ROE adalah Rasio Paling Penting No 1 untuk Analisa

Return on Equity (ROE) adalah rasio atau perbandingan return (net profit) terhadap equity (modal). Merupakan indikator utama paling penting untuk investor dalam melakukan analisa laporan keuangan atau analisa fundamental saham. Mengapa begitu? Alasannya adalah:

  • Tujuan no 1 perusahaan adalah untuk menghasilkan return (laba/profit/earning).
  • Kontribusi investor di perusahaan adalah melalui kepemilikan equity (modal/book value).
  • Valuasi (cara menilai mahal atau murahnya harga saham) yang paling banyak digunakan adalah PER yang diturunkan dari return (earning) dan PBV yang diturunkan dari equity (book value).
  • Dalam jangka panjang, kinerja perusahaan dengan ROE yang bagus akan diapresiasi oleh market dengan kenaikan harga saham yang bagus juga.

Dalam artikel ini, yang akan dibahas tentang ROE adalah materi-materi berikut:

  1. Rumus cara menghitung ROE
  2. Rasio-Rasio lain yang sejenis dengan ROE: ROA, ROCE, ROIC
  3. Rasio-rasio lain yang mempengaruhi ROE: Net Margin, Asset Turnover, Financial Leverage
  4. ROE adalah sumber dalam valuasi harga saham: PER, PBV
  5. Analisa hubungan antara ROE, PER, PBV, dan harga saham
  6. Kesimpulan: Saham dengan nilai tinggi ROE adalah yang terbaik untuk investasi

1. Rumus cara menghitung ROE

Mengukur seberapa besar modalnya investor menghasilkan laba

ROE 	= Net Profit (laba bersih) / Equity

Net profit merupakan laba bersih, diambil dari laporan rugi laba. Dan Equity merupakan modal, diambil dari laporan neraca. Lebih detail silahkan baca Dasar-dasar Laporan Keuangan.

2. Rasio-Rasio lain yang sejenis dengan ROE

Dalam banyak kesempatan investor menyebut ROI (Return on Investment) untuk menunjukkan kinerja investasi (atau bisnis). Yang dari perspektif pemilik modal, nilai investasinya adalah equity. Selain itu, ada beberapa perspektif lain untuk menunjukkan kinerja investasi ini, yaitu:

2.1. Return on Asses (ROA)

Mengukur seberapa besar Asetnya perusahaan menghasilkan laba

ROA = Net Profit / Asset

Asset adalah Equity + Liabilities (total utang jangka panjang dan pendek).

2.2. Return on Capital Employed (ROCE)

ROCE = Operating Profit / Capital Employed

Capital Employed merupakan capital (modal) yang dimiliki oleh perusahaan, di mana Capital Employed = Equity + Utang Jangka Panjang. Utang jangka pendek (utang dagang) tidak termasuk dalam penghitungan Capital Employed.

2.3. Return on Invested Capital (ROIC)

ROIC =  Operating Profit / Invested Capital

Invested Capital merupakan capital (modal) yang digunakan secara aktif oleh perusahaan, di mana Invested Capital = Capital Employed – nonOperatingAssest. Yang termasuk Non operating Asset adalah kas/setara kas, investasi di luar bisnis (misalnya saham), dan aset-aset yang bukan bagian dari operation yang sudah tidak aktif (misalnya aset tanah yang nganggur).

3. Rasio-rasio lain yang mempengaruhi ROE

Rasio ROE di-breakdown ke dalam beberapa aspek penyusunnya. Dan aspek-aspek penyusun ini mewakili bagian-bagian yang sangat krusial di perusahaan.

ROE = Net Profit / Equity
= (Net Profit / Equity) x (Revenue/Revenue) x (Aset/Aset)
= (Net Profit / Revenue) x (Revenue/Aset) x (Aset/Equity)
= Net Margin x Asset Turnover x Financial Leverage

Analisa yang membedah ROE ini disebut juga Analisa Dupont. Dupont adalah perusahaan yang mempopulerkan metode analisa tersebut di tahun 1920-an. Tujuan utama analisa ini adalah:

  • Bagi perusahaan, untuk menentukan KPI (key performance indicator) tiap-tiap bagian dalam perusahaan (apakah operasional, distribusi dan penjualan, atau keuangan) untuk memaksimalkan kinerjanya.
  • Bagi investor, untuk mengetahui competitive advantage perusahaan. Sisi mana yang menjadi keunggulan perusahaan sehingga mampu memenangkan persaingan bisnis.

3.1. Net Margin

Net Margin (Margin Bersih) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, dengan cara meningkatkan revenue (pendapatan) dan menurunkan (lebih tepatnya mengoptimalkan) biaya (cost).

Net Margin = Net Profit / Revenue

Rasio turunannya adalah Operating Margin (Margin Operasional) dan Gross Margin (Margin Kotor).

Operating Margin = Operating Profit / Revenue
Gross Margin = Gross Profit / Revenue

Ini merupakan KPI dari bagian operasional perusahaan yang bertugas menjalankan perusahaan secara efesien.

Perusahaan yang mempunyai competitive advantage akan mempunyai margin yang besar, sehingga ketika dalam kompetisi yang sangat sengit dan terpaksa harus menurunkan harga, maka masih ada ruang untuk masih mendapatkan margin. Bandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki competitive advantage (margin kecil), maka dia akan gampang kolaps ketika terjadi perang harga.

3.2. Asset Turnover

Asset Turnover menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh revenue.

Asset Turnover = Revenue / Asset

Ini merupakan KPI dari bagian distribusi dan penjualan. Semakin cepat suatu product (barang atau jasa) disalurkan ke pelanggan, dan semakin cepat pula pelanggan melakukan pembayaran, maka perusahaan akan semakin cepat pula memproduksi dan menjual productnya sehingga nilai total penjualan besar.

Industri-industri tertentu mempunyai Asset Turnover tinggi, misalnya retail. Makanya dengan perputaran aset yang tinggi, bisnis retail bersedia untuk mengambil margin yang relatif kecil. Sebaliknya, industri dengan Asset Turnover rendah akan mengambil margin yang besar, misalnya industri manufaktur yang padat dengan investasi peralatan berat.

3.3. Financial Leverage

Financial Leverage menunjukkan komposisi modal perusahaan, yaitu dari [1] modal ekuitas dari pemegang saham (share holder) dan [2] modal liabilities dari kreditur (dan supplier).

Financial Leverage = Asset / Equities

Semakin tinggi angka ini, maka ROE akan semakin tinggi. Semakin tinggi komposisi equity maka nilai Leverage semakin rendah, dan sebaliknya semakin tinggi komposisi utang maka nilai Leverage semakin tinggi.

Selain meningkatkan nilai Leverage, utang akan meningkatkan biaya bunga sehingga Net Margin akan turun. Maka itulah pentingnya strategy financial (oleh Direktorat Keuangan) dalam menuntukan komposisi Ekuitas dan Utang. Namun jika utang itu tidak berbunga, maka Leverage ini tidak akan menurunkan Net Margin. Utang tidak berbunga adalah utang dagang dari Supplier. Unilever (UNVR) dengan kehebatan bisnisnya bisa memanfaatkan utang dagang yang besar sehingga Leverage-nya sangat tinggi namun tidak berdampak pada biaya bunga.

Financial Leverage ini semakin besar jika utang membesar, karena utang berbanding terbalik dengan equity. Semakin besar nilainya, maka daya pengungkit untuk ROE akan semakin besar.

Di sinilah letak trade-off nya. Jika komposisi utang lebih besar, maka dampaknya ROE akan lebih besar, namun biaya untuk bunga dan resiko juga semakin besar. Untuk itu diperlukan strategy financial yang sangat hati-hati untuk ini.

4. ROE adalah sumber dalam valuasi harga saham (PER dan PBV)

Indikator utama yang sangat sederhana dan paling banyak digunakan untuk menilai mahal/murahnya harga saham adalah PER dan PBV. Semakin tinggi nilai PER atau PBV, maka itu menunjukkan bahwa harga saham telah mahal, dalam arti market telah menghargai saham dengan harga yang tinggi.

4.1. PER (Price-to-Earnings Ratio)

PER dengan sangat jelas menunjukkan hubungan antara kinerja perusahaan (earning) dengan harga (price) saham di market.

PER 
= Harga Saham / Earning per Share
= Market Cap / Net Profit

Net profit (earning) yang dipakai untuk menghitung PER adalah net profit yang diatribusikan kepada entitas induk, dalam arti: telah dikurangi dengan bagian dari kepentingan non pengendali.

4.2. PBV (Price-to-Book Value)

PBV dengan sangat jelas menunjukkan hubungan antara kekayaan perusahaan (book value) dengan harga (price) saham di market.

PBV
= Harga Saham / Book Value per Share 
= Market Cap / Equity

Equity (book value) yang dipakai untuk menghitung PBV adalah equity yang diatribusikan kepada entitas induk, dalam arti: telah dikurangi dengan bagian dari kepentingan non pengendali.

Penjelasan lebih detail tentang PER, PBV, dan valuasi lain yang terkait dengan PER dan PBV tersebut, silahkan baca artikel Ukuran, Rasio, dan Cara Valuasi Harga Saham.

5. Analisa hubungan antara ROE, PER, PBV, dan harga saham

Daftar Saham LQ45 dengan ROE Terbaik
Tabel 1. Daftar Saham LQ45 dengan rata-rata ROE Terbaik, dilengkapi dengan rata-rata PER, PBV, dan kenaikan harga saham

Dari tabel 1 di atas kita melihat bahwa perusahaan dengan ROE yang tinggi akan dihargai lebih mahal oleh market, ditunjukkan oleh PER dan PBV yang tinggi pula. Dan juga kita lihat bahwa secara umum kenaikan harga saham yang lebih tinggi terjadi pada perusahaan yang mempunyai ROE tinggi.

Namun tidak selalu ROE tinggi akan memberikan kinerja investasi (kenaikan harga saham) yang tinggi pula. Mari kita lihat Unilever Indonesia (UNVR), bertahun-tahun perusahaan ini selalu menghasilkan ROE yang paling tinggi. Saking bagusnya ini perusahaan, market menghargai sahamnya terlalu mahal, dengan rata-rata PER 39,1 dan PBV 45,6 selama 10 tahun terakhir ini. Valuasi jika sudah terlalu mahal, maka akan semakin sulit bagi harga saham tersebut untuk naik lagi, terbukti bahwa rata-rata kenaikan harga saham UNVR 19,3% selama 10 tahun terakhir. Kalah dengan beberapa saham lain yang kenaikan harga sahamnya lebih tinggi walaupun ROE lebih kecil.

Dari tabel 1 di atas, tampak ada beberapa anomali (outlier) di mana perusahaan dengan rata-rata ROE besar tapi kenaikan harga sahamnya kecil, yaitu ITMG (Indo Tambangraya Megah) dan PGAS (Perusahaan Gas Negara). Keduanya adalah perusahaan di sektor pertambangan. Memang karakteristik saham-saham pertambangan adalah ber-siklus. Di rentang waktu pengamatan yang lain, bisa jadi kenaikan harga sahamnya sangat tinggi walaupun ketika itu ROE tidak terlalu bagus. Nanti kapan-kapan akan saya bahas lebih lanjut tentang sektor pertambangan ini.

6. Kesimpulan: Saham dengan nilai tinggi ROE adalah yang terbaik untuk investasi

Secara umum terdapat hubungan yang solid dan konsisten antara kinerja perusahaan yang bagus (ROE tinggi) dengan kenaikan harga sahamnya dalam jangka panjang. Beberapa artikel ini memberikan contoh dan analisa lebih detailnya:

Namun ROE yang terlalu tinggi akan menjadikan sahamnya dihargai terlalu mahal oleh market, sehingga ruang untuk kenaikan (pertumbuhannya) relatif lebih sempit. Sebagai contoh, ini terjadi pada saham UNVR. Oleh karena itu, diperlukan analisa valuasi harga saham, untuk mengetahui apakah harga sahamnya sudah relatif lebih murah sehingga memberikan potensi kenaikan yang signifikan.

Salah satu pelajaran: simple is beauty. Dengan melakukan screening dengan cara sederhana, pilih saham-saham dengan ROE besar, exclude sektor pertambangan dan juga saham-saham dengan PER & PBV di atas 30. Dalam jangka panjang akan memberikan hasil yang memuaskan.

Silahkan share artikel ini

2 tanggapan pada “ROE adalah Rasio Paling Penting No 1 untuk Analisa”

Tinggalkan Balasan