Portofolio

Pemilihan portfolio investor sadar didasarkan:

Value Investing. Saham yang harganya lebih murah daripada harga wajarnya sehingga memberikan margin of safety (MOS) yang cukup besar. Dengan ditopang oleh fundamental perusahaan yang kokoh. Fundamental yang kokoh bukan berarti sedang dalam kondisi terbaiknya, mungkin sedang dalam kondisi terburuknya namun berdasarkan perhitungan akan tetap mampu bertahan dan akan turn over.

Growth Investing. Berpotensi tumbuh di masa depannya. Untuk jenis saham yang tumbuh, tidak harus membeli dengan harga yang sangat murah, cukup dengan harga yang masuk akal (yang penting tidak terlalu tinggi). Pertumbuhan harga saham bisa didapat dari dua hal, pertama dari bisnis yang tumbuh, kedua dari bisnis yang menguntungkan walaupun pertumbuhannya biasa saja.

Focus Investing. Sebagian besar dana terkonsentrasi di beberapa saham tertentu. Selama tahu bisnisnya, tidak perlu melakukan diversifikasi ke banyak saham. Oleh karena itu semakin tahu bisnisnya, maka semakin kecil resikonya, dan akan semakin maksimal hasilnya.

Daftar Saham Portfolio Investor Sadar

Sebaran saham meliputi berbagai industri di antaranya property, real estate, industrial estate, perdagangan, bank, energi, industri dasar kimia, industri dasar olahan logam, industri dasar beton, industri dasar plastik dan kemasan, industri barang konsumsi makanan dan minuman, aneka industri otomotif dan komponennya, aneka industri tekstil dan garmen. Berikut ini daftar saham yang menjadi portofolio.

Kategori 1. Big and Great Business. Komposisi 60% dari portfolio.

UNVR - Unilever Indonesia 
CPIN - Charoen Pokphand Indonesia 
JPFA - Japfa Comfeed Indonesia  
INDF - Indofood Sukses Makmur   
ICBP - Indofood CBP Sukses Makmur  
GGRM - Gudang Garam   
HMSP - H.M. Sampoerna  
BBNI - Bank Negara Indonesia (Persero)   
BBRI - Bank Rakyat Indonesia (Persero)  

Kategori 2. Small and Great Business. Komposisi maksimal 15% dari portfolio.

ULTJ - Ultra Jaya Milk Industry & Trading 
EKAD - Ekadharma International 
DLL - Dan lain-lain, dalam proses hunting

Kategori 3. Turnaround. Komposisi maksimal 15% dari portfolio.

LPCK - Lippo Cikarang 
LPPF - Matahari Department Store
BBKP - Bank Bukopin
BNLI - Bank Permata
GJTL - Gajah Tunggal 

Kategori 4. Cyclical. Komposisi maksimal 5% dari portfolio.

WSBP - Waskita Beton Precast 
PGAS - Perusahaan Gas Negara 
AKRA - AKR Corporindo 

Kategori 5. Cheap Stocks. Komposisi maksimal 5% dari portfolio.

ADMG - Polychem Indonesia 
BTON - Betonjaya Manunggal 
MICE - Multi Indocitra
PBID - Panca Budi Idaman
RDTX - Roda Vivatex

Ada yang bertanya “Jika saya membeli sahah-saham yang sudah menjadi portfolio InvestorSadar, apakah saya akan mendapatkan hasil seperti hasil yang didapatkan oleh InvestorSadar?” Saya jawab belum tentu. Karena itu tergantung pada strategi portfolionya:

  • Berapa komposisi (persentase) tiap-tiap saham atas portfolio total?
  • Berapa harga waktu beli? Juga harga jika menjual?
  • Apakah metode belinya secara sekaligus (lumpsum) apa bertahap?
  • Kapan melakukan jual-beli untuk rebalancing portfolio?

Daftar Saham Lain yang Dimonitor

Selain saham-saham yang sudah menjadi portfolio tersebut, saya juga memonitor Saham-saham Blue Chip Pilihan. Saham-saham blue chip ini layak ditunggu ketika market turun. Karena ketika market sedang normal, harga saham-saham ini tidak mudah turun kecuali karena ada isue atau masalah fundamental yang besar.

Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Balasan