Bisnis, Perusahaan, dan Saham Lippo Group di Indonesia

Lippo Group adalah salah satu group perusahaan konglomerasi besar di Indonesia. Bisnisnya terdiversifikasi luas mencakup Real Estate, Retail, Hospitality & Leisure, Healthcare, Education, Media & News, Telcom & Multimedia, Digital Technologies, Financial Services, dan Global Investment. Di bursa saham Indonesia (IDX) harga-harga saham dalam kelompok bisnis Lippo Group sedang jatuh. Sebuah contoh perilaku pasar yang sangat nyata, di mana saham benar-benar ditinggalkan oleh para pelaku pasar. Memberikan kesempatan kepada investor untuk melihat lebih detail kinerja bisnis dan potensi kenaikan harga sahamnya di masa depannya.

Daftar Isi (anda bisa langsung klik ke bagian yang dikehendaki):

Sejarah Singkat Perusahaan

Lippo didirikan oleh Mochtar Riady pada tahun 1958. Li berarti Kekuatan atau Modal, Po berarti Sumber, maka Lippo berarti “Sumber Kekuatan Modal dan Moral”. Dulunya, bisnis utama Lippo adalah perbankan, dengan nama bank yang terkenal yaitu Bank Lippo hingga pada tahun 2008 Bank Lippo dilepas dan merger dengan Bank Niaga menjadi Bank CIMB Niaga.

Lippo telah melakukan keputusan bisnis yang sangat tepat, yaitu melakukan diversifikasi ke sektor Property ketika bisnis bank sedang masa jaya-jayanya. Ini tidak lepas dari inisiatif-inisiatif dari James Riady (sang anak, sebagai pemimpin bisnis generasi kedua). Mirip dengan Salim Group di mana pemimpin generasi kedua (Anthony Salim) yang mendobrak bisnis untuk melakukan diversifikasi.

Kini Lippo sedang masa transisi untuk mempersiapkan pemimpin generasi ketiga, yaitu John Riady (anaknya James Riady) yang kini menjadi CEO PT Lippo Karawaci Tbk.

Strategi dalam membangun bisnis

Bersambung …

Bisnis dan Perusahaan Lippo Group saat ini

Artikel ini membahas lebih detail tentang perusahaan-perusahaan public (tbk) Lippo di Indonesia. Namun akan disinggung sedikit beberapa bisnis di luar negeri dan bisnis yang tidak dalam naungan perusahaan tbk.

Gambar 1. Kepemilikan Lippo Group di Perusahaan Tbk di Indonesia. Keterangan gambar: Warna biru adalah perusahaan-perusahaan Tbk yang terdaftar di pasar saham Indonesia.

Tercatat ada 12 perusahaan tbk yang dimiliki (pemegang saham pengendali) dan yang berafiliasi (pemegang saham non pengendali) dengan Lippo:

  • PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR)
  • PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK)
  • PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
  • PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD)
  • PT Multipolar Tbk (MLPL)
  • PT First Media Tbk (KBLV)
  • PT Link Net Tbk (LINK)
  • PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
  • PT Matahari Department Store Tbk (LPPF)
  • PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA)
  • PT Bank National NOBU Tbk (NOBU)
  • PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI)

Perbandingan Kinerja Bisnis emiten Lippo Group

Tabel 1 di bawah ini berisi kinerja bisnis yang meliputi kode saham, tanggal IPO (go public), nilai aset, equity, revenue (pendapatan), profit, operating cash flow (OCF), rasio DER (debt to equity ration), ROE 1y (2019), ROE 3y (rata-rata tahun 2017-2019), dan ROE 6y (rata-rata tahun 2014-2019). Data terakhir (1y) adalah berdasarkan laporan keuangan TTM Q3 2019. Rata-rata ROE dihitung dengan pendekatan jumlah profit di periode yang dirata-ratakan dibagi dengan jumlah equity di periode yang dirata-ratakan tersebut. DER dihitung dengan hanya menyertakan komponen hutang berbunga saja. Tabel diurutan berdasarkan rata-rata ROE 6y, karena indikator yang paling penting dalam menilai kinerja bisnis adalah ROE, dan semakin lama waktu penilaian adalah semakin baik (rata-rata ROE 6y lebih baik dalam merepresentasikan kinerja jangka panjang daripada 3y).

Tabel 1. Kinerja Bisnis perusahaan-perusahaan tbk (emiten) Lippo Group. Nilai aset, equity, revenue, profit, dan OCF dalam milyar rupiah. Nilai ROE dalam %.

Nilai aset, equity, dan revenue menunjukkan ukuran (volume) bisnis. Profit disandingkan dengan OCF untuk melihat kekonsistenan klaim profit dengan kas operasi (setelah uang kas masuk dikurangi dengan uang kas keluar). Data ROE (return on equity) sengaja dicantumkan 3 variasi untuk memberikan penekanan pada kinerja jangka panjang.

Hasil analisa terhadap kinerja bisnis berdasarkan tabel 1 adalah sebagai berikut:

Emiten dengan kinerja bagus dan konsisten positif adalah LPPF, LINK, MLPT, MFMI. Diberi warna biru. ROE konsisten di atas 2 digit (untuk 1y, 3y, dan 6y), bisnisnya menguntungkan. Komposisi hutang perusahaan juga sangat sehat dengan rasio DER di bawah 0,3. Profit juga konsisten terhadap operating cashflow (OCF), mengindikasikan tidak adanya financial re-engineering dalam melaporkan profit. Catatan penting lainnya: meskipun ROE masih sangat tinggi, trend profitabilitas LPPF cenderung menurun, sebuah keniscayaan dalam sektor ritel yang saat ini menghadapi tantangan pesatnya perkembangan e-Commerce. Untuk LPCK juga mengalami penurunan profitability, bahkan menjadi minus (lihat ROE 1y), ini selaras dengan trend sektor property yang memang sedang turun.

NOBU dan SILO, meskipun positif kinerjanya bisa dikatakan tidak bagus. ROE sangat kecil, di bawah 3%. Bisnis yang tidak menguntungkan karena rata-rata ROE nya di bawah rata-rata inflasi. Namun dalam menilai perusahaan yang menjadi bagian dari group korporasi, perlu perspektif yang lebih luas. NOBU adalah bank, meskipun termasuk bank kecil, keberadaannya adalah untuk men-support bisnis group secara keseluruhan. SILO adalah rumah sakit kelas menengah ke atas, keberadaannya men-support bisnis property sebagai salah satu layanan kesehatan yang memberi added value bagi customer property-nya Lippo.

Bisnis property sedang lesu saat ini. Terlihat dengan kinerja LPKR, LPCK, dan GMTD yang negatif. Ketika property sedang booming beberapa tahun yang lalu, saham-saham property Lippo berkinerja paling tinggi. Dan kini ketika property sedang jatuh, saham-sahamnya juga jatuh paling dalam. Berharap siklus property akan bangkit di tahun-tahun mendatang.

Di sektor ritel, MPPA (dengan brand supermarket Hypermart) dari sudut manapun adalah bisnis yang sangat buruk. ROE konsisten semakin negatif. Hutang sangat besar (ditunjukkan rasio DER yang besar, dan komposisi equity yang sangat kecil dibandingkan total aset). Menghadapi kompetisi yang sangat dahsyat dengan ritel-ritel yang lebih kecil (seperti Indomart dan Alfamart), juga tantangan dari e-Commerce. Walaupun sama-sama di sektor ritel, LPPF (dengan brand Matahari department store) lebih bisa bersaing karena Matahari adalah pemimpin pasar (market leader) untuk offline fashion store.

In summary, kinerja bisnis Lippo Group secara keseluruhan bisa dilihat dari kedua induk perusahaan yaitu Lippo Karawaci (LPKR) dan dan Multipolar (MLPL), lihat kembali gambar 1 di atas mengenai struktur kepemilikan perusahaan Lippo.

Perbandingan Kinerja Harga Saham Lippo Group

Mari kita lihat kinerja harga saham emiten Lippo Group selama 6 tahun terakhir (data harga saham 31 Desember 2014 sampai 6 Februari 2020). Dalam 6 tahun terakhir CAGR (rata-rata kenaikan per tahun) harga saham hampir semuanya negatif kecuali GMTD, NOBU, dan MFMI. Lihat grafik 1 di bawah ini.

Penurunan harga saham Lippo terparah adalah pada MPPA (CAGR -48%), di mana harga saham pada 31 Desember 2014 adalah 3050 menjadi 112 (27x lebih kecil) pada 6 Februari 2020. GMTD adalah outlier, di saat pasar property sedang turun, justru harga saham malah naik dengan CAGR 22% (perlu dianalisa lebih lanjut mengapa bisa begitu). Namun kenaikan harga saham GMTD ini hampir tidak ada dampaknya bagi Lippo secara keseluruhan karena nilai bisnis GMTD yang relatif kecil (lihat tabel 1 di mana nilai aset GMTD 1,1 trilyun).

Grafik 1. Perbandingan kinerja harga saham Lippo Group selama periode 31 Desember 2014 sampai 6 Februari 2020

Isu berkaitan dengan Kredibilitas Manajemen Lippo

  • Kasus hukum. Silahkan searching di google google.com/search?q=kasus+hukum+Lippo
  • Buku underground “The Lippo Way”, memang tidak serta merta harus dipercaya isinya, dan sebaliknya juga tidak serta merta bisa diabaikan begitu saja. Menambah masukan buat investor untuk melakukan analisa sebelum mengambil keputusan investasi.

Saham Lippo Group yang Mana yang layak investasi?

Mari kita lihat indikator valuasi harga saham emiten Lippo Group, lihat tabel 2. PER dan PBV dibandingkan untuk periode now (harga saham 6 Februari 2020), 1y ( TTM Q3 2019), 3y (rata-rata tahun 2017-2019), dan 6y (rata-rata 2014-2019).

ROE dan DER sengaja ditampilkan untuk melihat perspektif fundamentalnya (bagus untuk ROE tinggi dan DER rendah). Karena keputusan investasi harus melihat sisi fundamental bisnis (untuk keamanan dan potensi growth) dan valuasi market (untuk menakar potensi kenaikan harga saham).

Pada bagian PER dan PBV ada kolom MoS, itu adalah Margin of Safety dalam satuan %. MoS umumnya dihitung berdasarkan harga sekarang relatif terhadap harga wajar saham. Rumus MoS = (harga wajar – harga sekarang) / harga sekarang. Untuk mempermudah penghitungan, kita bisa menghitung MoS tanpa melibatkan prediksi EPS (earning per share) maupun prediksi BVS (BookValue per Share).

MoS = (PER Ratarata - PER sekarang) / PER sekarang
MoS = (PBV Ratarata - PBV sekarang) / PBV sekarang

Valuasi relatif PER tidak bisa dihitung dengan mudah pada nilai-nilai PER negatif (yang disebabkan oleh profit yang negatif atau merugi), diperlukan asumsi-asumsi yang lebih kompleks. Oleh karena itu nilai MoS pada PER yang negatif dikosongkan di tabel 2 di bawah ini. Karena nilai MoS PBV lebih lengkap, maka tabel 2 ini durutkan berdasarkan MoS PBV.

Tabel 2. Indikator Valuasi Market emiten Lippo Group

Hasil analisa terhadap valuasi market berdasarkan tabel 2 adalah sebagai berikut:

Berdasarkan valuasi relatif PBV (lihat nilai MoS pada kolom PBV) hampir semua saham Lippo mempunyai MoS yang besar, kecuali NOBU dan GMTD. MoS menunjukkan potensi kenaikan harga saham (dari harga sekarang ke harga wajarnya). Artinya, saham-saham Lippo (kecuali NOBU dan GMTD) memang sedang murah. Lihat saham LPPF yang nilai MoS-nya 952%, itu artinya harga saham LPPF punya potensi untuk naik 952%.

Berdasarkan valuasi relatif PER (lihat nilai MoS pada kolom PER), saham MLPT, MFMI, LPPF, LINK, NOBU, SILO mempunyai MoS positif, artinya harga saham lebih murah daripada harga wajarnya.

Untuk emiten dengan rata-rata ROE dua digit (di atas 10%), kita lihat bahwa nilai PER dan PBV saat ini memberikan valuasi nilai MoS yang cukup besar. Sehingga bisa di-consider sebagai layak investasi. Dari sisi kesehatan perusahaan, menurut saya DER 0,3 itu cukup sehat selama rata-rata ROE-nya di atas 10%.

Tetap, kualitas manajemen mesti sangat dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk memilih saham Lippo ini.

Kesimpulan (Key Takeaways)

  • Saat ini kinerja sebagian besar bisnis Lippo Group sedang turun. Berdampak pada penurunan harga saham yang lebih dalam lagi (reaksi market memang selalu berlebihan). Kinerja yang buruk sebagian besar terkumpul di sektor property (LPKR dan LPCK) dan retail (MPPA). Bahkan beberapa emiten yang berkinerja stabil dan bagus (MLPT, MFMI, LINK) ikut terkena dampak sentimen market yang negatif.
  • LPPF (dengan Matahari Department Store sebagai ritel andalannya) meskipun ROE masih sangat besar, tetap sedang trend menurun. Di mana ROE sekarang 46,9% jauh menurun dibandingkan rata-rata ROE 6 tahun yang sebesar 100,6%. Secara ekosistem bisnis memang sedang menghadapi tantangan dari e-Commerce. Jadi meskipun valuasi memberikan nilai MoS yang cukup besar, harus diperhatikan bahwa sangat sulit untuk mencapai harga wajar (dengan rata-rata valuasi PER dan PBV sebagai acuannya) karena secara potensi bisnis akan sangat sulit kembali seperti dulu lagi.
  • Catatan untuk MLPT (Multipolar Technology) dan MFMI (Multifiling). Asumsi awal saya (nanti akan saya lanjutkan dengan riset yang lebih detail lagi), sebagian besar customer MLPT dan MFMI adalah perusahaan-perusahaan afiliasi Lippo Group. Jadi secara market demand hampir pasti dibutuhkan. Kinerja bisnis cukup stabil dan bagus. Nilai ROE stabil di atas 10% dan tidak dalam trend menurun. Perusahaan juga sangat sehat dengan DER di bawah 0,2. Valuasi juga memberikan MoS yang cukup besar.
  • LINK (Linknet) sebagai penyedia layanan fiber internet dan TV kabel, berkinerja cukup stabil dan bagus. Rata-rata ROE di atas 15%. Sangat sehat dengan DER di bawah 0,2. Dengan luasnya area kompleks real estate yang dikelola oleh Lippo Group, tentu saja menjadikan Linknet sebagai market leader di area tersebut. Potensi bisnis yang sustainable. Makanya wajar kalau penurunan harga sahamnya tidak separah yang lainnya, namun di sisi lain potensi kenaikan harga sahamnya (lihat nilai MoS) juga tidak sebesar yang lainnya. Namun tetap saja, nilai MoS 55% untuk valuasi relatif PBV dan MoS 36% untuk valuasi relatif PER adalah tetap menarik.
  • Di sektor property, menjadi PR saya untuk melakukan riset lebih lanjut lagi.
  • Tentu saja, isu kredibilitas manajemen akan menambah unsur risks.

In summary, harga saham-saham Lippo Group sedang sangat murah saat ini. Saya sendiri mengkategorikan beberapa saham Lippo sebagai turnaround, di mana bisa berharap multibagger; dengan memilih yg paling kuat fundamentalnya. Namun karena resiko tidak kecil, komposisi saham-saham turnaround in total sangat kecil dibandingkan total portfolio, dan itupun harus dilakukan diversifikasi (bersama dengan saham-saham turnaround lainnya). Memang untuk investor pemula sangat aman kalau tidak mengambil saham-saham jenis turnaround ini.

Bersambung: materi lain yang akan ditulis

  • Analisa Fundamental dari tiap-tiap saham Lippo
  • Sejarah dan Perjalanan Bisnis Lippo Group
  • Faktor apa yang Menjadikan Lippo Survive dan Sukses? Dan mengapa hampir semua kinerja bisnisnya sekarang turun?

Referensi

  • Website Lippo, Artikel Wikipedia
  • Website masing-masing emiten Lippo Group
  • Otobiografi Mochtar Riady “Manusia Ide” editor oleh Tandjung Kt (Penerbit Buku Kompas, 2016)
  • Disertasi Doktor “Chinese Big Business in Indonesia The State of Capital” oleh Christian Chua (National University of Singapore, 2006).
Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *