Analisa DER (Debt to Equity Ratio) – Koreksi atas Penggunaan DER yang Salah

DER adalah rasio hutang (debt) terhadap modal (equity). Merupakan rasio yang paling sering dipakai untuk menganalisa kesehatan perusahaan. Namun banyak kekurangannya karena DER yang umum dipakai tidak membedakan antara hutang berbunga dan hutang tanpa bunga. Padahal komponen hutang tanpa bunga justru malah meningkatkan profitabilitas (ROE) perusahaan. Sehingga jika tidak teliti dalam menggunakan DER, yang terjadi justru mengira sebuah perusaan tidak sehat padahal sebenarnya sangat sehat dan profitable. Artikel ini akan membahasnya secara detail dan lengkap.

Rumus Formula DER

Sumber utama data untuk menghitung DER adalah Laporan Neraca (Balance Sheet). Silahkan baca Dasar-dasar Laporan Keuangan yang membahas keempat bagian laporan keuangan yang meliputi neraca, laba-rugi, arus kas, dan perubahan equity. Dalam analisa laporan keuangan, DER digolongkan sebagai Rasio Kesehatan Perusahaan (Solvabilitas).

Pada umumnya, orang menggunakan rumus berikut ini untuk menghitung DER, di mana liabilities adalah semua kewajiban perusahaan (termasuk hutang dagang dan pinjaman berbunga).

DER = Liabilities / Equities

Dalam laporan-laporan yang dikeluarkan oleh BEI, DER juga dihitung sebagai rasio atas liability terhadap equity. Seperti pada laporan Ringkasan Performa Perusahaan LQ45 – August 2019 yang ditunjukkan oleh tabel 1 di bawah ini.

Data Balance Sheet, Income Statement, dan Ratio DER pada emiten Unilever Indonesia (UNVR)
Tabel 1. Data Balance Sheet, Income Statement, dan Ratio DER pada emiten Unilever Indonesia (UNVR)

Dari tabel 1 di atas, mari kita lihat DER tahun 2015 yang sebesar 2,26 x. Angka ini didapatkan dari penghitungan DER = Liabilities / Equities = 10.902.585 / 4.827.360 = 2,26.

Kekurangan DER

Sebenarnya DER yang menunjukkan rasio liability terhadap equity ini meaningless (tidak mempunyai signifikansi apa-apa) jika digunakan untuk mengukur kesehatan perusahaan. Bahkan yang terjadi bisa sebaliknya, perusahaan yang sangat sehat justru terlihat tidak sehat, sebagai contoh analisa DER yang digunakan untuk mengukur kesehatan perusahaan UNVR (Unilever Indonesia Tbk) oleh analisafundamentalsaham.com. Lihat tabel 2 di bawah ini.

Analisa UNVR menurut analisafundamentalsaham.com
Tabel 2. Analisa UNVR (Q2 2017) menurut analisafundamentalsaham.com

Menurut analisa di atas, nilai DER Unilever Indonesia (berdasarkan laporan keuangan Q2 2017) adalah kurang bagus karena Total Equity kurang dari Total Utang (atau DER lebih besar dari 1). Dan analisa DER tersebut memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam pengambilan kesimpulan atas Analisa Value Investing.

Padahal, Unilever Indonesia adalah perusahaan yang sangat-sangat sehat. Beban hutangnya tidak pernah membebani profitnya (bahkan hampir bisa diabaikan). Mari kita bahas di bab berikutnya.

DER butuh koreksi, hanya menghitung hutang berbunga

Jika memasukkan semua komponen liabilities dalam penghitungan seperti pada tabel 2 di atas, maka nilai DER Unilever Indonesia adalah:

= Liabilities / equities
= 14,38 trilyun / 4,9 trilyun
= 2,9 x

Untuk melakukan koreksi, kita harus melihat lebih detail, mari kita lihat Laporan Keuangan UNVR Quarter 2 – 2017.

Balance Sheet - Liabilities Q2-2017 Unilever Indonesia, komponen untuk menghitung DER
Tabel 3. Balance Sheet – Liabilities Q2-2017 Unilever Indonesia, komponen untuk menghitung DER

Hutang berbunga, biasanya terdiri atas pinjaman bank dan obligasi. Dari tabel 3 di atas, Unilever tidak mempunyai pinjaman obligasi, hanya pinjaman bank sebesar 450 milyar rupiah. Oleh karena itu, nilai DER yang sudah dikoreksi dengan hanya menghitung komponen hutang berbunga saja adalah:

= Debt_berbunga / equities
= 450 milyar / 4,9 trilyun
= 0,09 x

Bandingkan nilai DER (yang menghitung semua liabilities) sebesar 2,9 x (yang mengindikasikan perusahaan tidak sehat) dengan DER yang sudah dikoreksi (yang hanya menghitung komponen hutang berbunga saja) sebesar 0,09 x (yang mengindikasi perusahaan sangat-sangat sehat). Lihat, betapa besar perbedaannya.

Interest Coverage, alternatif untuk kesehatan perusahaan

Interest Coverage adalah rasio antara EBIT (laba sebelum dipotong bunga dan pajak) terhadap beban bunga. Merupakan alternatif lain untuk menilai kesehatan perusahaan dari sisi beban hutang berbunga. Mari kita hitung Interest Coverage dari kinerja Q2 2017 Unilever Indonesia. Gunakan laporan rugi laba (income statement) pada Laporan Keuangan UNVR Quarter 2 – 2017.

Laporan rugi laba Q2-2017 Unilever Indonesia (UNVR)
Tabel 4. Laporan rugi laba Q2-2017 Unilever Indonesia (UNVR)
Interest Coverage
= EBIT (Earning Before Interest and Tax) / Beban bunga 
= 4,899,180 juta / 57,373 juta
= 85 x

Interest coverage yang 85 x, itu menunjukkan bahwa beban hutangnya tidak membebani profitnya (bahkan hampir bisa diabaikan). Sebuah kinerja yang luar biasa.

Analisa DER pada saham Index LQ45

Kita akan lihat, apakah DER berhubungan dengan kesehatan perusahaan. Hipotesa: DER semakin tinggi maka kesehatan perusahaan berkurang. Jika perusahaan sehat, sudah barang tentu ROE-nya akan tinggi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, jika DER tinggi maka ROE akan rendah.

Analisa akan menggunakan saham-saham dalam LQ45 non bank. Perusahaan (emiten) di sektor banking tidak relevan untuk dianalisa dengan DER karena bisnis modelnya melibatkan hutang berbunga (dana nasabah) dengan jumlah yang sangat besar. Emiten perbankan dalam LQ45 ada 6 yaitu BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, BBTN, dan BTPS. Sehingga dalam analisa ini akan melibatkan 39 emiten.

Lihat tabel 5 di bawah ini. Data diambil dari laporan keuangan tahun 2014 sampai 2018 (source stockbit.com dan diolah kembali oleh penulis), untuk mengambil rata-rata lima tahun terakhir. Kolom ROE adalah rata-rata ROE 5 tahun terakhir, demikian juga dengan kolom DER” dan DER. Penghitungan DER” hanya melibatkan hutang berbunga saja, sedangkan DER melibatkan seluruh total liabilities.

ROE dan DER pada saham LQ45 non Banks
Tabel 5. ROE dan DER pada saham LQ45 non Banks

Berdasarkan data di tabel 5 di atas, terdapat 21 emiten dengan DER di atas 1x, rata-rata ROE ke-21 emiten tersebut adalah 28%. Bandingkan dengan 19 emiten dengan DER di bawah 1x, ternyata rata-rata ROE-nya 18%. Hipotesa bahwa “DER semakin tinggi mestinya perusahaan semakin tidak sehat sehingga ROE-nya kecil” ini tidak terbukti. Ingat bahwa DER di sini adalah DER yang paling sering digunakan orang di mana DER = total liabilities dibagi total equities.

Sekarang, kita gunakan DER yang telah diperbaiki (dilambangkan dengan DER”). Berdasarkan data di tabel 5 di atas, terdapat 9 emiten dengan DER” di atas 1x, dan rata-rata ROE ke-9 emiten tersebut adalah 8%. Bandingkan dengan 30 emiten lainnya yang mempunyai DER” di bawah 1x, ternyata rata-rata ROE-nya 28%. Hipotesa bahwa “DER semakin tinggi mestinya perusahaan semakin tidak sehat sehingga ROE-nya kecil” ini terbukti. Ingat bahwa DER di sini adalah DER yang lebih valid di mana DER” = total hutang-berbunga dibagi total equities.

Analisa di atas menunjukkan bahwa DER yang dihitung dengan melibatkan semua liabilities ternyata tidak valid untuk menilai kinerja kesehatan perusahaan. Perbaikan dengan hasil yang lebih valid ditunjukkan oleh DER yang hanya menghitung hutang-berbunga saja, atau DER”.

Perspektif lain dalam menilai hutang

Hutang itu membebani perusahaan, karena ada beban bunga yang harus dibayarkan. Semakin besar bunga yang dibayarkan, maka laba bersih semakin tergerus. Pada beberapa kasus perusahaan yang hutang berbunganya sangat besar, hampir semua laba usaha (EBIT) habis hanya untuk membayar bunga saja, sehingga laba bersihnya habis. Contohnya Indosat (ISAT)

Namun hutang yang tidak berbunga (yang dalam laporan keuangan sebagian besar dikontribusikan oleh hutang dagang) justru malah memberikan dampak positif bagi profitabilitas (ROE). Silahkan baca Financial Leverage.

Kesimpulan

DER sebagai rasio liabilities terhadap equities, yang sering dipakai analisa oleh banyak orang, ternyata tidak valid. Banyak yang merekomendasikan batas DER > 1 untuk perusahaan yang sehat. Perusahaan yang sehat tentu saja akan menghasilkan ROE yang lebih besar daripada perusahaan yang kurang sehat. Namun dari hasil analisa di atas (pada emiten LQ45 non bank) ternyata emiten dengan DER > 1 justru mempunyai rata-rata ROE (20%) yang lebih besar daripada yang DER-nya < 1 (dengan rata-rata ROE 18%).

Oleh karena itu diperlukan koreksi (perbaikan) untuk penggunaan DER ini. Koreksi ini dilakukan dengan hanya menghitung komponen hutang yang berbunga saja. DER yang sudah diperbaiki ini sebut dengan DER” (DER dengan tanda double quote). Hasil analisa dengan DER” ini lebih valid, di mana emiten yang mempunyai DER” > 1 mempunyai rata-rata ROE yang lebih kecil (8%) dibandingan emiten dengan DER” < 1 yang mempunyai rata-rata ROE 28%.

Buat investor, jika menggunakan DER sebagai filtering dalam memilih saham, yang terjadi justru malah mendapatkan saham-saham yang profitability-nya kecil. Sebagai gantinya, gunakan DER” (DER yang telah disempurnakan dengan meng-exclude komponen hutang tanpa bunga).

Pertanyaan, mengapa lebih banyak orang menggunakan DER (Total Liabilities / Total equities)? Karena lebih simple, cukup melihat total liabilities dan total equities saja. Ribet kalau harus memisahkan komponen hutang_berbunga. Seandainya orang tahu bahwa menggunakan DER (Total Liabilities / Total equities) justru malah kontra produktif, pasti dia tidak akan merasa ribet untuk mendapatkan angka yang lebih detail dengan memisahkan komponen hutang_berbunga dan hutang_tanpa_bunga.

Pelajaran: do your own analytics. Tidak mudah ikut-ikutan orang lain. Selalu bersikap skeptis, dan mau ribet memvalidasi apa-apa yang selama ini taken for granted dianggap benar.

Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Balasan