Konsep Investasi Saham: Menjadi Pemilik Bisnis

Menjadi Pemilik Bisnis Melalui Saham

Seorang investor ketika membeli saham, itu sejatinya adalah sedang membeli sebuah bisnis (perusahaan). Tidak perduli seberapa kecil persentase kepemilikan saham, dia tetap dipandang sebagai salah satu pemilik perusahaan tersebut.

Saham bukanlah sekedar lembaran-lembaran (shares) yang harganya naik-turun yang bisa diperjualbelikan dalam jangka yang sangat pendek, bukan sekedar itu. Justru yang lebih hakiki, saham adalah bagian kepemilikan modal di suatu perusahaan.

Saham adalah kepemilikan bagian atas bisnis

Sebagai contoh, saya punya perusahaan dengan nama PT Investor Sadar Dot Com (PT ISDC). Ini adalah perusahaan tertutup, di mana pemegang saham 100% adalah saya sendiri. Dulunya modal awal saya adalah 10 milyar rupiah. Karena ada kebutuhan untuk ekspansi, maka PT ISDC membutuhkan tambahan modal kerja. Pilihan yang bisa saya lakukan adalah:

  1. Menambah dana dari milik saya sendiri
  2. Berhutang ke Bank
  3. Mencari pemodal baru, misalnya saudara atau kawan saya. Dengan melalui perhitungan dan kesepakatan, akhirnya disepakati bahwa kawan saya (sebut saja Bapak Warrent) menambah modal ke PT ISDC sebesar 10 milyar rupiah rupiah, dan besarnya saham Bapak A di PT ISDC adalah 20%. Sehingga kini bagian saham saya jadi 80%.

Walaupun modal baru dari Bapak Warrent adalah sebesar modal pertama saya dulu (10 milyar), saya tidak menjadikan bagian saham Bapak Warrent sebesar 50% karena nilai perusahaan kini sudah lebih besar.

Bisnis PT ISDC semakin sukses. Untuk mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar lagi tentu saja diperlukan tambahan modal kerja. Akhirnya manajemen PT ISDC memutuskan untuk mencari tambahan modal dari pasar saham. Perusahaan kemudian melakukan IPO (Initial Public Offering), menerbitkan sejumlah saham baru senilai 50 milyar rupiah, dan berdasarkan perhitungan dan kesepakatan, saham yang dijual ke public adalah 50% dari keseluruhan total saham ==> sehingga pemegang saham sebelumnya (saya dan Bapak Warrent) memegang 50%. Jadi, pemegang saham sekarang adalah public 50%, saya 40%, dan Bapak Warrent 10%.

Selanjutnya, saham-saham di public yang 50% itu diperjual-belikan di bursa saham Indonesia (disebut pasar sekunder). Saham saya maupun saham Bapak Warrent juga bisa dijual di bursa. Nah, jual-beli saham di pasar sekunder ini hanyalah pemindahan pemegang saham, tidak akan mengurangi atau menambah dana yang sudah ada di PT ISDC.

Seperti itulah penjelasan tentang saham. Oh ya, setelah IPO, nama perusahaan ditambahi tbk sehingga menjadi PT Investor Sadar Dot Com tbk dengan kode saham ISDC.

Jika di kemudian hari PT ISDC butuh tambahan modal kerja lagi, sebagai perusahaan tbk dia bisa menerbitkan tambahan saham baru (Right Issue). Atau bisa juga menerbitkan surat utang (obligasi).

Hasil investasi saham adalah Dividen dan Capital Gain

Setelah PT ISDC mature dan sangat menguntungkan, semua kebutuhan ekspansi bisa dibiayai oleh dananya sendiri (laba perusahaan). Jika sisa laba ada banyak, maka sisa laba itu akan dibagikan kepada para pemegang saham. Inilah keuntungan pertama dari pemegang saham, mendapatkan pembagian laba perusahaan dalam bentuk uang cash yang disebut Dividen. Jumlah dividen yang diterima oleh masing-masing pemegang saham adalah sebesar persentase kepemilikan sahamnya.

Semakin bagus kinerja perusahaan, maka nilai perusahaan juga semakin naik, sehingga harga sahamnya juga semakin naik. Nah kenaikan harga saham inilah yang disebut sebagai Capital Gain. Jadi, ada dua macam keuntungan yang didapatkan oleh pemegang saham, yaitu Dividen dan Capital Gain.

Dengan melihat history ke belakang, kinerja hasil investasi saham di Indonesia sangat bagus. Ditunjukkan oleh angka pertumbuhan index harga saham gabungan (IHSG) selama 30 tahun terakhir yang sebesar 16%. Dan dengan dividend yield sebesar rata-rata 2%, maka rata-rata total return investasi di saham-saham Indonesia adalah 18% per tahun. Angka segitu diperoleh dengan cara menyebar portfolio ke semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara sama rata. Kalau kita mau melakukan analisa yang lebih dalam, dengan memilih perusahaan-perusahaan yang berkinerja sangat bagus, maka semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan return di atas 18%. Saya sendiri, secara personal menargetkan return 25% per tahun.

Resiko investasi saham

Sebaliknya, resiko dari investasi saham adalah tidak mendapatkan dividen dan Capital Loss. Resiko ini terjadi jika kinerja perusahaan menurun, bisnis merugi, atau bahkan bangkrut. Dalam jangka pendek harga saham bisa naik atau turun tajam meskipun tidak ada alasan fundamental perusahaan yang melatar belakanginya, ini sering disebut sebagai resiko pasar. Namun dalam jangka panjang, harga saham akan mengikuti kinerja fundamental perusahaannya. Oleh karena itu, resiko pasar lebih sedikit berdampak pada investor dengan timeframe jangka panjang.

Sudah pasti, setiap investasi selalu ada resikonya. Sering disampaikan bahwa semakin besar return investasi, maka semakin besar pula resikonya. Namun resiko itu berkaitan erat dengan pengetahuan dan perencanaan. Semakin kita tahu akan bisnis dari perusahaan yang bersangkutan, dan kita melakukan penghitungan dan perencanaan yang matang, maka resiko itu semakin kecil.

Resiko juga bisa diperkecil dengan melakukan diversifikasi. Seperti nasehat para investor bijak bestari “jangan taruh telur dalam satu keranjang”. Semakin besar diversifikasi, atau semakin menyebar investasi ke sejumlah besar saham, maka semakin kecil resiko kerugiannya. Namun ada trade-off nya, semakin besar diversifikasi maka akan semakin menurunkan peluang mendapatkan hasil yang luar biasa. Oleh karena itu, diversifikasi mesti dibatasi pada saham-saham yang kita tahu persis bisnis dan peluangnya. Saya membatasi diversifikasi, fokus 80% nilai portfolio investasi saham saya maksimal ada di 15 saham saja.

Macam Jenis Pembeli Saham: Investor dan Spekulator

Di bursa, motivasi orang membeli saham bisa dikategorika ke dua kelompok. Pertama, investor, di mana dia mengharapkan keuntungan dalam jangka panjang seiring dengan kinerja perusahaan. Kedua, trader, di mana dia membeli dan memegangnya dalam jangka pendek, dan kemudian menjualnya untuk segera mendapatkan capital gain. Bentuk ektrim dari trader adalah spekulator, di mana dia menjadikan jual-beli saham hanya seperti bermain judi.

Saya sendiri adalah jenis investor.

Mengapa saya memilih saham sebagai sarana investasi? Karena dengan mempunyai saham perusahaan yang bagus, maka itu artinya saya mempunyai bisnis yang bagus yang dijalankan oleh orang-orang yang kompeten. Saya tidak perlu capek-capek menjalankan operasional perusahaan, let the management work for me.

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

1 tanggapan pada “Konsep Investasi Saham: Menjadi Pemilik Bisnis”

Tinggalkan Balasan