Kumpulan Analisa Fundamental Bank Central Asia (BBCA)

Logo Bank BCA

PT Bank Central Asia Tbk, adalah bank swasta terbesar dan terbaik di Indonesia. Berdiri tahun 1957. Krisis ekonomi tahun 1998 menjadikan BCA diambil alih pemerintah (BPPN). IPO tahun 2000 dengan kode saham BBCA. Saat ini pemegang saham 55% adalah PT Dwimuria Investama Andalan milik keluarga Hartono Bersaudara (Orang terkaya no 1 di Indonesia). Dan 45% sahamnya dimiliki oleh public.

Market Kapitalisasinya terbesar dibandingkan Bank-bank besar lainnya, sehingga menjadi salah satu motor penggerak dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) market Indonesia. Mari kita lihat analisa fundamentalnya, juga analisa-analisa dari pihak lain sebagai tambahan informasi dan pencerahan.

Kinerja Bisnis dan Pertumbuhan Bank BCA

Data laporan keuangan tahun 2008 sampai 2017. Meliputi Aset, Liabilitas, Equitas, Pendapatan (Revenue), Laba Kotor, Laba Usaha, Laba Bersih (Profit), Gross Margin, Net MArgin, ROA, ROE, Asset Turnover, Financial Leverage, DER, CAR, dan NPL.

BBCA - Kinerja Keuangan
Tabel 1. BBCA – Kinerja Keuangan

CAGR 1 tahun adalah pertumbuhan tahun 2016 – 2017. CAGR 9 tahun adalah rata-rata pertumbuhan majemuk tahun 2008 – 2017. Data pertumbuhan meliputi Aset, Liabilitas, Equitas, Pendapatan (Revenue), Laba Kotor, Laba Usaha, Laba Bersih (Profit), dan Harga Saham.

BBCA - Pertumbuhan
Tabel 2. BBCA – Pertumbuhan

Kinerja Market dan Harga Saham BBCA

Di industri perbankan, BBCA memiliki total Market Cap terbesar nomer 1. Walau dari sisi aset dan ekuitas bukan nomer 1 tapi 2 (di bawah Bank BRI dan Bank Mandiri) , dan dari sisi profitabilitas (ROE) juga bukan nomer 1 tapi 2 (di bawah Bank BRI). Itu artinya, saham BBCA adalah yang paling mahal. Fakta lain lagi yang menjadikan harga saham BBCA paling mahal adalah PBV dan PER  paling tinggi di antara bank-bank besar tersebut.

Untuk lebih detail tentang perbandingan BBCA dengan BBRI, BMRI, dan BBNI silahkan baca Perbandingan 4 Bank Terbesar: BBRI, BMRI, BBCA, BBNI – Mencari yang Terbaik.

BBCA - Kinerja Market
Tabel 3. BBCA – Kinerja Market

Mahalnya saham BBCA, apakah menjadikan saham ini yang terbesar dalam memberikan return buat pemegang saham, dalam arti kenaikan harga sahamnya paling tinggi? Tidak. Mari kita bandingkan dengan ketiga bank besar lainnya  (Bank Rakyat Indonesia-BBRI, Bank Mandiri-BMRI, dan Bank Nasional Indonesia-BBNI) berdasarkan data dari tahun 2008 sampai 2017.

CAGR Harga Saham (%):BBCA 23.6; BBRI 25.9; BMRI 26.0; BBNI 35.5
Rata-rata PER: BBCA 18.4; BBRI 11.2; BMRI 13.2; BBNI 11.1
Rata-rata PBV: BBCA 4.0; BBRI 2.8; BMRI 2.3; BBNI 1.6

Pertumbuhan (CAGR) harga saham BCA adalah 23,6% pertahun. Bandingkan dengan BBRI 25,9%, BMRI 26%, dan BBNI 35,5%.  BBCA paling kecil, walaupun secara umum return 23,6% per tahun itu termasuk besar buat investor saham di mana IHSG hanya 18%Catatan, pengitungan return keempat Bank ini hanya berdasarkan harga saham semata, tidak menambahkan dividen yield, tapi untuk kemudahan analisa ini saya asumsikan saja dividen yield-nya sama.

Nah sekarang, kita lihat perbandingan PER (Price to Earning Ratio) dan PBV (Price to Book Value). Selama tahun 2008 sampai 2017 tersebut, rata-rata PER dan PBV saham BBCA paling tinggi, dan yang paling rendah adalah rata-rata PER dan PBV saham BBNI. Lihat, bahwa saham dengan PER dan PBV paling rendah (BBNI) memberikan return yang paling besar (35,5%). Ternyata prinsip value investing terlihat banget relevansinya dengan melihat kinerja perusahaan-perusahaan dalam jangka panjang.

BBCA - Historical Harga Saham
Grafik 4. BBCA – Historical Harga Saham

Valuasi Harga Saham BBCA

Data per 4 Juni 2018

Harga Saham = 22.925
PER (annualized) = 25,65
PBV = 4,15

Metode Relative PER

Nilai rata-rata dan CAGR diambil dari data tahun 2008 sampai 2017.

Expected Harga Saham
= Expected PER x Expected EPS
= Rata-rata PER x EPS 2017 (1 + CAGR EPS)
= 18,4 x 946 x (1 + 17%)
= 20.365

Margin of Safety (MOS)
= (Expected Harga Saham - harga saham) / harga saham
= (20.365 - 22.925)/22.925
= -11%

Metode Relative PBV

Expected Harga Saham
= Expected PBV x Expected BV/share
= Rata-rata PBV x BV/share 2017 (1 + CAGR BV/share)
= 4,0 x 5328 x (1 + 21%)
= 25.787

Margin of Safety (MOS)
= (Expected Harga Saham - harga saham) / harga saham
= (25.787 - 22.925)/22.925
= 12%

Dengan metode valuasi relative PER diperoleh MOS -11%. Dan dengan metode valuasi relative PBV diperoleh MOS 12%. Saya belum menghitung dengan metode valuasi Discounted Free Cash Flow (DFCF).

Catatan: Dari data historical PBV di tabel 4, nilai PBV tidak terlalu berubah significant terhadap perubahan harga saham. Jadi dalam valuasi ini lebih relevan menggunakan metode valuasi relative PER daripada metode valuasi relative PBV.

Referensi dari Tempat Lain

Memahami BBCA lebih detail

Data Financial, Harga Saham, dan Analisa Terupdate dari Portal Besar

Analisa Saham BBCA Berbagai Perusahaan Sekuritas

Analisa Saham BBCA dari Artikel di Website/Blog

  • Diskusi di Stockbit.com
  • BCA menjadi primadona para investor di Pasar Saham karena memiliki fundamental yang sangat kuat (revenue, profit, market share, competitive advantage), likuiditas transaksi saham yang tinggi, dan kemampuan memberi nilai tambah kekayaan (wealth added index/WAI).
  • BBCA: Saham Perbankan Paling Tahan Krisis Dengan Pertumbuhan Sempurna. Dari sisi value investing, saham BBCA masuk ke dalam kategori mahal; namun dari sisi pertumbuhan, BBCA sangat bagus.
  • Perbandingan Bank Mandiri, BRI, dan BCA. Di akhir artikel, penulis lebih memilih BRI. Meskipun artikel ini ditulis tahun 2012, tapi masih tetap relevan hingga sekarang.

Analisa dari Tulisan Ilmiah/Akademik

  • Perhitungan Harga Saham Wajar PT. Bank Central Asia Tbk dengan Menggunakan Metode Discounted Earning Approach dan Price to Book Value. Oleh Frans Hamonangan (Research Manager PT Finansial Bisnis Informasi) dan Dyah Sulistyawati (Senior Lecturer at Faculty of Economic, Tarumanagara University, Jakarta).Paper dengan format tulisan formal akademis. Jadi lengkap dengan landasan teorinya. Juga istilah-istilah seperti Estimasi Tingkat Diskonto (Discount Rate), Weighted Average Cost of Capital (WACC), Cost of Fund, Cost of Equity, Capital Asset Pricing Modelling (CAPM), Cost of Debt, Risk free rate, Risk Premium, faktor Beta, dan lain-lain. Data yang dipakai sampai tahun 2011.
  • Evaluasi Nilai Kewajaran Harga Saham: Studi Komparasi Pada Bank Mandiri, BRI, dan BCA. Oleh: Mohamad Jacobie Henrywidojono. Tesis S2 Manajemen UGM (2014)
  • Kajian Penilaian Harga Saham Subsektor Perbankan Kelompok LQ 45 dengan Menggunakan Analisis Teknikal dan Fundamental. Oleh: Christ Imanuel Abrahams. Skripsi Sarjana Ekonomi IPB (2011).Membandingkan PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Danamon Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk. Membahas Analisis teknikal (Simple Moving Average, Moving Average Envelopes, Peramalan Pergerakan Harga Saham), Analisis Fundamental (Analisis Makroekonomi (PDB, nilai tukar rupiah, inflasi, pengangguran, tingkat bunga, Pengaruh Makroekonomi Terhadap Harga Saham), Analisis Industri, Analisis masing-masing Perusahaan, dan Implikasi Manajerial
  • Analisis Fundamental untuk Menentukan Nilai Intrinsik PT Bank Central Asia Tbk dengan Menggunakan Free Cash Flow to Equity dan Abnormal Earning. Oleh: Fanny Suzuda Pohan. Tesis Magister Manajemen Universitas Indonesia (2008).

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan