Rasio-rasio Penting untuk Investor dalam Analisa Laporan Keuangan

Setelah dibahas dasar-dasar laporan keuangan, sekarang mari kita bahas rasio-rasio dalam analisa laporan keuangan yang sangat penting untuk kita ketahui, sehingga semua keputusan investasi didasarkan atas analisa yang mendalam. Item-item (akun) yang dipakai di rasio-rasio ini, semuanya telah ada di tulisan dasar-dasar laporan keuangan tersebut.

1. ROE, Rasio Keuntungan atas Modal

Dari sisi investor, rasio yang paling penting adalah ROE (Return on Equity). Dalam banyak kesempatan disebut juga ROI (Return on Investment). Ini menunjukkan seberapa besar hasil yang didapatkan oleh investasi modal. Perusahaan yang menguntungkan akan menghasilkan ROE yang besar. Silahkan baca Daftar ROE Perusahaan dan Saham Terbaik Indonesia.

Secara umum ROE mestinya lebih besar daripada bunga bank, karena kalau ROE lebih kecil dari bunga bank, maka buat apa capek-capek menjalankan perusahaan kalau dengan diam saja dapat hasil dari bunga bank.

ROE 	= Net Profit (laba bersih) / Equity

Rasio-rasio sejenis (seperti ROA, ROCE, ROIC) merupakan turunan dari ROE. Biasanya dipakai untuk menganalisa lebih dalam tentang competitive advantage; di mana analisanya dibandingkan dengan kompetitor, market, sektor, dan bahkan antar negara.

ROA (Return on Asset)

ROA = Net Profit / Asset

ROCE (Return on Capital Employed)

ROCE = Operating Profit / Capital Employed

Capital Employed merupakan capital (modal) yang dimiliki oleh perusahaan, di mana

Capital Employed = Equity + Utang Jangka Panjang

ROIC (Return on Invested Capital)

ROIC =  Operating Profit / Invested Capital

Invested Capital merupakan capital (modal) yang digunakan secara aktif oleh perusahaan, di mana

Invested Capital = Capital Employed – nonOperatingAssest

Yang termasuk Non operating Asset adalah kas/setara kas, investasi di luar bisnis (misalnya saham), dan aset-aset yang bukan bagian dari operation yang sudah tidak aktif (misalnya aset tanah yang nganggur).

2. Analisa Dupont: Komponen-komponen ROE

Rasio ROE di-breakdown ke dalam beberapa aspek penyusunnya. Dan aspek-aspek penyusun ini mewakili bagian-bagian yang sangat krusial di perusahaan.

ROE = Net Profit / Equity
= (Net Profit / Equity) x (Revenue/Revenue) x (Aset/Aset)
= (Net Profit / Revenue) x (Revenue/Aset) x (Aset/Equity)
= Net Margin x Asset Turnover x Financial Leverage

Dari persamaan di atas, kita bisa lihat bahwa ROA (Return on Asset) merupakan kombinasi Net Margin dan Asset Turnover.

ROA = Net Profit / Asset
= (Net Profit / Revenue) x (Revenue/Asset)
= Net Margin x Asset Turnover

2.1. Net Margin: Rasio Keuntungan atas Penjualan

Net Margin (Margin Bersih) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, dengan cara meningkatkan revenue dan menurunkan (lebih tepatnya mengoptimalkan) biaya (cost). Ini adalah tugas utama dari operasional perusahaan.

Perusahaan yang mempunyai competitive advantage akan mempunyai margin yang besar, sehingga ketika dalam kompetisi yang sangat sengit dan terpaksa harus menurunkan harga, maka masih ada ruang untuk masih mendapatkan margin. Bandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki competitive advantage (margin kecil), maka dia akan gampang kolaps ketika terjadi perang harga.

Net Margin = Net Profit / Revenue

Rasio turunannya adalah Operating Margin (Margin Operasional) dan Gross Margin (Margin Kotor).

Operating Margin = Operating Profit / Revenue
Gross Margin = Gross Profit / Revenue

2.2. Asset Turnover

Asset Turnover menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh revenue. Industri-industri tertentu mempunyai Asset Turnover tinggi, misalnya retail. Makanya dengan perputaran aset yang tinggi, bisnis retail bersedia untuk mengambil margin yang relatif kecil. Sebaliknya, industri dengan Asset Turnover rendah akan mengambil margin yang besar, misalnya industri manufaktur yang padat dengan investasi peralatan berat.

Asset Turnover = Sales / Asset

2.3. Financial Leverage (Equity Multiplier)

Financial Leverage = Asset / Equities

Financial Leverage menunjukkan komposisi modal perusahaan, yaitu dari [1] modal ekuitas dari pemegang saham (share holder) dan [2] modal liabilities dari kreditur (dan supplier). Semakin tinggi angka ini, maka ROE akan semakin tinggi. Semakin tinggi komposisi equity maka nilai Leverage semakin rendah, dan sebaliknya semakin tinggi komposisi utang maka nilai Leverage semakin tinggi.

Selain meningkatkan nilai Leverage, utang akan meningkatkan biaya bunga sehingga Net Margin akan turun. Maka itulah pentingnya strategy financial (oleh Direktorat Keuangan) dalam menuntukan komposisi Ekuitas dan Utang. Namun jika utang itu tidak berbunga, maka Leverage ini tidak akan menurunkan Net Margin. Utang tidak berbunga adalah utang dagang dari Supplier. Unilever (UNVR) dengan kehebatan bisnisnya bisa memanfaatkan utang dagang yang besar sehingga Leverage-nya sangat tinggi namun tidak berdampak pada biaya bunga.

Financial Leverage ini semakin besar jika utang membesar, karena utang berbanding terbalik dengan equity. Semakin besar nilainya, maka daya pengungkit untuk ROE akan semakin besar.

Di sinilah letak trade-off nya. Jika komposisi utang lebih besar, maka dampaknya ROE akan lebih besar, namun biaya untuk bunga dan resiko juga semakin besar. Untuk itu diperlukan strategy financial yang sangat hati-hati untuk ini.

3. Rasio Kesehatan Perusahaan

Sebagian besar merupakan rasio-rasio dalam akun di balance sheet, yang merupakan trade-off dari utang (liabilities). Karena utang kalau dimanage dengan baik maka akan sangat menguntungkan, sementara itu kalau salah manage akan jadi bumerang.

3.1. Rasio Kesehatan Perusahaan – Liquiditas

Merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya.

Current Ratio (Rasio Lancar)
= Current Assest / Current Liabilities

Sebagai guidance awal, ukuran kesehatan adalah Current Ratio > 2. Namun ini bukan ukuran mati, tergantung juga dari kemampuan perusahaan dalam memanage bisnisnya.

Quick Ratio
= (Current Assest – Inventory) / Current Liabilities

Ukuran ini lebih liquid daripada Current Ratio

Cash Ratio
= Cash / Current Liabilitis

Lebih liquid lagi daripada Quick Ratio

3.2. Rasio Kesehatan Perusahaan – Solvabilitas

DER (Debt to Equity Ratio) 
= Liabilities / Equities

Merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya. Sebagai guidance awal, umumnya perusahaan yang sehat mempunyai DER < 1. Sebenarnya yang perlu lebih di-highlight adalah komponen DER dari utang yang berbunga, sementara itu utang tanpa bunga justru malah membuat banyak manfaat (seperti dibahas dalam Financial Leverage di atas).

Perusahaan-perusahaan besar dan super kuat seperti Unilever (UNVR) mempunyai DER yang besar. Namun sebagian besar liabilitas tersebut adalah hutang dagang yang tidak berbunga. Sementara itu komposisi hutang yang berbunga sangat kecil. Oleh karena itu DER perlu disesuaikan dengan menghitung liabilities dari hutang yang berbunga (interest-bearing liabilities) saja;

DER = interest-bearing liabilities / Equities

4. Efektivitas dan Efisiensi Operasional Perusahaan

Days Payable Outstanding (DPO), menunjukkan rata-rata berapa hari perusahaan membayar utang kepada para pemasoknya (vendor/supplier).

DPO = Number of Days x Account Payable / Cost of Sales

Account Payable adalah Utang Usaha (utang dagang), ada di Laporan neraca (balance sheet) bagian utang lancar (current liabilities). Cost of Sales (Beban pokok penjualan) ada di Laporan rugi-laba (income) yang terletak tepat di bawah Penjualan (revenue). Number of Days adalah jumlah hari kerja dalam satu periode, misalkan untuk laporan tahunan adalah jumlah hari kerja dalam setahun yaitu 242 hari.

Days Sales Outstanding (DSO), Disebut juga Receivable Period, menunjukkan rata-rata berapa hari perusahaan menerima pembayaran uang dari para pembelinya.

DSO = Number of Days x Account Receivable / Revenue

Account Receivable adalah Piutang Usaha (piutang dagang), ada di Laporan neraca (balance sheet) bagian Aset lancar (current asset).

Selisih antara DPO dan DSO sangat penting untuk analisa efektifitas/efesiensi operasional perusahaan. Semakin tinggi DPO, artinya semakin panjang waktu perusahaan membayar utangnya. Semakin kecil DSO, artinya semakin cepat waktu perusahaan menerima pembayaran piutangnya. Semakin tinggi selisih antara DPO dan DSO, maka semakin banyak uang cash yang dipegang oleh perusahaan, dan ini adalah uang cash yang didapatkan dari utang tanpa bunga (utang dagang). Dan uang cash ini bisa dipakai oleh perusahaan sebagai modal kerja, sehingga perusahaan bisa meminimalkan jumlah modal yang ditanam (equitas). Dan sebagai dampak selanjutnya adalah tentu saja meningkatkan ROE. Ini nyambung dengan pembahasan Financial Leverage di atas.

5. Pertumbuhan (Growth)

Merupakan perbandingan antara kenaikan (penurunan) dengan nilai periode sebelumnya. Dinyatakan dalam percent. Kalau nilainya positif itu berarti naik, dan kalau bernilai negatif itu berarti turun. Contoh:

Pertumbuhan profit tahun 2017
= (profit 2017 - profit 2016) / profit 2016

Selain pertumbuhan berdasarkan satu periode sebelumnya, juga tak kalah pentingnya adalah pertumbuhan dalam periode jangka panjang yang mencakup beberapa periode. Yang dikenal dengan Pertumbungan Majemuk, atau Compound Annual Growth Rate (CAGR). Lebih detail tentang CAGR ini saya bahas di Pertumbuhan Investasi bagai Tabungan dengan Bunga Berbunga. Ringkasnya:

CAGR = ((NilaiAkhir/NilaiAwal)^(1/JumlahPeriode)) -1

Analisa pertumbuhan sering digunakan untuk memprediksi kinerja masa depan. Jika asumsi-asumsi bisa dibuat dan fundamental perusahaan tidak banyak berubah, maka semakin besar kemungkinan kinerja masa depan akan seperti kinerja selama ini (relatif lebih mudah untuk diprediksi).

Manfaat berikutnya adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi di perusahaan, apakah perubahan yang baik atau perubahan yang buruk. Perhatikan contoh kasus berikut:

  • Perusahaan A mempunyai kinerja pertumbuhan penjualan (revenue) 14 % dan pertumbuhan laba bersih (net profit) 10%. Angka-angka yang bagus, menunjukkan bahwa perusahaan bertumbuh baik secara penjualan maupun laba.
  • Namun ada yang perlu diperhatikan lebih. Ternyata untuk menghasilkan pertumbuhan laba sebesar 10%, diperlukan pertumbuhan pendapatan sebesar 14%. Ini bisa jadi menunjukkan adanya ketidakefesienan di manajemen perusahaan.

6. Membandingkan dengan Kinerja Kompetitor atau Industri

Bertujuan untuk mengetahui apakah kinerja kompetitor lebih bagus atau lebih buruk. Jika kompetitor lebih bagus, maka perusahaan akan membuat strategi untuk mempertahankan bisnisnya agar tidak direbut kompetitor misalnya dengan cara menurunkan harga jual ke pelanggan. Jika kompetitor lebih jelek, maka perusahaan bisa meningkatkan profitabilitas misalnya dengan menaikkan harga jual ke pelanggan. Contoh analisa yang membandingkan kinerja perusahaan dengan para kompetitornya: Perbandingan 4 Bank Terbesar: BBRI, BMRI, BBCA, BBNI – Mencari yang Terbaik.

Kompetitor umumnya adalah perusahaan-perusahaan yang berada dalam sektor atau industri yang sama, misalnya para perusahaan distributor handphone (gadget): Erajaya (ERAA), Tiphone Mobile (TELE ), dan Trikomsel Oke (TRIO). Namun kompetisi di jaman sekarang sudah semakin melebar jauh, tidak cuma dibatasi oleh sektor dan industri yang sama. Para distributor handphone di atas, sekarang sedang menghadapi kompetisi dari eCommerce.

Jadi, dalam membandingkan kinerja perusahaan dengan kompetitor, perlu dibedah lebih dalam lagi siapa yang menjadi kompetitor sebenarnya. Jangan-jangan yang selama ini dianggap kompetitor, itu sebenarnya bukan. Dan sebaliknya, jangan-jangan yang tidak pernah dipikirkan sama sekali, itu adalah sebenar-benarnya kompetitor.

Jalan Sukses Investasi Saham
Jalan Sukses Investasi Saham

Kesimpulan

Rasio paling penting no#1 untuk investor adalah ROE. Ini adalah pusat dari semua perhatian investor. Selanjutnya yang paling penting no#2 adalah pertumbuhan. Apakah perusahaan masih punya peluang pertumbuhan apa tidak.

Jika pertumbuhan tidak besar, maka investor bisa mengharapkan kompensasi dari ROE yang besar, seperti pada saham Unilever (UNVR). Dan sebaliknya, jika pertumbuhan sangat besar, investor biasanya bersedia walaupun ROE tidak besar. Dan yang sangat diharapkan oleh semua investor, kinerja ROE besar dan pertumbuhan juga besar.

Menganalisa kompetitor sangat penting. Karena dalam jangka panjang bisnis (pelanggan) bisa direbut secara pelan-pelan oleh kompetitor tanpa begitu disadari.

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan