Cara Mendeteksi Rekayasa dan Manipulasi Laporan Keuangan

Stock ChartSebelumnya, kita harus memahami dulu Dasar-dasar Laporan Keuangan dan Rasio-rasio Penting dalam Analisa Laporan Keuangan. Sumber datanya adalah laporan keuangan perusahaan, yang di-publish di website perusahaan atau di website idx.co.id, silahkan dibaca Sumber-sumber Data untuk Analisa

Rekayasa ini bisa terjadi karena aturan dalam penyusunan laporan keuangan yang memang bersifat longgar dan multi tafsir. Modus (cara) dan tujuan (motivasi) nya perusahaan melakukan rekayasa bisa bermacam-macam, secara garis besar adalah:

  • Membesarkan (menggelembungkan) angka-angka kinerja perusahaan, ini yang paling sering dilakukan. Terjadi pada perusahaan yang berkinerja jelek. Tujuannya adalah untuk menutupi keburukan sehingga reputasi dan harga saham tidak jatuh, juga akan sangat membantu perusahaan dalam meyakinkan untuk mendapatkan pinjaman dari kreditor.
  • Mengecilkan angka-angka kinerja perusahaan, ini yang sangat jarang dilakukan. Terjadi pada perusahaan yang berkinerja super bagus.  Tujuan yang paling sering adalah untuk mengurangi pajak. Selain itu juga ada yang berniat untuk menghindari agar tidak terjadi lonjakan (spike) harga saham yang tajam. Share-holder lebih menyukai kinerja harga saham yang naik stabil dalam jangka panjang, daripada kenaikan yang sangat tajam namun beresiko akan ada penurunan tajam juga di kemudian hari.

Adapun angka-angka kinerja perusahaan yang sangat mempengaruhi reputasi (image) perusahaan sehingga berdampak pada harga saham di market adalah:

  • Laba (profit). Perusahaan yang sudah lama beroperasional, kinerja utamanya diukur dari laba. Walaupun pertumbuhan kecil, karena market sudah jenuh misalnya, laba tinggi adalah harapan utama share holder, sehingga laba menjadi penentu harga saham.
  • Pertumbuhan pendapatan (revenue growth). Perusahaan yang relatif baru, belum bisa diandalkan untuk menghasilkan laba, karena fokus utamanya adalah membesarkan perusahaan. Jadi meskipun laba kecil atau bahkan masih rugi, perusahaan (harga saham) tetap dihargai tinggi berdasarkan pertumbuhannya.

Rekayasa Membesarkan atau Mengecilkan Laba

Ingat formula laba sama dengan pendapatan dikurangi beban (biaya). Laba akan naik kalau pendapatan naik, atau kalau biaya turun. Nah, biaya-biaya apa saja yang bisa direkayasa dalam laporan keuangan?

Contoh, sebuah perusahaan property PT Rumah Indah tahun ini membelanjakan 100 milyar rupiah untuk biaya iklan buat penjualan komplek perumahan barunya. Umumnya, biaya iklan ini masuk dalam laporan rugi laba (Income Statement) sebesar 100 milyar. Namun jika perusahaan berniat menggelembungkan profitnya dengan cara mengurangi besarnya biaya, maka belanja 100 milyar tersebut akan dimasukkan ke dalam investasi jangka panjang. Alasannya adalah, iklan yang dibuat tahun ini tersebut akan berdampak sampai 5 tahun ke depan, sehingga dikategorikan sebagai investasi.

Dalam kebijakan akuntansinya, PT Rumah Indah menerapkan depresiasi fixed selama 5 tahun.  Sehingga biaya depresiasi per tahun adalah 20 milyar (100 milyar dibagi 5). Oleh karena itu, di laporan rugi laba, berkenaan dengan belanja iklan tersebut, biaya yang tercatat adalah 20 milyar sebagai biaya depresiasi.

Kesimpulannya, jika PT Rumah Indah tahun ini menginginkan laporan laba yang besar, maka belanja iklan tersebut akan dicatat sebagai investasi dengan biaya depresiasi 20 milyar. Sebagai dampaknya, di laporan keuangan tahun-tahun mendatang (sampai 5 tahun ke depan) akan muncul biaya depresiasi sebesar 20 milyar. Akan berbeda kalo belanja iklan tersebut dicatat sebagai biaya, sehingga tahun ini akan tercatat biaya 100 milyar, dan dan tidak akan berdampak pada pencatatan biaya di tahun depannya (tidak ada biaya depresiasi). Oleh karena itu, usaha untuk menggelembungkan laba tahun ini, akan berdampak pada pengurangan laba di tahun-tahun depannya.

Catatan penting: Biaya-biaya yang memungkinkan untuk direkayasa pencatatannya, dalam arti bisa dicatat sebagai biaya (beban) yang berdampak mengecilkan laba, ataupun juga bisa dicatat sebagai investasi aset yang berdampak membesarkan laba, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Biaya dibayar di muka (deferred expense)
  • Biaya yang belum dibayar (accrued expense)
  • Biaya cadangan untuk masa depan
  • Biaya yang dikeluarkan tahun ini, dan diklaim akan berdampak sampai beberapa tahun ke depan.

Selain merekayasa pencatatan pengeluaran ke dalam akun biaya atau investasi, cara lain untuk memanipulasi laba adalah dengan menempatkan pendapatan komprehensif ke dalam pendapatan yang dihitung dalam rugi-laba. Silahkan baca lebih detail di artikel tentang Laba Komprehensif.

Rekayasa Membesarkan atau Mengecilkan Pendapatan (Revenue)

Untuk jelasnya, langsung saja kita sebutkan contohnya. Misalkan perusahaan konstruksi PT Bangun Indah mendapatkan kontrak untuk membangun gedung-gedung di kompleks perkantoran baru. Itu kontrak 5 tahun, yang bernilai 5 trilyun.  Pencatatan pendapatan bisa berbagai macam kemungkinan:

  • Dicatat sebagai pendapatan tahun ini 5 trilyun
  • Dicatat pendapatan yang dibagi rata tiap tahunnya, masing-masing 1 trilyun selama 5 tahun
  • Dicatat sebagai pendapatan jika pembangunan selesai per tahapnya

Contoh lain, perusahaan produsen alat elektronik PT Elektro Indah bisa berbagai macam kemungkinan pencatatan pendapatan (penjualannya):

  • Dicatat sebagai pendapatan jika pembeli sudah membayarnya
  • Dicatat sebagai pendapatan jika barang sudah diterima pembeli
  • Dicatat sebagai pendapatan jika barang sudah keluar dari gudang untuk dikirimkan

Contoh lain, perusahaan portal internet yang baru berdiri (sebut saja PT ABC), berusaha mengejar pendapatan iklan yang sangat besar, melakukan “barter” pendapatan dengan perusahaan lain yang sejenis (sebut saja PT XYZ). Caranya, PT ABC memperoleh revenue dari PT XYZ untuk pemasangan iklan di portal website PT ABC. Dan sebaliknya, PT ABC memasang iklan di portal website PT XYZ. Di sini tidak ada aliran uang, yang ada adalah pencatatan pendapatan (revenue) dan pencatatan biaya.

Seperti yang sudah di sebut di atas, untuk perusahaan baru, apresiasi dari market lebih berasal dari pertumbuhan revenue daripada perolehan laba operasional. Apalagi pada perusahaan di industri yang sedang booming. Kasus seperti PT ABC dan PT XYZ ini pernah marak terjadi di awal tahun 2000-an ketika jaman booming internet.

Cara Mendeteksinya

Yang pertama, bandingkan dengan angka-angka laporan keuangan periode sebelumnya. Jika ada perubahan yang sangat drastis, lakukan investigasi yang lebih detail. Misalnya:

  • pendapatan periode ini naik 50% daripada periode sebelumnya, padahal pertumbuhan pendapatan rata-rata biasanya sekitar belasan %.
  • profit periode ini relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya, padahal periode ini revenue menurun karena ada insiden salah satu pabriknya terbakar.

Yang kedua, lihat apakah ada perubahan metode/kebijakan akuntansi dalam laporan keuangannya? Tiap laporan keuangan suatu periode, pasti dicantumkan pula ikhtisar laporan keuangan periode sebelumnya. Tujuannya adalah agar pembaca bisa melakukan perbandingan dengan periode sebelumnya. Jika ada bagian yang mengalami perubahan metode pencatatan akuntansi (misalnya pengakuan atas pendapatan, pengakuan atas laba, metode penghitungan depresiasi, revaluasi nilai aset, dan lain-lain) maka angka periode tahun sebelumnya yang dicantumkan di laporan periode ini akan diberikan tambahan catatan “disesuaikan kembali”.

Jadi, jika ada angka-angka di laporan keuangan (baik laporan rugi laba maupun laporan neraca) yang diberi catatan “disesuaikan kembali”, maka investigasi lebih detail apakah berdampak pada perubahan angka yang sangat besar apa tidak.

Contoh berita yang melibatkan dugaan rekayasa manipulasi laporan keuangan

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan