Bisnis, Perusahaan, dan Saham Salim Group di Indonesia

Beberapa perusahaan besar dengan kinerja sangat bagus, dan tentu saja berdampak pada bagusnya kinerja/kenaikan harga sahamnya, dimiliki ataupun berafiliasi dengan Salim Group. Perusahaan (saham) apa sajakah itu? Dan bagaimana prospeknya buat investor? Mari kita bahas.

Daftar Isi (anda bisa langsung klik ke bagian yang dikehendaki):

Sejarah Singkat Perusahaan

Diawali dari kisah hidup Liem Siem Liong (Soedono Salim). Lahir di Fuqing (propinsi Fujian, Tiongkok) pada tahun 1916. Migrasi ke Indonesia (Kudus, Jawa Tengah) pada tahun 1938. Di Kudus, merintis bisnisnya dengan berdagang pakaian dan bahan-bahan kebutuhan pokok. Ulet, rajin bekerja, pintar komunikasi dengan orang, berintegritas, dan didukung oleh kemampuan dia mengumpulkan modal (karena sifatnya yang dapat dipercaya) dari sesama pedagang waktu itu, menjadikan Liem cepat mengembangkan bisnisnya.

Periode Sebelum Orde Baru

Ketika Jepang menguasai Indonesia tahun 1942, bisnis pada berhenti. Liem mendapatkan pelajaran untuk survive dan mencari celah bisnis di situasi yang sangat sulit sekalipun. Setelah Jepang kalah, Indonesia mengalami perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali berkuasa. Liem dengan beraninya mengambil resiko untuk menyelundupkan bahan-bahan kebutuhan pokok bagi para tentara pejuang yang perang melawan Belanda; dan di masa inilah Liem berkenalan dengan tokoh-tokoh militer dan pejuang termasuk Soeharto (yang nantinya menjadi Presiden RI) dan Hasan Din (mertua Presiden Soekarno). Tahun 1949 perang kemerdekaan selesai, dan pemerintahan Soekarno mulai bisa membangun ekonomi bangsa. Tahun 1952 Liem dan sekeluarga pindah ke Jakarta, berharap peluang bisnis yang lebih baik di ibukota. Mulai merintis ekspansi bisnis di luar perdagangan, seperti menjalankan bisnis bank, pabrik onderdil sepeda, pabrik tekstil, dan lain-lain.

Periode Orde Baru

Setelah Soeharto memegang kekuasaan (sejak keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966) Indonesia mulai membangun kembali ekonomi setelah konflik politik negara yang berkepanjangan. Negara benar-benar membutuhkan bisnisman untuk membangkitkan ekonomi; dan secara sosial ekonomi, para pengusaha keturunan Tiongkok lah yang paling bisa (dalam arti menjalankan bisnis dan mempunyai akses sumber modal yang besar). Di sinilah mulai terjadi hubungan antara Presiden Soeharto dengan Liem. Salim Group resmi berdiri pada tahun 1967 ketika Soeharto meminta beberapa orang untuk berpartner menjalankan bisnis bersama, mereka adalah Liem Sioe Liong, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono, dan Ibrahim Risjad. Keempat orang ini dikenal sebagai “Geng Empat Serangkai” dengan Liem sebagai ketuanya, dan kelompok bisnis ini kemudian dikenal dengan nama Salim Group.

Perkembangan Salim Group hingga menjadi konglomerat terbesar Indonesia di jaman Orde Baru, berkembang dan membesar seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia. Dan salim Group menjadi salah satu motor penting dalam kemajuan ekonomi Indonesia, lengkap dengan dinamikanya group bisnis yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Soeharto. Di antara perusahaan-perusahaan besar yang menjadi milik Salim Group adalah Bogasari, Indofood, Indocement, Bank BCA, Indomobil, Indosiar, dan lain-lain. Kejayaan Salim Group selesai ketika rejim Orde Baru berhanti pada tahun 1998.

Periode Pasca Orde Baru

Salim Group, sekarang ini adalah representasi dari kelompok bisnisnya Anthony Salim. Dulu sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998, Salim Group identik dengan Liem Sioe Liong (Bapaknya Anthony Salim). Krisis 1998 menjadikan Salim melepaskan perusahaan-perusahaan besarnya seperti Bank BCA, Indocement, Indomobil, dan lain-lainnya. Perusahaan-perusahaan tersebut harus diserahkan ke BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) untuk menutupi hutang-hutang perusahaan Salim.

Anthony Salim lah penerus Om Liem yang menyelamatkan bisnis Salim kala itu. Dengan segala kepiawaiannya, Anthony berhasil mempertahankan Indofood. Setelah krisis mereda dan kewajiban-kewajiban hutangnya selesai, dengan bekal Indofood-lah Anthony membangkitkan kembali bisnis Salim. Indofood tetap menjadi icon Salim Group dari dulu hingga sekarang. Sebagai catatan tambahan, di kemudian hari Indomobil bisa dimiliki kembali oleh Salim, sementara itu di Bank BCA dan Indocement, Anthony masih memiliki beberapa sedikit saham.

Tokoh-tokoh Penting dalam Sukses Salim Group

Tokoh sentral pertama adalah tentu saja Liem Sioe Liong, yang nama Indonesia-nya Soedono Salim, dan oleh rekan-rekan bisnisnya biasa dipanggil Om Liem. Dan Salim Group diambil dari nama belakang Liem yaitu “Salim”. Faktor terbesar dalam kesuksesan berbisnis adalah kemampuan dalam berkolaborasi (partnership). Dan Liem punya kekuatan yang sangat besar dalam berkolaborasi ini. Berbagai macam kolaborasi yang sukses dibangun oleh Liem adalah kolaborasi dengan pelanggan, rekan kerja, penyedia modal, penyedia tenaga ahli, dan tentu saja penguasa (pemerintah) di mana bisnis itu dijalankan. Berikut ini adalah tokoh-tokoh penting dalam kolaborasi Liem, diurutkan berdasarkan kronologi waktu.

Hasan Din. Dikenal waktu Liem diminta untuk membantu memberikan tempat berlindung bagi Hasan Din waktu dikejar oleh Belanda pada masa perang kemerdekaan. Dan waktu itu Liem tidak tahu kalau Hasan Din (bapaknya Fatmawati) adalah mertua Presiden Soekarno. Mengapa Liem yang dipilih? Karena dia adalah orang yang terkenal sangat bisa dipercaya. Di kemudian hari Hasan Din menjadi partner bisnis Liem. Pada tahun 1965 berpartner menjadi importir cengkih dari Afrika. Dan tercatat Hasan Din juga pernah menjadi direktur BCA milik Salim Group.

Soeharto.

Geng Empat Serangkai

Chin Sapanpanich

Robert Kuok

Mochtar Riady

Sinar Mas

Ciputra

Sukanto Tanoto

Anthony Salim

Manny Pangilinan

Strategi yang adaptif dalam membangun bisnis

Bisnis dirintis dan dibangun oleh Liem Sioe Liong, seorang bisnisman yang berkharakter sangat kuat dalam membangun kolaborasi, mengambil peluang bisnis, dan mendapatkan mitra bisnis yang handal (baik dalam hal sumber permodalan maupun eksekutif manajemen perusahaan).

Periode Kondisi dalam negara Indonesia Strategi Salim
1938-1945
Masa awal
Orang Cina menikmati posisi yang kuat dalam perdagangan. Bisnis swasta diatur secara ketat. Peluang dalam penyelundupan / perdagangan Perdagangan kecil berbagai produk. Kerja sama yang erat dengan anggota keluarga
1945-1957
Hubungan dengan tentara
Lingkungan bisnis yang sulit. Permintaan akan bahan pokok. Peran penting tentara. Ekonomi nasional mulai berjalan. Diversifikasi skala kecil awal. Produksi bahan pokok dan perbankan. Memasok barang ke tentara
1957-1965
Mengembangkan bisnis
Lingkungan politik nasionalistik. Pertumbuhan ekonomi lambat. Meningkatnya kekuatan tentara dalam bisnis Perdagangan dan produksi bahan pokok. Diversifikasi dan ekspansi
1966-1972
Berpatron dengan penguasa Orde Baru
Ekonomi membaik. Politik tentara sangat kuat dan sangat aktif dalam bisnis. Membuka peluang untuk investasi asing dan perdagangan internasional. Substitusi impor & perlindungan pengusaha lokal Membangun patron dengan Soeharto untuk mengembangkan ekonomi. Membangun konglomerasi ketika peluang bisnis baru muncul, mis. industri substitusi impor
1972-1980
Membangun konglomerasi
Ekonomi berkembang. Industrialisasi. Peluang bisnis bermunculan, terutama ketika dikaitkan dengan Soeharto atau tentara Bisnis yang terhubung dengan pemerintah. Dilengkapi dengan bisnis internasional. Desain konglomerat: melembaga dan profesional
1981-1993
Membangun konglomerasi
Krisis minyak dan depresiasi mata uang. Upaya substitusi impor dihentikan. Kebijakan promosi ekspor. Mengurangi kronisme Membangun bisnis internasional. Memperluas bisnis lokal. Bekerja dengan pemerintah untuk menyelesaikan kerugian di berbagai industri
1994-1997
Pertumbuhan pesat
Kelanjutan kebijakan ekonomi liberal. Perlindungan pengusaha terpilih. Kronisme Soeharto dipertanyakan. Pengusaha kroni semakin banyak. Investasi asing mulai masuk. Melanjutkan internasionalisasi bisnis. Restrukturisasi dan integrasi vertikal. Mempekerjakan manajer profesional. Kongsi dengan anak-anak Suharto. Pertumbuhan pesat bisnis yang ada dan yang baru, semakin menambah mitra asing.
1997-1999
Perubahan kekuasaan
Kerusuhan dan penjarahan anti-Cina menciptakan situasi buruk untuk bisnis Cina. Rezim Suharto jatuh. IMF menghentikan kebijakan proteksionis, Anti-kronisme Menggunakan koneksi untuk bertahan hidup & membantu keluarga Suharto. Fokus pada penyelesaian krisis. Memenuhi tuntutan pemerintah, menjual bisnis untuk membayar hutang. Liem pensiun.
2000-2005
Konsolidasi Bisnis
Kelanjutan rezim ekonomi liberal IMF. Hambatan tarif dan kebijakan proteksionis sebagian besar dihapuskan. Jenis baru aliansi bisnis-politik dengan pemegang kekuasaan baru Mengkonsolidasikan bisnis, lebih ditekankan di luar Indonesia. Pemain multinasional Asia. Bersaing untuk mempertahankan pangsa pasar
2006-SekarangDemokratisasi ekonomiMengambil alih kembali bisnis yang dulu lepas (di antaranya Indomobil). Memperkuat sektor bank dan infrastruktur.

Tabel 1. Periodisasi strategi Salim (Referensi Dieleman, 2007)

Tidak bisa dipungkiri bahwa strategi Liem Sioe Liong dalam berkongsi (relationship based) dengan penguasa Orde Baru adalah kunci sukses Salim Group. Namun patron saja tidak cukup, pastinya dibarengi dengan kemampuan bisnis yang sangat kuat, karena terbukti banyak pengusaha yang gagal karena hanya semata-mata mengandalkan patronisme. Anthony Salim yang berlatar belakang pendidikan Barat, memberi warna dalam penerapan strategi bisnis Salim untuk tidak terlalu mengandalkan patron (market based). Lihat grafik dalam gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Grafik evolusi strategi Salim – Market based vs relationship based (Sumber gambar Dieleman, 2007)

Bisnis dan Perusahaan Salim Group Saat Ini

Artikel ini hanya membahas perusahaan-perusahaan Salim Group yang beroperasi dan terdaftar di pasar saham Indonesia saat ini.

Gambar 2. Kepemilikan Salim Group di Perusahaan Tbk di Indonesia. Keterangan gambar: Warna biru adalah perusahaan-perusahaan Tbk yang terdaftar di pasar saham Indonesia.

Terdiversifikasi luas dengan bisnis consumer goods (makanan dan minuman dengan merk Indofood), jaringan ritel Indomaret, perkebunan (sawit yang terbesar), minyak nabati, produsen roti terbesar (dengan merk Sari Roti), restoran fast food (waralaba KFC di Indonesia), kimia (bahan baku detergen), Otomotif dan komponennya, Jasa keuangan (pembiayaan), sewa dan pemeliharaan kendaraan, Infrastruktur jalan tol, menara (tower) telekomunikasi, penyedia air minum (PAM), jaringan telekomunikasi fiber optic, semen, dan bank.

Tercatat 10 perusahaan dengan kendali penuh yaitu:

Dua perusahaan dengan kepemilikan besar namun bukan pengendali (melalui DNET) yaitu:

Dan dua perusahaan dengan kepemilikan saham sangat kecil, yang dulunya pernah menjadi perusahaan utama Salim sebelum krisis 1998, yaitu:

Dengan bisnis model yang terintegrasi secara vertikal (produksi bahan mentah, produksi bahan setengah jadi, produksi bahan jadi, dan retail/distribusi), dan juga didukung oleh integrasi horisontal (financial/keuangan/bank, transportasi, infrastrktur, dan industri kimia), menjadikan Salim Group sebagai pemain bisnis kuat dan terkemuka di Indonesia.

Gambar 3. Business Model Perusahaan Tbk Group Salim di Indonesia

Perbandingan Bisnis dan kinerja perusahaan Salim Group

Tabel 2. Saham-saham Group Salim, diurutkan berdasar rata-rata RoE 5 tahun (5 yr). Aset dan Revenue dalam trilyun rupiah. RoE dalam persen. Nilai RoE 1yr, Rev, dan PER adalah data TTM (trailing twelve months) dengan data terakhir Q2 2019. PER dan PBV berdasarkan harga saham per 16 Oktober 2019. Sumber data dari stockbit.com, dan telah diolah kembali oleh penulis.

Terdapat 6 perusahaan dengan rata-rata RoE 5 tahun di atas 10%, yaitu ICBP, BBCA, ROTI, INTP, INDF, dan FAST. (RoE 1 dan 3 tahun ditampilkan dalam tabel 2 di atas untuk menunjukkan apakah RoE ini konsisten dalam jangka Panjang). Kinerja RoE yang besar dan konsisten ini menunjukkan kinerja jangka panjang yang bagus. Tentu saja perusahaan-perusahaan yang bagus ini menjadikan harga sahamnya cukup mahal, yang ditunjukkan oleh nilai PER dan PBV yang cukup besar.

Sebagai catatan, mari kita lihat contoh perusahaan-perusahaan yang berhubungan induk-anak: Indofood (INDF) dan anak-cucunya (ICBP, SIMP, dan LSIP). Dari keempat perusahaan tersebut, rata-rata ROE dalam 5 tahun terakhir sangat berbeda: INDF 13%, ICBP 20%, SIMP 3%, dan LSIP 8%. Kenapa kinerja ROE berbeda? Tergantung:

  • Segment bisnisnya, di mana profitability tiap-tiap segment yang memang berbeda.
  • Kebijakan dari manajemen pengendali berkaitan dengan transfer pricing. Misalnya SIMP men-supply minyak goreng ke ICBP (untuk bahan bumbu indomie) dengan harga yang murah sehingga dalam perhitungan akhirnya keuntungan SIMP kecil sedangkan keuntungan ICBP besar.
  • Dan lain-lain.

Silahkan rujuk link artikel-artikel berikut ini untuk lebih memahami istilah-istilah dalam analisa kinerja perusahaan dan saham:

Saham Salim Group yang Mana yang layak investasi?

Sebagai investor, saham-saham mana yang kita pilih? Tentu saja, indikator pertama ada ROE (Return on equity) yang bagus dan konsisten dalam jangka panjang. Mari kita lihat dalam tabel 3 di bawah ini, bagaimana ROE yang bagus dan konsisten dalam jangka panjang akan diapresiasi oleh pasar dengan kenaikan harga saham yang bagus juga.

Tabel 3. Perbandingan ROE (rata-rata 5 tahun) dan kenaikan harga saham perusahaan Salim Group. Sumber data dari stockbit.com, dan telah diolah kembali oleh penulis.

Dari tabel 3 di atas, lihat kinerja 6 saham dengan ROE teratas (ICBP, BBCA, ROTI, INTP, INDF, dan FAST). Sangat terlihat bahwa kenaikan harga saham sebanding dengan kinerja bisnis perusahaan (ROE).

Untuk saham selain 6 yang di atas, yang rata-rata ROE selama 5 tahun di bawah 10%, tampak bahwa kinerja (kenaikan) harga sahamnya relatif tidak konsisten. Untuk LSIP, DNET, BINA, dan IMAS, kenaikan harga sahamnya jauh di atas rata-rata ROE; yang sebaliknya terjadi pada IMJS, META, dan SIMP.

Saya sendiri memilih saham-saham dari perusahaan yang ROE nya besar (rata-rata di atas 10% per tahun) dan konsisten dalam jangka panjang. Terbukti bahwa dalam jangka panjang, kenaikan harga sahamnya sebanding dengan kinerja bisnisnya. Sebagai tambahan bacaan, silahkan rujuk link berikut:

Bersambung: Materi Lain yang akan Ditulis

  • Analisa Fundamental dari Saham-saham Salim Group
  • Sejarah dan Perjalanan Bisnis Salim Group
  • Faktor apa yang Menjadikan Salim Group Survive dan Sukses?

Referensi

  • Website masing-masing perusahaan Salim Group.
  • Website First Pacific, perusahaan induk dari Indofood yang berbasis di Hongkong.
  • Buku “Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto” edisi terjemahan Bahasa Indonesia (Kompas Media Nusantara, 2016). Buku aslinya dalam Bahasa Inggris “Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia” oleh Richard Borsuk dan Nancy Chng (Singapore, ISEAS-Yusof Ishak Institute, 2014).
  • Buku “The Rhythm of Strategy. A Corporate Biography of the Salim Group of Indonesia” oleh Marleen Dieleman (Amsterdam University Press, 2007).
  • Disertasi Doktor “Chinese Big Business in Indonesia The State of Capital” oleh Christian Chua (National University of Singapore, 2006).
  • Jurnal “The Decline of Conglomerates in Post-Soeharto Indonesia:The Case of Salim Group” oleh Yuri Sato (Taiwan Journal of Southeast Asian Studies,Vol.1, No.1, 2004).
  • Jurnal “The Salim Group in Indonesia: The Development and Behavior of The Largest Conglomerate in Southeast Asia” oleh Yuri Sato (The Developing Economies, XXXI-4, December 1993).
Silahkan share artikel ini

15 thoughts on “Bisnis, Perusahaan, dan Saham Salim Group di Indonesia”

  1. Saya mw kompirmasi aja apakah insurance dengan nama 3i car network terdaftar di cabang anak peruaahaam salaim grup? Jika benar anak cabang dari yg mana dari saham di salaim grup

    1. Benar, begini silsilahnya: Salim Group ==> Gallant Venture ==> PT Asuransi Central Asia (ACA) ==> PT AJ Central Asia Raya (CAR) ==> Car 3i Networks

  2. Om saya mau nanya, apakah PT. IndoAlliz Perkasa Sukses sepenuhnya dimiliki oleh Salim Group, dan apa saja produk yang dipasarkan oleh Perusahaan tersebut, dan terdaftar di anak cabang Perusahaan yg mana PT. IndoAlliz Perkasa Sukses, soalnya saya lihat gak tertera nama Perusahaan tersebut pada artikel diatas.

    1. IndoAlliz merupakan join venture antara Salim Group dan Allianz, jadi tidak 100% dimiliki oleh Salim Group. Tentang silsilahnya dalam daftar anak-anak perusahaan Salim, saat ini saya masih melakukan riset, melalui bendera mana saja Salim Group melakukan investasi di bisnis Fintech (financial technology) Indonesia.

    1. Gerakan Indonesia Menabung yang mana yang dimaksud? Apakah ada link sebagai referensinya? Karena ada banyak orang yang mensosialisasikan ajakan untuk menabung.

  3. Apa benar salim group mengadakan bisnis via online hanya dengan h p via face book bisa mendapatkan income dan gaji bulanan? Trmksh

  4. Maaf bapak, untuk dana investasi d PT AJ CAR, apakah dana tsb masuk di semua anak perusahaan salim grup termasuk ke Bank BCA dan Bank INA?
    Ataukah hanya ke indofood sebagai pemegang saham tertinggi atau dana investasi merata ke semua anak perusahaan salim grup?
    Mhon penjelasannya
    Terimakasih.

  5. Mohon ulasan terkait PT Gema Insani Karya Indonesia – dimana adalah termasuk Salim Grup.. pemilik saham 50 % saham PT Nikko Securitas Indonesia.. profile usaha nya nya.. pemegang saham… Tks

  6. Apa benar uang bonus yang dibagikan ke setiap agen car 3i network berasal dari keuntungan hasil dari investasi pada perusahaan yang dimiliki Salim grub

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *