Ukuran dan Rasio dalam Valuasi Harga Saham

Berikut ini ukuran dan rasio-rasio yang sangat familiar di dunia investasi saham. Secara umum, data bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu data-data financial (dari laporan keuangan) dan data market. Data-data financial telah dibahas di tulisan Dasar-dasar Laporan Keuangan dan Rasio-rasio Penting untuk Investor dalam Analisa Laporan Keuangan.

Data market originalnya adalah harga saham dan jumlah saham yang beredar. Banyak rasio yang dibahas di sini nanti adalah kombinasi antara data market dan data financial, karena bagaimanapun juga harga saham ada korelasi dengan kinerja riel perusahaan. Meskipun dalam jangka pendek harga saham sering naik-turun (baik di atas maupun di bawah kinerja perusahaan), dalam jangka panjang gerakan naik-turunnya harga saham akan mengikuti nilai perusahaan sebenarnya. Berikut ini ukuran dan rasio-rasionya

Harga Saham

Merupakan satuan harga per lembar saham. Dalam jangka pendek harga ini ditentukan oleh kekuatan supply-demand di market. Tingginya harga saham tidak menentukan mahal-murahnya harga saham tersebut. Mahal atau murahnya harus dibandingkan dengan value perusahaan per lembar sahamnya (value perusahaan per lembar saham ini dikenal sebagai intrinsic value). Saham dibilang murah bila harganya di bawah intrinsic value, dan sebaliknya dibilang mahal bisa harganya di atas intrinsic value.

Jadi, salah satu filosofi terpenting dalam investasi saham adalah: membeli saham dengan harga di bawah intrinsic value-nya. Harga (price) adalah jumlah yang dibayarkan, value adalah nilai yang didapatkan.

Jumlah Saham yang Beredar

Merupakan jumlah semua lembar saham yang beredar. Jual-beli saham dilakukan per lot, di mana 1 lot = 100 lembar saham. Perusahaan bisa memecah jumlah sahamnya (sehingga harga saham akan lebih kecil karena jumlah saham yang beredar bertambah), istilahnya stock split. Sebaliknya, bisa juga dilakukan penggabungan (sehingga harga saham akan lebih besar karena jumlah saham yang beredar berkurang, disebut juga reverse stock split. Intinya adalah, sebelum dan sesudah stock split (atau sebaliknya) nilai market cap akan tetap sama. Tujuan utama stock split adalah agar perdagangan (trading) saham lebih likuid karena nilai satuan transaksinya lebih kecil, sehingga investor (trader) dengan jumlah uang yang kecil bisa ikut berkontribusi dalam trading.

Kapitalisasi Pasar (Market Capital)

Market Cap= Harga Saham x Jumlah saham

Merupakan harga sebuah perusahaan. Jika investor ingin membeli 100% saham perusahaan tbk, maka harus menyiapkan dana sebesar market cap tersebut.

Alternatif lain untuk harga sebuah perusahaan adalah Enterprise value (EV), atau total enterprise value (TEV), atau firm value (FV). Enterprise value menambahkan faktor utang dan uang kas ke dalam perhitungan, karena ketika membeli 100% saham perusahaan maka pembeli akan menanggung semua hutang-hutangnya dan akan menguasai semua uang kas yang ada.

EV = Market Cap
+ Hutang (interest-bearing liabilities)
+ Kepentingan non Pengendali
+ Saham preferen
+ Utang pensiun karyawan
– Kas dan setara kas
– Investasi di perusahaan asosiasi

EPS (Earning per Share)

EPS = Net Profit / Jumlah saham

Merupakan profit perusahaan per lembar saham. Angka EPS ini sering dipakai untuk menghitung pertumbuhan laba perusahaan, lebih mudah untuk digunakan dalam perhitungan analisa karena angkanya lebih kecil (dalam arti lebih sedikit digitnya) daripada Net Profit. Penting untuk diingat, jika perusahaan melakukan stock split (atau reverse stock split) maka nilai EPS history harus disesuaikan agar analisanya valid.

PER (Price Earning Ratio)

PER= Harga saham / EPS
PER = Market Cap / Net Profit

Menunjukkan [dengan nilai EPS yang sekarang ini] berapa tahun lagi investasi (pembelian saham) itu akan balik modal. Balik modal artinya, investor mendapatkan hasil sebesar nilai investasi, dan investasi itu masih dipegang; arti lainnya lagi, nilai aset menjadi dua kali lipat.

Semakin tinggi PER, berarti harga saham semakin mahal karena diperlukan waktu yang lebih panjang bagi inverstor untuk balik modal. Mengapa orang mau membeli saham dengan nilai PER yang tinggi, misalnya PER 50? Karena orang berharap bahwa dengan bagusnya perusahaan maka EPS (profit) akan tumbuh sehingga balik modalnya bukan 50 tahun tapi lebih cepat. Itulah kenapa, perusahaan-perusahaan yang bagus (untungnya tumbuh besar) dihargai mahal.

PER merupakan kebalikan dari Earning Yield.

Earning Yield = Net Profit / Market Cap
Earning Yield = EPS / Harga saham
Earning Yield = 1/PER

Enterprise Value / Free Cash FLow

EV/FCF
= Enterprise Value / Free Cash FLow
= Harga Saham / (Free Cash Flow / Jumlah Saham)

Merupakan alternatif dari PER. Laba bersih perusahaan sebagai penentu PER, kadang bisa dikondisikan (kasus financial re-engineering) sehingga nilainya menjadi bias. Sebagaimana analisa laporan Cash Flow yang dipakai untuk memvalidasi laporan Rugi/laba, ratio EV/FCF ini dipakai untuk memvalidasi PER.

BV/Share

BV per share = Book Value (Equity) / Jumlah saham

Book Value (BV) adalah nama lain dari Equity. Ingat bahwa Asset sama dengan Equity ditambah Liability, atau harta sama dengan modal ditambah hutang. Equity merupakan modal yang dimiliki oleh pemegang saham.

PBV (Price to Book Value)

PBV = Harga Saham / BV-per-share
PBV = Market Cap / Book Value

Sense penggunaan PBV mirip dengan penggunaan PER, dipakai untuk menilai harga saham itu mahal atau murah. Perusahaan yang bagus biasanya PBV-nya besar, karena perusahaan yang bagus akan bisa menggunakan asetnya untuk menghasilnya nilai perusahaan yang lebih besar.

PEG (Price/Earning to Growth)

PEG = PER / pertumbuhan-EPS-dalam-persent

Rasio ini dipopulerkan oleh Peter Lynch, Fund Manager yang sangat sukses yang telah mengilhami banyak investor. PEG sama dengan 1, artinya pertumbuhan EPS-nya sama dengan PER. PEG di atas 1, artinya pertumbuhan EPS lebih kecil daripada PER. Dan PEG di bawah 1, artinya pertumbuhan EPS lebih besar daripada PER. Peter Lynch memilih saham-saham yang nilai PEG di bawah 1, semakin kecil semakin bagus.

Perusahaan yang tumbuh, wajar harga sahamnya mahal (PER tinggi) karena memberikan opportunity yang besar untuk melipatgandakan nilainya. Yang penting untuk diperhatikan investor, kalau mau invest di saham yang PER-nya tinggi, lihat dulu apakah tingginya PER itu make sense sehingga tidak kemahalan untuk investasi => apakah nilai PEG di bawah 1.

Intrinsic Value

Seperti yang dibahas di atas, intrinsic value merupakan nilai perusahaan yang sebenarnya. Transaksi pembelian saham mestinya untuk mendapatkan intrinsic value yang lebih besar daripada harga sahamnya.

Ada banyak metode untuk menghitung intrinsic value ini. Penghitungan untuk mengukur intrinsic value ini sering disebut sebagai valuasi.

Metode Valuasi Relative PER

Ini metode yang paling sederhana, dan paling banyak digunakan. Hanya membutuhkan asumsi pertumbuhan EPS dan asumsi PER yang wajar.

Harga Saham = EPS x PER
Expected Harga Saham = Expected EPS x Expected PER

Expected EPS adalah estimasi EPS di masa dengan dengan asumsi pertumbuhan sekian persen. Nilai pertumbuhan EPS dilihat dari data history, paling tidak 5 tahun karena umumnya 5 tahun adalah waktu yang cukup bagi perusahaan dalam mengalami siklus naik-turunnya. Harapannya adalah, pertumbuhan EPS masa depan akan sama dengan pertumbuhan masa lalu bahkan lebih baik. Tentu saja ini estimasi atau harapan. Untuk analisa yang lebih konservatif, kita bisa membuat estimasi pertumbuhan EPS masa depan yang lebih kecil daripada history-nya.

Expected PER bisa dihitung dari rata-rata PER 5 tahun ke belakang. Nilai PER merupakan apresiasi market atas nilai perusahaan, di mana semakin bagus perusahaan maka semakin tinggi PER-nya. Jadi, kalo yakin bahwa di masa depan perusahaan akan semakin bagus, maka bisa kita asumsikan untuk expected PER lebih besar daripada rata-rata PER historic. Namun untuk konservatifnya, saya lebih prefer expected PER sebesar rata-rata PER historic.

Cara lain, kita bisa memakai rata-rata PER dari perusahaan kompetitor. Analisa-analisa di media investasi, biasanya memakai rata-rata PER dari industri atau sektor. Contoh valuasi PER ini saya pakai untuk menghitung valuasi saham EKAD (Ekadharma International) dan GJTL (Gajah Tunggal).

Metode Valuasi Relative PBV

Motodenya mirip dengan metode valuasi PER. Dalam prakteknya, metode ini lebih jarang digunakan.

Harga saham = BV/share  x PBV
Expected Harga Saham = expected BV/share  x  Expected PBV

Expected BV/share dihitung dengan melihat pertumbuhan berdasarkan data historic. Dan Expected PBV dihitung dari rata-rata PBV historic, ataupun rata-rata PBV kompetitor/industri/sektor. Contoh valuasi PBV ini saya pakai untuk menghitung valuasi saham EKAD (Ekadharma International) dan GJTL (Gajah Tunggal).

Metode Valuasi Discounted Free Cash Flow (DFCF)

Metode ini mengasumsikan bahwa nilai intrinsic suatu saham adalah seberapa besar free cashflow yang dihasilkan oleh perusahaan selama masa beroperasinya. Cara valuasinya lebih kompleks dari pada valuasi PER ataupun PBV. Contoh valuasi ini saya pakai untuk menghitung intrinsic value dari Ultrajaya (ULTJ).

Margin of Safety (MOS)

Menyatakan berapa besarnya gap antara intrinsic value dan harga saham. Menunjukkan juga berapa besar opportunity keuntungan (gain) dari pembelian suatu saham.

MOS = (intrinsic value – harga saham)/ harga saham

Catatan: Untuk valuasi metode PER dan PBV, saya lebih cocok memakai istilah expected harga saham, bukan intrinsic value. Saya lebih memilih begitu karena PER dan PBV lebih sebagai dampak dari persepsi market, walaupun persepsi ini cenderung lebih stabil [dibandingkan harga saham] namun itu tetap persepsi. Saya pakai istilah intrinsic value untuk valuasi DFCF karena lebih banyak menekankan kinerja perusahaan (meskipun tetap persepsi juga, tapi kadar persepsinya lebih ringan daripada valuasi PER dan PBV). Namun dalam perhitungan MOS ini, value intrinsic dan expected harga saham adalah hal yang sama.

Total Return untuk pemegang saham

Return merupakan hasil dari investasi. Didapatkan dari kenaikan harga saham (capital gain) dan dividen.

Total Return = Kenaikan harga saham + dividen yield
Kenaikan harga saham = (harga saham - harga saham tahun lalu) / harga saham tahun lalu
Dividen Yield = dividen / harga saham
Jalan Sukses Investasi Saham
Jalan Sukses Investasi Saham

Annualized

Nilai-nilai EPS dan BV/share yang dipakai dalam rasio-rasio dan analisa di atas, ini adalah nilai dari kinerja perusahaan selama satu tahun. Jika data yang dipakai adalah laporan keuangan quarter 1 (Q1), maka nilai annualized-nya adalah estimasi nilai setahun dengan asumsi bahwa kinerja Q2, Q3, dan Q4 akan sama dengan kinerja Q1. Jadi:

EPS Annualized = EPS Q1 x 4
EPS Annualized = EPS Q2 x 2
EPS Annualiazed = EPS Q3 x 4/3

TTM (Trailing Twelve Months)

Penjelasannya mirip dengan Annualized. TTM mengambil data 12 bulan ke belakang. Contoh:

EPS TTM 2017Q3 = EPS 2017Q3 + EPS 2017Q2 + EPS 2017Q1 + EPS 2016Q4
EPS TTM 2017Q2 = EPS 2017Q2 + EPS 2017Q1 + EPS 2016Q4 + EPS 2016Q3

Silahkan Baca: Daftar Tulisan Lengkap

Tinggalkan Balasan