Analisa Fundamental Unilever (UNVR) – Perusahaan Terbaik di Indonesia

Product Unilever
Product (merek) Unilever

PT Unilever Indonesia Tbk dengan kode saham UNVR, menghasilkan ROE di atas 100%. Kita akan menganalisa dari mana kehebatan bisnis yang super ini berasal. Dan akan kita valuasi, apakah harga saham yang sekarang ini kemahalan atau kemurahan untuk investasi.

Komposisi 85% saham dikuasai oleh Unilever Indonesia Holding dan 15% oleh masyarakat (public). Merupakan perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang sangat dominan menguasai market share Indonesia. Memiliki 39 Brand Product yang diketagorikan ke dalam segment berikut:

  • Home Care (Kebutuhan Rumah Tangga): Cif, Domestos, Surf, Rinso, Sunlight, Molto, Super Pell, Vixal, Wipol
  • Personal Care (Perawatan Tubuh): Axe, Clouseup, Pepsodent, Dove, Lifebuoy, Lux, Pond’s, Rexona, Sunsilk, Vaseline, Citra, Clear, Zwitsal, Fair & Lovely, TRESemme.
  • Food and Drink (Makanan dan Minuman): Blue Band, Lipton, Royco, Walls, Bango, Buavita, Sariwangi

Segment Home Care dan Personal Care memberi kontribusi revenue 2017 sebesar 68%, sementara segment Food and Drink sebesar 32%.
Kita semua tahu, bahkan walaupun tanpa menghitung angka-angka kinerja laporan keuangannya, Unilever adalah penguasa pasar FMCG di Indonesia yang tak tertandingi oleh competitor manapun. Kita bisa lihat brand (merk) Unilever ada di barang-barang yang kita pakai sehari-hari. Dapat dikatakan, siapapun memakai product-nya Unilever, khususnya untuk Home Care dan Personal Care.

Data Laporan Keuangan Unilever Tahun 2008 – 2017

Analisa di artikel ini akan menggunakan data laporan keuangan Unilever berikut ini: Balance sheet (total Asset, Current Asset, Fixed Asset, Total Liabilitas, Liabilitas jangka pendek, Liabilitas jangka panjang, Equitas) Laporan laba-rugi (Pendapatan, Laba kotor, Laba usaha, Laba sebelum pajak, Laba bersih) Cash Flow (Operating Cashflow, Investing Cashflow, Financing Cashflow, Free Cashflow, Cash awal tahun, Cash akhir tahun) Rasio-rasio (Gross Margin, Net Margin, Asset Tunrover, Financial Leverage, ROA, ROE, DER, Payable period, Receivable period).

Tabel 1. Data Laporan Keuangan Unilever tahun 2008 - 2017 
Tabel 1. Data Laporan Keuangan Unilever tahun 2008 – 2017

Silahkan baca artikel berikut untuk istilah-istilah, dasar-dasar analisa laporan keuangan, dan metode valuasi saham:

ROE yang sangat Besar – Kinerja Bisnis yang Luar Biasa

Sebagai investor, selalu focus ke ROE, karena ROE adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar pemegang saham (pemilik equity) mendapatkan earning/laba perusahaan. Fantastik, ROE di atas 100%, dan terus naik dari waktu ke waktu. Perusahaan seperti Unilever ini benar-benar telah menjadi mesin pelipat ganda uang. Mari kita lihat, dari mana ROE yang sangat besar ini berasal.

ROA dari Net Margin dan Asset Turnover yang besar dan stabil

Seperti yang dibahas di Rasio Dupont, ROE = Net Margin x Asset Turnover x Financial Leverage. Dengan ROA = Net Margin x Asset Turnover, maka ROE = ROA x Financial Leverage.

Dari tabel 1 di atas, Unilever berhasil menjaga Net Margin rata-rata 17%, dan Gross Margin 51%. Bisnis dengan margin sebesar itu termasuk bagus. Apalagi di industry FMCG, angka margin tersebut termasuk sangat bagus. Sebagai pemimpin pasar (Market Leader) Unilever mampu mempertahan margin yang tinggi, yang artinya bisa menentukan harga product-product, tidak perlu membanting harga demi memenangkan persaingan.

Asset turnover rata-rata 2,3. Sehingga memberikan rata-rata ROA 39%. Asset turnover menunjukkan kecepatan perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk bisnis. Di sektor konsumsi, rata-rata asset turnover memang tinggi, karena perputaran uang di sini sangat cepat, namun Unilever tetap jauh di atas rata-rata para kempetitornya.

Dalam jangka Panjang, Unilever berhasil menjaga Net Margin, Asset Turnover, dan ROA sangat stabil di angka rata-rata tersebut. Sebuah kemampuan bisnis yang luar biasa, bertahun-tahun mampu mempertahankan daya saingnya (competitive advantage).

Financial Leverage yang besar dan senantiasa Naik

Tidak hanya berhenti sampai di situ, dengan kehebatannya, Unilever meningkatkan profitability-nya lebih tinggi lagi dengan mengekploitasi Leverage (utang). Financial Leverage sama dengan Asset/Equity. Rasio Financial Leverage-nya sangat tinggi, beberapa tahun terakhir nilainya di atas 3, itu artinya sebagian besar asetnya dibiayai oleh utang. Dan Tidak seperti Margin dan Turnover yang stabil, Financial Leverage ini naik terus dari tahun ke tahun.

Beban Bunga yang sangat kecil

Dari sisi yang lain, dengan bertambahnya hutang tentu saja akan menambah ancaman resiko dari beban hutang (bunga). Namun di bisnis ada semacam threshold, di titik manakah hutang itu akan semakin meningkatkan return atau memperpuruk kinerja? Titik itu ada di trade-off antara ROA[sebelum bunga] dan bunga pinjaman. ROA[sebelum bunga] adalah rasio antara laba sebelum bunga dan pajak (disebut juga laba usaha atau operating profit) dan total asset. Bunga pinjaman adalah rasio antara beban bunga dan total hutang (liquidity).

Beban bunga berasal dari pinjaman bank maupun surat hutang. Dari laporan keuangan 2017, Unilever tidak punya hutang jangka Panjang. Hutang jangka pendek kepada bank hanya berbunga sekitar 6%. Jangan lupa, utang dagang dan utang pajak, itu adalah bentuk utang yang tidak berbunga. Dari tabel 1 di atas, lihat rasio DER sebesar 2,7 dan DER(berbunga) sebesar 0,7. DER(berbunga) adalah rasio antara Hutang yang berbunga dan total liablity. Jadi total beban bunga riel adalah
= Bunga pinjaman x DER(berbunga)/DER
= 6% x 0,7/2,7
= sekitar 2%

Jadi, dengan memperbesar komposisi hutang tanpa bunga (Hutang dagang), maka dampak dari bunga bank (6%) secara riel menjadi semakin kecil (2%).

Modal Kerja yang sangat efesien

Dari tabel 1 di atas, lihat rasio Payable Period, Receivable Period, dan selisih antara Payable Period dan Receivable Period. Payable periode menunjukkan berapa hari hutang dagang (kepada supplier) itu dibayar. Receivable Period menunjukkan berapa hari piutang dagang (dari customer) diterima pembayarannya. Dari data diketahui bahwa Receivable period lebih besar daripada Payable period, artinya Unilever mampu untuk mengulur waktu membayar utang dan mampu untuk mempercepat menagih piutangnya. Artinya, Unilever memegang cash dari selisih waktu tersebut. Dan lihat lagi, dari tahun ke tahun, selisih Payable dan receivable periode ini semakin besar. Itulah kenapa Unilever tidak perlu hutang yang besar (dan juga tidak perlu menahan laba) untuk modal kerjanya karena uang cash dari selisih Payable dan receivable period sangat besar juga untuk menambah modal kerja.

Mengembalikan semua keuntungan kepada pemegang saham

Unilever mengembalikan semua keuntungan kepada pemegang saham dalam bentuk Dividen. Dengan pertumbuhan penjualan yang tidak terlalu agresif karena perusahaan sudah sangat mature, maka tidak diperlukan dana yang besar untuk ekspansi. Logikanya, mestinya tetap ada sebagian laba yang ditahan untuk mensupport modal kerja buat pertumbuhan penjualan meskipun tidak agresif tersebut. Namun, dengan kemampuannya untuk mendapatkan dana yang lebih murah dari pinjaman seperti di bahas di atas (tentang Financial Leverage), maka Unilever mampu membayar deviden dengan payout ratio 100%.

Analisa Pertumbuhan Bisnis Unilever

Tabel pertumbuhan bisnis Unilever
Tabel 2. pertumbuhan bisnis Unilever

Ada dua pertumbuhan yang perlu untuk di Analisa, yaitu YoY growth (YoY: Year on Year, tahun ini dibandingkan dengan tahun kemarin) dan CAGR (Compound Annual Growth Rate, Rata-rata pertumbuhan per tahun). Orientasi YoY adalah lebih kepada Analisa jangka pendek, untuk memonitor kinerja tahun per tahun. Sementara CAGR berorientasi jangka panjang, misalnya CAGR 9 tahun adalah rata-rata pertumbuhan 9 tahun ke belakang (dalam case UNVR ini adalah dari tahun 2008 sampai 2017).

Dalam menganalisa pertumbuhan bisnis, yang paling utama untuk dilihat adalah pertumbuhan penjualan (pendapatan/omset), karena penjualan merupakan ukuran bisnis yang sebenarnya. Rata-rata pertumbuhan (CAGR 9 tahun) penjualan adalah 11%, cukup tinggi untuk ukuran bisnis sebesar (dan se-mature) Unilever. Namun pertumbuhan setahun terakhir hanya 3%. Memang secara makro, sector konsumsi (Consumer industry) sedang mengalami tekanan. Secara umum, dalam jangka yang lebih panjang lagi, ketika market sudah benar-benar saturasi, perusahaan besar sekelas Unilever ini paling tidak akan tumbuh di sekitar pertumbuhan GDP Indonesia.

Sementara itu, pertumbuhan (CAGR 9 tahun) laba bersih adalah 13%, sama dengan pertumbuhan Aset. Seperti telah di bahas di atas, dari ketahun ke tahun, Unilever selalu mempertahankan kinerja ROA yang stabil.

Dari tabel  pertumbuhan ini kita juga bisa melihat strategi kebijakan permodalan perusahaan. Dengan pertumbuhan (CAGR 9 tahun) asset yang 13% itu, pertumbuhan equity hanya 6%, komposisi permodalan perusahaan lebih didominasi oleh hutang yang pertumbuhannya 17%. Sudah dibahas di atas juga, laba yang dihasilkan lebih banyak dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen daripada ditahan. Dengan kekuatan bisnisnya (dan daya saing/competitive advantage yang hebat) menjadikan Unilever mampu mengeksploitasi hutang (Leverage) untuk memaksimalkan keuntungan (ROE) nya.

Kinerja Harga Saham

Tabel Harga Saham Unilever
Tabel 3. Kinerja Pasar dan Harga Saham Unilever

Kehebatan bisnis Unilever tercermin dari pertumbuhan harga saham yang tinggi, di mana CAGR 9 tahun (dari 2008 – 2017) sebesar 24%. Bandingkan dengan pertumbuhan net profit, CAGR 9 tahun yang sebesar 13%, hampir setengahnya.

Untuk bisnis dengan ekspektasi market yang biasa saja, pertumbuhan harga saham biasanya akan sebesar dengan pertumbuhan net profitnya. Namun karena luar biasanya bisnis Unilever, menyebabkan ekspektasi market semakin jauh melebihi kinerja bisnis itu sendiri. Selain terlihat dari CAGR harga saham yang lebih tinggi dari net profit, terlihat juga dari nilai PBV dan PER yang semakin tinggi juga.

Valuasi Harga Saham Unilever

Dengah melihat pertumbuhan harga saham yang hamper dua kali lipat pertumbuhan net profit, terlihat jelas sekali kalau harga saham Unilever ini kemahalan. Mari kita lihat berapa valuasi harga wajar dari Unilever ini.

Metode relative PER

Harga ekspektasi saham UNVR tahun 2018
= Rata-rata PER x ekspektasi EPS tahun 2018
= Rata-rata PER x EPS tahun 2017 x (1 + rata-rata growth EPS)
= 39.2 x 918 x (1 + 13%)
= 40,550.

Catatan: Rata-rata PER yang dipakai adalah rata-rata dari tahun 2008-2017. Rata-rata pertumbuhan EPS = rata-rata pertumbuhan net profit = CAGR dari tahun 2008-2017.

Dengan harga saham UNVR per 27 April 2018 yang sebesar 46,150, maka Margin of Safety (MOS) adalah
= (Intrinsic Value - Harga Saham) / Harga Saham
= (40,550 - 46,150)/ 46,150
= -12 %

Metode Discounted Free Cash Flow

Dengan asumsi pertumbuhan Free Cashflow 13% selama 10 tahun, dan 1% setelah itu (terminal growth); dan Discount rate (WACC) 10%; diperoleh Intrinsic value 42,224. Lihat contoh menghitung Intrinsic Value dengan metode Discounted Free Chasflow secara lebih detail pada valuasi saham Ultrajaya (ULTJ).

Margin of Safety (MOS) adalah
= (Harga Saham – intrinsic Value) / Harga Saham
= (42,224 - 46,150)/ 46,150
= -9%

Kesimpulan

Dari sisi manapun, Unilever adalah adalah perusahaan yang hebat. Namun dengan kinerja yang sangat superior tersebut telah menjadikan harga sahamnya sangat mahal. Dua valuasi di atas memberikan Margin of Safety (MOS) yang minus. Kalau di perusahaan yang kinerjanya biasa-biasa saja, saya mencari MOS yang cukup besar untuk bantalan keamanan. Namun di perusahaan sekelas Unilever ini, MOS yang relatif kecil masih bisa saya terima, dengan catatan saya akan membelinya sedikit demi sedikit, dan menambah jumlah pembelian ketika MOS semakin besar.

Catatan Kinerja Kuartal 1 (Q1) tahun 2018

Dibandingkan dengan periode yang sama (Q1) tahun 2017 lalu, penjualan Q1 tahun 2018 ini turun 0,9% dan laba bersih turun 6,2%. Penurunan laba bersih inilah yang menyebabkan harga saham turun drastis. Sejak awal tahun 2018 ini, harga tertinggi adalah 58100. Dengan harga sekarang 46150, maka telah terjadi penurunan sebesar 21%. Dan untuk kembali lagi dari harga 46150 ke 58100, dibutuhkan kenaikan sebesar 26%.

Ada gap yang besar antara harga tertinggi dan harga sekarang ini. Dengan melihat historical harga saham UNVR ini, setelah puncak rekor tertinggi tercapai dan kemudian harga turun, rata-rata butuh waktu satu tahun untuk kembali ke harga tertinggi tersebut. Dengan pertimbangan analisa technical seperti ini, rasanya make sense untuk bertaruh di UNVR demi 26% opportunity selama satu tahun. Lihat grafik history harga saham UNVR berikut ini untuk melihat visualisasi gap/opportunity tersebut.

History Harga Saham UNVR
History Harga Saham UNVR

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

1 tanggapan pada “Analisa Fundamental Unilever (UNVR) – Perusahaan Terbaik di Indonesia”

  1. Selamat siang Pak,

    Saya ingin tanya mengenai perhitungan CAGR n Tahun. Kok saya hitung pakai Excel, hasilnya beda dengan tabel Bapak ya ?. Contohnya untuk CAGR 1 Tahun ( 2008-2009 ) :

    Investor Sadar. Hitungan Saya
    Asset. 13%. 15%
    Liabilitas. 14%. 12%
    Equitas. 10%. 19%

    Rumus yang saya pakai ( misal pada asset ) = (7.5/6.5)^(1/1)-1

    Apakah rumus dan angka angka yang saya masukkan ada kesalahan ya ?

    Dengan harga per 27 April = Rp. 46.150, menggunakan Metode Relative PER, ditemukan MOS = -12%. Ini artinya apa ya Pak ?

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan