarum. Hanya 3 ini yang mendapatkan monopolistic competitive advantage.

Untuk investor, bisa mengambil opportunity di saham HMSP dan GGRM. Dengan turunnya harga saham saat ini, memberikan Margin of Savety (MOS) yang lumayan. Namun, apakah saham yang sudah turun jauh ini sudah cukup aman, atau mungkin akan turun lebih jauh lagi? Dan setelah turun ini, apakah nanti akan bisa kembali lagi ke harga wajarnya, bahkan bisa lebih tinggi lagi?

Catatan penting lainnya: Dari tabel 1 di atas, terlihat bahwa pertumbuhan jumlah penjualan rokok (dalam batang) tidak sebesar pertumbuhan penjualan dalam rupiah, dan bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Bagaimanapun juga, volume konsumsi jumlah rokok menurun. Dugaan kuat ini karena dampak semakin mahalnya harga rokok. Bisa jadi industri rokok memasuki masa senja (sunset)? Namun di sisi lain, prevalensi perokok justru malah meningkat. Jadi, kenaikan harga rokok tidak berdampak terlalu besar? Pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk melakukan analisa dan riset lebih lanjut.

Semoga tulisan yang cukup panjang ini bisa menambah insight dan perspektif buat para investor. Disclaimer, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk rekomendasi kepada saham tertentu. Take your own risk. Investor yang sadar harus melakukan analisa dan keputusan sendiri.

Referensi

Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Balasan