Macam-macam Jenis Indeks Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Investor saham wajib mengetahui berbagai macam jenis indeks yang ada di BEI, untuk membantu mempermudah investor dalam memilih kategori saham sesuai dengan area yang diketahuinya. Karena tidak mudah buat investor untuk mengerti dengan detail tentang semua emiten (saham) yang ada. Adapun di antara indeks yang paling terkenal adalah IHSG, LQ45, dan Indeks saham syariah.

Secara umum yang akan dibahas di artikel ini adalah:

Tujuan Indeks

Indeks harga sekuritas yang terdaftar di BEI dibuat untuk memberikan informasi kepada investor tentang kinerja sekuritas atau pasarnya secara keseluruhan. Bertujuan untuk memudahkan investor dalam memilih saham tertentu sesuai dengan karakteristik dan kinerjanya.

Pada perkembangan terakhir, pembuatan indeks dimaksudkan untuk digunakan sebagai dasar untuk produk derivatif, seperti reksa dana, Exchange Traded Fund (ETF), dan lain-lain. Bagi investor yang awam, akan lebih mudah untuk investasi di reksadana Indeks daripada membeli satu per satu saham yang ada di indeks tersebut.

Jenis Indeks di BEI

Hingga saat ini, BEI telah mencatatkan 14 indeks saham, 1 keluarga indeks sektor, 1 keluarga indeks papan daftar, dan 5 indeks untuk masing-masing dari 3 kategori obligasi; obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan komposit (menggunakan obligasi pemerintah dan korporasi). Total ada 24 Indeks.

1. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengukur pergerakan semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

2. Indeks LQ45, mengukur performa harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

3. Indeks IDX30, mengukur performa harga dari 30 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

4. Indeks IDX80, mengukur performa harga dari 80 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

5. Indeks IDX Value30 (IDXV30), mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

6. Indeks IDX Growth30 (IDXG30), mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki tren pertumbuhan laba bersih dan pendapatan relatif terhadap harga dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

7. Indeks KOMPAS100, mengukur performa harga dari 100 saham yang memiliki likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar. Indeks KOMPAS100 diluncurkan berkerja sama dengan perusahaan media Kompas Gramedia.

8. Indeks IDX SMC Composite / IDX Small-Mid Cap Composite Index, mengukur performa harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah.

9. Indeks IDX SMC Liquid / IDX Small-Mid Cap Liquid Index, mengukur performa harga dari saham-saham dengan likuiditas tinggi yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah. Konstituen Indeks IDX SMC Liquid diambil dari konstituen Indeks IDX SMC Composite.

10. Indeks IDX High Dividend 20/ IDX High Dividend 20 Index, terdiri atas 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.

11. Indeks IDX BUMN20/ IDX BUMN20 Index, mengukur performa harga atas 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan afiliasinya.

12. Indeks Saham Syariah Indonesia/ Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), mengukur performa harga seluruh saham yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).

13. Jakarta Islamic Index (JII), mengukur performa harga dari 30 saham-saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.

14. Jakarta Islamic Index 70 (JII70), mengukur performa harga dari 70 saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.

15. Indeks Sektoral, mengukur performa harga seluruh saham dari masing-masing sektor industri yang terdapat pada klasifikasi Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). Indeks ini terdiri dari:

  • Indeks Pertanian
  • Indeks Pertambangan
  • Indeks Industri Dasar dan Kimia
  • Indeks Aneka Industri
  • Indeks Industri Barang Konsumsi
  • Indeks Properti, Real Estat, dan Konstruksi Bangunan
  • Indeks Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi
  • Indeks Keuangan
  • Indeks Perdagangan, Jasa, dan Investasi
  • Indeks Manufaktur

16. Indeks Papan Pencatatan (Board Index), mengukur performa harga seluruh saham tercatat sesuai dengan papan pencatatannya yaitu Utama dan Pengembangan. Suatu saham masuk pada papan pencatatan Utama atau Pengembangan sesuai dengan ketentuan pencatatan saham di BEI. Indeks ini terdiri dari:

  • Indeks Papan Utama (Main Board Index)
  • Indeks Papan Pengembangan (Development Board Index)

17. Indeks BISNIS-27, mengukur performa harga dari 27 saham yang dipilih oleh Komite Indeks Bisnis Indonesia. Indeks BISNIS-27 diluncurkan berkerja sama dengan perusahaan media PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit surat kabar harian Bisnis Indonesia).

18. Indeks PEFINDO25, mengukur performa harga saham dari 25 emiten kecil dan menengah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi. Indeks PEFINDO25 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).

19, Indeks SRI-KEHATI, mengukur performa harga saham dari 25 emiten yang memiliki kinerja yang baik dalam mendorong usaha-usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik atau disebut Sustainable and Responsible Investment (SRI). Indeks SRI-KEHATI diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI).

20. Indeks infobank15, adalah indeks yang terdiri dari 15 saham perbankan yang memiliki faktor fundamental yang baik dan likuiditas perdagangan yang tinggi. Indeks infobank15 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media PT Infoartha Pratama (penerbit Majalah Infobank).

21. Indeks SMinfra18, adalah indeks yang terdiri dari 18 saham yang konstituennya dipilih dari sektor­-sektor infrastruktur, penunjang infrastruktur, dan pembiayaan infrastruktur (dari sektor perbankan) yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Indeks SMinfra18 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI).

22. Indeks MNC36, terdiri dari 36 saham yang memiliki kinerja positif yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi, dan fundametal serta rasio keuangan. Indeks MNC36 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media Media Nusantara Citra (MNC) Group.

23. Indeks Investor33, mengukur performa harga 33 saham yang dipilih dari 100 (seratus) Perusahaan Tercatat terbaik versi Majalah Investor yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi dan fundamental serta rasio keuangan. Indeks Investor33 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media PT Media Investor Indonesia (penerbit Majalah Investor).

24. Indeks PEFINDO i-Grade / PEFINDO Investment Grade Index, mengukur performa harga dari 30 saham emiten-emiten yang memiliki peringkat investment grade dari PEFINDO (idAAA hingga idBBB-) yang berkapitalisasi pasar paling besar. Indeks PEFINDO i-Grade diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).

Metode untuk Menentukan Kategori Indeks

1. Market Capitalization Weighted Average untuk 15 indeks berikut: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Sektoral (10 Sektor), Jakarta Islamic Index (JII), Papan Pencatatan (2 Papan), KOMPAS100, BISNIS-27, PEFINDO25, SRI-KEHATI, Saham Syariah Indonesia (ISSI), infobank15, MNC36, Investor33, IDX SMC Composite, IDX SMC Liquid, dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70).

2. Capped Market Capitalization Weighted Average untuk 3 indeks berikut: Indeks SMinfra18, IDX BUMN20, dan PEFINDO i-Grade.

3. Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted Average untuk 5 indeks berikut: Indeks LQ45, IDX30, IDX80, IDX Value30 (IDXV30), dan IDX Growth30 (IDXG30).

4. Capped Dividend Yield Adjusted Free-Float Market Capitalization Weighted untuk Indeks IDX High Dividend 20.

Rumus Formula untuk Menghitung Nilai Indeks

Seperti di mayoritas bursa-bursa dunia, indeks yang ada di BEI dihitung dengan menggunakan metodologi rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah saham tercatat (nilai pasar) atau Market Value Weighted Average Index. Formula dasar penghitungan indeks adalah:

Indeks = (Nilai pasar / Nilai Dasar) * 100

Nilai Pasar adalah kumulatif jumlah saham tercatat (yang digunakan untuk perhitungan indeks) dikali dengan harga pasar. Nilai Pasar biasa disebut juga Kapitalisasi Pasar (Market Cap). Formula untuk menghitung Nilai Pasar adalah:

Nilai Pasar = p1q1 + p2q2 + . . . + pnqn

Dimana:
p = Closing price (harga yang terjadi) untuk emiten ke-i.
q = Jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks (jumlah saham yang tercatat) untuk emiten ke-i.
n = Jumlah emiten yang tercatat di BEI (jumlah emiten yang digunakan untuk perhitungan indeks)

Nilai Dasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali dengan harga pada hari dasar. Contoh hari dasar untuk IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982, dengan nilai dasar 100.

Bobot (Weighted) yang digunakan untuk penghitungan indeks adalah jumlah saham tercatat atau biasa juga disebut dengan jumlah saham yang digunakan untuk perhitungan indeks. Meskipun hampir semuanya menggunakan jumlah saham tercatat, akan tetapi terdapat beberapa emiten tidak menggunakan seluruh saham tercatat untuk perhitungan indeks. Contoh beberapa emiten perbankan, emiten yang menggunakan 2 nilai nominal atau emiten yang atas pertimbangan BEI memiliki jumlah saham tercatat yang sangat besar, sehingga bobotnya tidak lagi menggambarkan pergerakan indeks secara keseluruhan. Untuk mengeleminasi pengaruh faktor-faktor yang bukan perubahan harga saham, maka selalu ada penyesuain Nilai Dasar (Adjustment) bila terjadi corporate action seperti stock split, pembagian dividen atau bonus saham, penawaran terbatas atau HMETD dan lain-lain. Sehingga dengan demikian indeks akan mencerminkan pergerakan harga saham saja. Penjelasan lebih detail silahkan baca referensi.

Perbandingan Kinerja Indeks

Tabel 1 berikut membandingkan kinerja dari hampir semua indeks yang terdaftar di BEI. Hari dasar adalah tanggal perhitungan index dimulai, di mana waktunya lebih lama dari tanggal peluncuran indeks oleh BEI karena bertujuan untuk mendapatkan rentang data yang mencerminkan market (jangka panjang). Jumlah tahun dihitung dari hari dasar sampai end of 2018. CAGR (compound annual growth rate) adalah rata-rata kenaikan indeks per tahun selama jumlah tahun tersebut.

Perbandingan Kinerja Indeks Saham di BEI
Tabel 1. Perbandingan Kinerja Indeks Saham di BEI

Catatan penting: Dari tabel 1 di atas, perbandingan angka-angka CAGR bisa membuat misleading jika langsung mengasumsikan bahwa index dengan CAGR terbesar adalah yang paling bagus kinerjanya. Kenapa? Karena pengukuran CAGR di tabel di atas dilakukan pada tahun awal yang berbeda (tahun pengukuran indeks di mulai). Padahal kinerja market sangat berbeda di sepanjang tahun yang berbeda. Oleh karena itu, perbandingan yang paling valid seharusnya dilakukan pada rentang waktu yang sama.

Tabel 2 di bawah ini membandingkan kinerja indeks dengan rentang waktu yang sama. Sehingga perbandingannya valid, tidak misleading.

Perbandingan Kinerja Index Sektoral di BEI
Tabel 2. Perbandingan Kinerja Index Sektoral di BEI

Dari tabel 2 di atas, kinerja indeks sektor Consumer adalah the best. Melebihi sektor-sektor lainnya. Investor sangat layak untuk memberikan perhatian lebih pada sektor Consumer ini, karena secara history memberikan peluang investasi yang lebih baik dibandingkan sektor lainnya.

Insight: Opportunity bagi Investor Jangka Panjang

Insight berdasarkan tabel 2 di atas. Indeks sektoral diluncurkan pada Januari 1996, dengan perhitungan tanggal dasar (awal) Desember 1995 pada nilai dasar (awal) sama dengan 100. Per Desember 2018, indeks sektoral berusia 23 tahun. Selama 23 tahun itu, sektor Consumer mengalami kenaikan rata-rata per tahun (CAGR) 15,2%. Cukup jauh di atas IHSG yang 11,4%. Memberikan insight bagi investor jangka panjang untuk memberi perhatian lebih pada sektor Consumer ini. Andalan sektor Comsumer: UNVR, ICBP.

Memang data historical tidak bisa serta merta dijadikan pedoman untuk memprediksi masa depan. Namun di balik angka-angka itu ada konteks/fundamental yang bisa memberi alasan kuat. Indonesia adalah negara berkembang, dan di titik ekonomi sekarang masih jauh dari titik jenuh. Karakteristik negara berkembang adalah tingkat konsumsi yang meningkat yang melebihi pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Jadi untuk tahun-tahun ke depan, pertumbuhan indeks sektor Consumer diharapkan masih tetap melebihi kinerja IHSG.

Adapun sektor Basic Industri, CAGR hanya 9,8%, cukup jauh di bawah IHSG. Itupun tertolong oleh JPFA dan CPIN yang secara karakteristik lebih cocok dimasukan dalam sektor Consumer. Jika JPFA dan CPIN di-take out dari Basic Industri, maka kinerja sektor Basic Industri ini akan lebih kecil lagi.

Referensi

Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Balasan