Valuasi Saham Gajah Tunggal (GJTL)- Fundamental Analysis

PT Gajah Tunggal tbk go public tahun 1990, dengan kode saham GJTL. Didirikan oleh Sjamsul Nursalim pada tahun 1951. Sjamsul Nursalim ini juga pemilik PT Mitra Adiperkasa tbk (MAPI). Bisnis utama Perusahaan adalah memproduksi, menjual, memperdagangkan dan mendistribusikan:

  • Ban radial (merk GT Radial) untuk mobil penumpang, truk, dan bus. Memberi kontribusi 42% revenue.
  • Ban bias (merk Gajah Tunggal) untuk truk dan bus. Memberi kontribusi 26,4% revenue.
  • Ban sepeda motor (merk IRC Tire). Memberi kontribusi 23,6% revenue.
  • Ban dalam (untuk sepeda motor dan mobil)
  • Aksesoris ban seperti flaps, rim tape dan O-rings
  • Kain ban dan karet sintetis (industri hulu ban –> integrasi vertikal)

Sahamnya 49.50% dimiliki oleh Denham Pte Ltd, yang merupakan anak perusahan dari Giti Tire Pte. Ltd (keduanya berpusat di Singapura). Giti Tire sendiri merupakan pemain besar industri ban di China. Dan Sjamsul Nursalim adalah pemilik mayoritas saham Giti Tire ini.

Michelin mempunyai 10% saham GJTL. Ini adalah aliansi setrategis jangka panjang, di mana Gajah Tunggal memproduksi ban export untuk Michelin.

Market share
Berdasarkan Top Brand award 2016, untuk pasar Indonesia, ban mobil GT Radial menduduki posisi keempat, di bawah Dunlop, Bridgestone, dan Goodyear. sementara ban motor IRC menduduki peringkat pertama, di atas Swallow, Federal, FDR, dan Dunlop. Michelin sebagai aliansi strategis Gajah Tunggal di pasar Internasional, market share-nya ada di peringkat kedua (pertama Bridgestore, ketiga Gooodyear).

Di pasar ban Indonesia sendiri, persaingan sangat ketat. Ditunjukkan dengan banyaknya merk yang ada di pasaran. Kompetisi mau tidak mau menjadikan para produsen ini berusaha menggaet pelanggan dengan cara menurunkan harga sehingga margin keuntungannya kecil. Mungkin karena margin sudah sangat kecil inilah yang menjadikan produsen ban di Indonesia berusaha mencoba melakukan kartel. Sempat diberitakan bahwa keenam perusahaan produsen ban Indonesia didenda karena dituduh melakukan kartel. Mereka adalah PT Bridgestone Tire Indonesia, PT Sumi Rubber Indonesia (Dunlop), PT Gajah Tunggal Tbk, PT Goodyear Indonesia Tbk, PT Elang Perdana Tyre Industry (EP Tyres), PT Industri Karet Deli (Swallow, Deli Tyre).

Competitive Advantage
Berdasarkan Laporan Tahunan GJTL tahun 2015, perusahaan mempunyai kedekatan dengan bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan ban, khususnya karet alam, sehingga mengurangi biaya logistik dan penyimpanan. Biaya tenaga kerja dan energi di Indonesia relatif masih kompetitif dibandingkan dengan kebanyakan Negara produsen ban lainnya. Faktor produksi yang terintegrasi secara vertikal dengan karet sintetis dan kain ban menjamin pasokan secara konstan dan memperkuat pengendalian biaya. Perusahaan memproduksi SBR, suatu bentuk karet sintetis, yang merupakan bahan utama dalam pembuatan ban. Fasilitas produksi Perusahaan, pabrik SBR, adalah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, serta pabrik SBR pertama di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan juga berhasil mempertahankan posisi sebagai pemasok terbesar untuk pasar LCGC (Low Cost Green Car).

Pasar ban Gajah Tunggal bukan cuma untuk kendaraan baru, tapi juga untuk kendaraan lama (ban replacement). Makanya untuk tahun 2015 meskipun pasar ban untuk kendaraan baru turun besar (mobil dan truk turun 3%, sepeda motor turun 14%) penjualan Gajah Tunggal hanya turun 1%.

Opportunity
Setelah industri otomotif turun di tahun-tahun belakangan ini, di tahun 2017 diprediksi kondisi bisnis akan mulai pulih. Seiring dengan prediksi pemerintah RI akan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang naik di tahun 2017, yaitu sebesar 5,1% (dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 sebesar 5,02%).

Sejak tahun 2015 Amerika Serikat menerapkan tarif anti-dumping untuk impor ban dari Tiongkok (China). Ini adalah peluang besar buat Gajah Tunggal, mengingat lebih dari 40% penjualannya adalah dari export, dan export tersebar adalah ke pasar Amerika.

Tren pertumbuhan eCommerce yang naik pesat akan mendrive pertumbuhan industri logistik –> transport delivery –> kebutuhan akan ban. Opportunity secara tidak langsung dari tren eCommerce ini pernah penulis bahas juga di Valuasi saham EKAD.

Kinerja Perusahaan
Secara umum, kinerja tahun 2016 naik. Penjualan(revenue) 13,63 trilyun, naik 5% dibandingkan 12,97 trilyun di tahun 2015. Gajah tunggal berhasil mempertahankan penjualannya dengan rata-rata pertumbuhan pertahun (CAGR) sebesar 7% sejak tahun 2008 sampai 2016. Ini tentu saja bukan pertumbuhan yang agresif, tapi sudah termasuk bagus mengingat persaingan di industri ban yang sangat sengit. Berikut ini ringkasan laporan keuangan sejak tahun 2008 sampai 2016. Sumber data diolah dari stockbit.com.

Laporan Keuangan 2016 Saham GJTL
Tabel 1. Ringkasan Laporan Keuangan GJTL 2008 – 2016

 

Dari data kinerja tahun 2016 seperti ditunjukkan oleh tabel 2 di bawah, untuk sebuah bisnis, ROE yang hanya 11% ini termasuk kecil. Lebih kecil lagi kalau dilihat rata-rata ROE sejak tahun 2008 sampai 2016 yang hanya 7%. Sebab utamanya adalah margin keuntungan yang kecil, net profit margin 5%, karena persaingan bisnis yang ketat tidak memungkinkan perusahaan untuk mengambil margin yang besar. Namun kita sebagai investor yang membeli saham lewat pasar modal, ada peluang yang lebih besar untuk mendapatkan return dari saham GJTL, akan dijelaskan di bawah nanti. Berikut ini rasio-rasio penting seperti ROE, ROCE, ROA, net profit margin, asset turnover, financial leverage multiplier, DER, dan current ratio.

Kinerja 2016 Saham GJTL
Tabel 2. Rasio Kinerja GJTL 2008 – 2016

 

Catatan Penting! Utang yang besar
Rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio/DER) sangat besar, yaitu 2,2 kali. Jauh lebih tinggi dibandingkan kompetitornya (MASA 0,6 dan GDYR 0,09). Semakin besar DER, semakin besar resiko ketidakmapuan perusahaan dalam menghandle utang-utangnya. Dari 8,5 trilyun rupiah utang jangka panjangnya, 80% adalah utang obligasi. Sekarang Gajah Tunggal mempunyai utang obligasi sebesar 500 juta USD, setara 6,7 trilyun. Gajah Tunggal mempunyai sejarah panjang berkaitan dengan obligasi ini:

  • Tahun 2005 –> 325 juta Dolar AS.
  • Tahun 2007 –> 95 juta Dolar AS.
  • Tahun 2009 –> 435 juta Dolar AS. Obligasi baru untuk membayar obligasi lama. Jatuh tempo 2012. Di retrukturisasi sehingga jatuh tempo 2014.
  • Tahun 2013 –> 500 juta Dolar AS. Obligasi baru untuk membayar obligasi lama. Jatuh tempo 2018.

Mengingat cashflow yang tidak mungkin mencukupi untuk membayar obligasi yang akan jatuh tempo tahun depan (2018), maka tahun ini Gajah Tunggal sedang membuat plan untuk merestrukturisasi lagi utang obligasinya. Kondisi inilah yang menjadikan credit rating (oleh Moody’s) GJTL turun dari B3 menjadi Caa1. Dan tampaknya pasar merespon negatif kondisi ini sehingga harga saham GJTL menurun, meskipun kinerja tahun 2016 lebih baik daripada tahun 2015.

Valuasi
Saya lebih senang menggunakan metode yang sederhana, yaitu berdasarkan rata-rata PER dan PBV. Berdasarkan pengalaman saya, metode yang sederhana ini sudah lebih dari cukup untuk memperkirakan harga wajar sebuah saham. Tidak ribet, dan yang pasti tidak membutuhkan waktu yang lama. Simple is Beautiful!

Dari tabel 2 di atas. Rata-rata PER tahun 2008-2016 adalah 11,06. Jika kondisi pesimisnya growth tahun 2017 0%, maka EPS 2017 sama dengan EPS 2016 yaitu 180. Maka harga wajar saham GJTL = Rata-rata PER x EPS = 11,06×180 = 1990.

Masih dari tabel 2 di atas. Rata-rata PBV tahun 2008-2016 adalah 1,10. Jika kondisi pesimisnya growth tahun 2017 0%, maka Book Value per share 2017 sama dengan Book Value per share 2016 yaitu 1678. Maka harga wajar saham GJTL = Rata-rata PBV x BVperShare = 1,1 x 1678 = 1838.

Dari dua hasil perhitungan kedua harga wajar di atas, maka rata-rata harga wajar adalah (1990+1838)/2 = 1914. Jika harga saham per 21 April adalah 1045, maka Margin of Safety = (1914-1045)/1045 = 83%. Sebuah margin yang cukup besar.

Dari data harga saham history di bawah ini, GJTL pernah mencapai nilai tertingginya 3675 di tahun 2013. Harga sekarang yang sebesar 1045 ini, memberikan ruang yang cukup besar untuk mendapatkan gain seandainya kinerja GJTL bisa kembali lagi seperti tahun 2013 lalu. Dan itu mungkin sekali terjadi.

Historical Harga Saham GJTL
Gambar 3. Harga saham GJTL 2008 – 21 April 2017

Rekomendasi untuk Saya Sendiri
Dari sejarah GJTL yang bertahun-tahun bisa survive di tengah persaingan yang sengit, kemampuannya dalam merestrukturisasi utang, kinerja yang positif di tahun 2016, prospek yang lebih baik di tahun 2017, dan harga saham yang sekarang sangat murah, maka rekomendasinya buat Value Investor adalah: BELI!

7 thoughts on “Valuasi Saham Gajah Tunggal (GJTL)- Fundamental Analysis

  1. …keren analisanya..detail dan komprehensive…
    Hanya ada 1 yang terlewat menurut saya yaitu rekomendasi..mengingat rekomendasi di perlukan oleh pemain saham baik sebagai trader maupun investor apakah harus mengambil saham ini atau tidak…

    Salam analisa dan terus menulis Boss…

    – KHCG

    1. Thanks so much Pak Khuncung. Rekomendasi sudah ada, tapi tidak ada sub-subject (headernya), dan mungkin tata letaknya kurang pas. Update baru saja: saya kasih sub-subject Rekomendasi.

    1. Halo Pak Rhino. Saya masih megang GJTL sampai saat ini. Untuk kategori perusahaan yang berkinerja seperti ini, saya tunggu sampai dua tahun untuk memegangnya sampai tercapai fair valuenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *