Mengatasi Bias dan Kesalahan dalam Keputusan Investasi

Sebagai manusia, wajar kita berbuat kesalahan. Seperti kata para bijak bestari, bahwa manusia adalah tempatnya berbuat salah. Namun pengakuan itu saja tidak cukup, harus diikuti dengan perbaikan setelah berbuat salah tersebut. Yang celaka adalah, tahu kalau telah berbuat salah, namun tidak memperbaikinya. Dan yang lebih celaka adalah, tidak tahu kalau telah berbuat salah, sehingga kesalahan itu bisa berlanjut terus-menerus tanpa disadari. Kesalahan yang sering terjadi secara berulang-ulang (bahkan terkesan sistematis) dan sering tidak disadari, itulah yang disebut dengan bias.

Tulisan ini akan membahas mengapa manusia cenderung bias? Macam-macam Bias dan penjelasannya dalam konteks market. Dimulai dari bias Over Confidence, Over Optimist, dan seterusnya hingga menyebabkan maket bubble, dan akhirnya market crash.  Dan terakhir akan dibahas cara-cara mengatasi bias-bias ini.

Mengapa Manusia Cenderung untuk Bias

Sebagai contoh, ada dua garis lurus, yaitu garis A dan garis B. Coba lihat dengan sekilas. Lebih Panjang mana, garis A atau garis B? Secara sekilas akan terlihat bahwa garis B lebih Panjang daripada garis A. Padahal kalau diukur, kedua garis tersebut sama panjangnya.

Bias - Perception on Line
Bias – Perception on Line

Bias seperti ini tertanam dalam pikiran kita. Siapapun akan mengalami hal yang sama. Nah, gimana caranya agar kita bisa mengetahui bahwa itu adalah bias? Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui dengan pasti bahwa garis A sama panjang dengan garis B? Caranya adalah dengan melakukan pengukuran.

Mengapa bias ini ada di dalam pikiran manusia? Itu berkaitan dengan sejarah evolusi manusia. Jaman dahulu kala ketika manusia masih menjadi makhluk yang lebih lemah dari yang lainnya, manusia sering menjadi buruan hewan-hewan besar seperti singa. Manusia membangun kemampuannya dengan cara berpikir cepat, melihat dengan cepat, dan merespon dengan cepat.

Sebagai contoh, jika di hutan terdengar suara kresek-kresek di balik rerumputan, maka dengan cepat manusia akan menduga bahwa itu adalah predator dan dia segera lari untuk memanjat pohon terdekat. Jika dugaan itu benar, maka manusia akan selamat dari terkaman singa. Dan jika dugaan itu salah, maka buat si manusia tidak apa-apa, paling-paling hanya kecapekan sedikit. Lebih baik bertindak walaupun salah menyangka, daripada persangkaan itu benar namun dia tidak bertindak apa-apa.

Itu dulu, di padang savanna Afrika di mana manusia menjadi mangsa para predator besar. Jaman sekarang, di sebuah pasar saham, jika manusia bertindak dengan persangkaan (Analisa) yang salah, maka bisa matilah dia (dramatisir untuk kerugian trading yang sangat besar). Di pasar saham, lebih baik diam dengan analisa benar, daripada bertindak berdasarkan analisa yang salah.

Dalam dunia akademik, Behavioral Finance membahas perilaku manusia yang mudah bias ini . Dan lebih khusus dalam dunia investasi, Behavioral Finance ini lebih disebut sebagai Behavioral Investing. Sekarang, mari kita bahas bias-bias yang sering dilakukan oleh manusia sehingga menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Terlalu Percaya Diri (Over Confidence)

Investor merasa bahwa dirinya lebih mampu, pintar, baik, atau hebat (dan hal positif lainnya) dari yang sebenarnya. Percaya diri itu adalah hal yang baik, karena bisa menggerakkan orang untuk berbuat dan mengambil keputusan. Kadang kala kita dihadapkan dengan situasi yang butuh tindakan dan keputusan yang tepat. Nah, rasa percaya diri di sini penting.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika percaya diri itu melebihi kapasitas yang sebenarnya. Akan sangat berbahaya, ketika kapasitas itu tidak mampu menopang beban yang sebenarnya lebih besar.

Terlalu Optimis (Over Optimist)

Akibat dari bias terlalu Percaya Diri adalah Terlalu Optimis. Rasa percaya diri juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Ketika market sedang bullish (di mana harga-harga saham pada naik) maka investor akan cenderung semakin berpikir bahwa dia itu hebat. Dia optimis bahwa market ada di pihak dia.

Rasa Percaya diri telah (seolah-olah) divalidasi oleh hasil yang sementara, menyebabkan dia semakin dan terlalu Optimis. Dia berpikir bahwa harga-harga saham akan terus naik, trend naik akan terus berlanjut.

Illusion of control

Saking percayanya pada dirinya yang hebat, dan saking optimisnya dia kepada masa depan, maka dia beranggapan bahwa semuanya bisa dia kontrol. Dia merasa bisa mengontrol dirinya sendiri, merasa bisa mengontrol beban seberat apapun. Dan seolah-olah bisa mengontrol masa depan. Keterlenaan yang amat sangat.

Hindsight Bias

Ketika harga saham-saham dia naik, dia berpikir “Nah, apa yang saya bilang. Benar khan analisa saya. Saya sudah yakin kalau saham ini memang akan naik”. Setiap kenaikan harga sahamnya, dia pandang sebagai konfirmasi atas kebenaran tesis dan keputusan investasinya.

Seolah-olah dia itu bisa meramalkan masa depan. Pola-pola harga saham di masa lalu, dalam pikiran dia, itu berulang di masa depan. Dan dengan pola masa lalu itu, dia yakin bisa memprediksi masa depan.

Bias Konfirmasi (Confirmation/Confirmatory Bias)

Data dan informasi yang diambil dan analisa, adalah cenderung data-data dan informasi yang mendukung dan mengkonfirmasi pilihan dia selama ini. Dia mencari berita-berita masa lalu tentang kehebatan kinerja saham pilihannya. Dia lupa untuk mencari informasi yang sebaliknya, tentang kegagalan masa lalu saham tersebut. Kalau sekarang ada data atau informasi yang sebaliknya tersebut (negatif) maka dia akan mengabaikannya. Kalau kita ringkas, dia selalu mencari pembenaran atas pilihan dan keputusannya.

Mengikuti Kerumunan (Madness of The Crowd)

Ketika pasar sedang bullish, kebanyakan orang mengalami bias-bias yang telah dibahas di atas. Investor akan berpikir “Toh semua orang melakukannya”. Karena hampir semua orang melakukannya, maka tindakan yang sembrono dan tidak masuk akal pun akan tampak wajar. Seolah-olah semua akan baik-baik saja.

Dalam skala yang lebih kecil, bias-bias ini terjadi pada investor scara individual. Dan dalam skala besar, terjadi pada market secara keseluruhan. Jika ini terjadi secara massif di pasar saham, maka akan menyebabkan harga-harga saham terus naik secara tidak masuk akal, hingga terjadilah bubble.

Dalam bubble, kenaikan harga-harga saham itu hanya berisi ekspektasi belaka yang kosong. Tidak didasari dengan fundamental bisnis yang kokoh. Mungkin bisnisnya kokoh, tapi harga saham sudah menjadi sangat tinggi itu menjadikan saham tidak mempunyai dasar (pijakan) yang kokoh. Hingga akhirnya bubble pecah.

Terlalu Pesimis (Over Pessimist)

Setelah bubble pecah, market crash. Harga-harga saham jatuh. Harga saham turun menuju harga wajarnya. Namun penuruan itu tidak berhenti sampai di harga wajar, penurunan terus berlanjut hingga harga saham rendah tidak masuk akal. Market mengalami trend bearish. Pesimisme terjadi di mana-mana. Setiap hari market dibombardir dengan berita-berita negatif.

Bias-bias lain yang terkait dengan kondisi bearish biasanya adalah:

  • Lost Aversion
    Orang akan cenderung lebih sensitif terhadap kerugian dari pada keuntungan. Orang lebih takut kehilangan daripada mendapatkan peluang keuntungan dengan nilai yang sama. Ketika realita tidak sesuai dengan harapan, harga saham sekarang turun dan lebih rendah daripada harga waktu pembelian, dan fundamental bisnis perusahaan juga jatuh, maka investor akan merasa sakit yang amat sangat (painful). Idealnya, dengan kondisi seperti ini sebaiknya investor melepas (menjual) sahamnya, dan kemudian mencari saham lain yang punya prospek lebih. Namun menjual saham yang turun, itu artinya merealisasikan kerugian, itu adalah hal yang menyakitkan dan sering dihindari oleh investor.
  • Sunk Cost
    Ini berhubungan dengan bias Lost Aversion. Walaupun sudah jelas-jelas investasinya merugi, harga saham turun, dan fundamental bisnis perusahaan sudah sangat buruk, namun investor tetap tidak mau melepas sahamnya. Dia berpikir “Ah, saya sudah mengeluarkan uang yang terlalu banyak untuk memulai ini. Sayang sekali kalau ini saya sudahi, nanti akan sia-sia”. Padahal, kalau investor mau menjual saham yang telah gagal itu, dan hasil penjualan saham digunakan untuk membeli saham yang lebih baik, maka kemungkinan lebih besar dia akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Hingga akhirnya sampailah titik nadir. Jika penurunan market itu sangat dalam, dan trend brearish berlangsung sangat lama, maka itu disebut sebagai masa depresi. Namun market tidak akan mati. Selanjutnya siklus akan berjalan kembali.

Mengatasi Bias untuk Meminimalkan Kesalahan dalam Keputusan Investasi

Kecenderungan bias ini tertanam inherent di dalam diri manusia. Paling tidak, ada dua hal yang harus kita lakukan. Yang pertama, lakukan pengukuran yang seobyektif mungkin. Seperti ditunjukkan oleh dua garis yang telah dibahas di atas, persepsi seolah-olah begitu mudahnya dibohongi. Satu-satunya cara untuk memastikan bahwa garis B adalah sama panjang dengan garis A, hanya dengan melakukan pengukuran.

Demikian juga dengan saham. Analisa yang mendalam harus dilakukan. Keamanan investasi yang ditunjukkan oleh Margin of Safety, harus menjadi alasan utama dalam setiap keputusan investasi.

Yang kedua, membuat rencana investasi (investing plan). Dengan kriteria apa saham-saham dipilih untuk dijadikan portfolio? Kondisi-kondisi yang bagaimanakah yang menentukan keputusan untuk membeli saham? Bagaimanakah kita mengatur strategi portfolio? Dan kondisi-kondisi yang bagaimanakah yang menentukan keputusan untuk menjual saham?

Ketika market dalam situasi chaos, baik dalam masa bullish maupun bearish, tetaplah disiplin dengan rencana investasi. Mengubah strategi (rencana) dalam masa-masa chaos, itu sangat tidak direkomendasikan. Dalam masa chaos itu, kekuatan bias sangat kuat. Silahkan baca juga Sikap Investor Menghadapi Kejatuhan Harga Saham (Market Crash).

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan