Cara Kerja Sistem Ekonomi dan Keuangan

Ekonomi adalah sistem di mana barang dan jasa diproduksi, diperdagangkan, dan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan. Ini adalah pengertian yang menurut saya paling holistik. Silahkan rujuk juga ke buku-buku akademik untuk berbagai macam pengertiannya. Investor wajib mengetahui cara kerja dan faktor-faktor penting yang berkaitan, karena kegiatan investasi dilakukan di dalam sistem ekonomi (dan lebih khusus lagi sistem keuangan).

Daftar isi:

Investasi Ibarat Memancing Ikan

Investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, mata uang, derivatif, dan lain-lain) bisa diibaratkan memancing di tengah lautan. Agar aman dari terpaan angin dan gelombang laut, dan bisa mendapatkan hasil pancingan yang bagus; maka pemancing perlu mengetahui apakah kapalnya kuat dan aman, apakah iklim dan cuaca sedang tenang, dan apakah lautnya banyak ikannya. Selalu ingat, baik dalam investasi maupun dalam memancing, tujuan pertama adalah aman dan selamat, setelah itu baru mengejar hasil atau keuntungan.

  • Pemancing (nelayan): Investor
  • Ikan tangkapan: profit (untung)
  • tidak mendapatkan iklan: rugi
  • mengalami musibah di laut: bangkrut
  • Kapal yang ditumpangi: Instrumen investasi atau aset finansial (saham, obligasi, uang, derivatif, dll)
  • Kondisi laut: Kondisi ekonomi dan pasar keuangan
  • Ombak dan angin: Market yang bergejolak
  • Cuaca: Siklus ekonomi jangka pendek (inflasi, suku bunga, dll)
  • Musim: Siklus ekonomi jangka panjang (ekspansi ekonomi, buble, kontraksi ekonomi, resesi, dll)
  • Pengetahuan cara memancing: Pengetahuan cara melakukan analisa fundamental

Artikel ini akan membahas tentang ekonomi, pasar keuangan, dan bagaimana gejolak-gejolak beserta siklusnya itu terjadi. Sebagaimana membahas kondisi laut, ombak, angin, cuaca, dan musim yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan pemancing ikan di laut.

Dasar Sistem Ekonomi

Untuk memenuhi kebutuhannya, kita harus memproduksi sesuatu untuk dikonsumsi. Jaman dulu kala nenek moyang kita mendapatkannya dengan mengambil dari alam, berburu hewan, bercocok tanam, dan beternak. Jika membutuhkan barang lain yang tidak dimilikinya, maka mereka melakukan pertukaran (barter) dengan barang milik orang lain. Dalam pertukaran, sesuatu yang dibutuhkan untuk diminta disebut demand (permintaan) dan sesuatu yang dimiliki untuk ditawarkan disebut supply (penawaran). Itulah bentuk ekonomi yang paling dasar.

Gambar 1. Sistem jaman dahulu – barter

Seiring dengan perkembangan jaman, di mana aktivitas pertukaran barang semakin banyak dan kompleks, motede barter tidaklah efesien. Hingga akhirnya kita menemukan alat pertukaran yang lebih fleksibel yaitu uang.

Semakin meningkatnya kemampuan manusia dalam berproduksi karena berkembangnya ilmu dan pengetahuan, maka produktifitas semakin meningkat. Karena orang produktif, memiliki masa depan yang lebih baik, maka orang berani memberikan kredit (hutang/pinjaman) ke orang lain.

Pertukaran yang melibatkan alat pembayaran baik uang maupun kredit, inilah yang disebut dengan transaksi. Sesuatu yang ditransaksikan, kalau jaman dulu hanya barang (goods) saja, jaman sekarang meluas ke jasa (service) dan aset keuangan (financial asset).

Tempat terjadinya transaksi disebut pasar (market). Contoh pasar barang (commodity market) adalah pasar beras, pasar tepung, pasar hewan, pasar batubara, pasar minyak bumi, dan lain-lain. Contoh pasar jasa adalah pasar tenaga kerja (labor market). Contoh pasar keuangan (financial market) adalah bursa yang memperjual-belikan asset keuangan seperti saham (stock), obligasi (bond), mata uang (currencies), dan produk turunan (derivatives) lainnya.

Para pelaku transaksi di market bisa dikelompokkan sebagai berikut: rumah tangga (household), perusahaan (corporation), pemerintah (government), dan pihak asing (foreign).

Ekonomi merupakan agregat dari semua transaksi yang dilakukan oleh semua pihak di semua market yang ada. Sebagai sebuah system yang sangat kompleks dan dinamis, tentunya diperlukan pihak yang mengaturnya (govern) yaitu bank sentral (dengan bijakan moneternya) dan pemerintah (dengan kebijakan fiskalnya).

Gambar 2. Sistem ekonomi jaman sekarang (transaksi)

Dasar Sistem Keuangan

Uang adalah alat tukar utama dalam transaksi. Bentuk alat tukar ini sendiri telah mengalami evolusi: dari barang untuk barter, uang fisik yang nilainya sebesar harga fisik uang tersebut (misalnya koin emas), menjadi uang kertas yang nilainya sebesar jaminan emas yang disimpan di bank sentral, hingga akhirnya menjadi uang kertas yang nilainya sebesar utang negara yang dijamin akan dibayar di masa depan. Yang terakhir ini disebut sebagai fiat money.

Gambar 3. Sistem keuangan negara (produksi dan distribusi uang dan kredit)

To be continued ….>> nanti akan dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih detail

Siklus dan Kesetimbangan (equilibrium) Ekonomi

Penggerak utama ekonomi adalah produktifitas dan hutang/kredit/debt. Produktivitas umat manusia semakin lama semakin tinggi. Ilmu pengetahuan dan teknologilah yang telah mendorong produktifitas sampai setinggi seperti sekarang ini. Jaman dulu kala, untuk transportasi perdagangan jarak jauh, manusia menggunakan kereta kuda yang kemampuan perjalanannya sekitar 19 km dengan waktu kerja 4 atau 5 jam per hari. Bandingkan dengan kapasitas dan kecepatan transportasi pesawat kargo jaman sekarang, membuat manusia menjadi semakin produktif.

Ketika seseorang berhutang, maka dia mendapatkan value untuk bisa dimanfaatkan saat ini, sebagai kompensasinya maka di masa depan dia harus membayarnya. Jadi ada trade-off antara manfaat di masa sekarang dengan beban di masa depan; inilah yang menjadikan karakteristik hutang itu bersiklus. Berhutang itu baik jika digunakan untuk usaha yang produktif sehingga menghasilkan value yang lebih besar sehingga mampu untuk membayar hutang beserta bunganya. Sebaliknya, berhutang itu buruk jika digunakan untuk konsumsi saja, apalagi digunakan untuk bisnis yang merugi. Intinya, hutang jika dikelola dengan baik maka bisa menjadikan untung yang berlipat-lipat, dan jika dikelola dengan buruk maka berlipat-lipat pula ruginya, itulah kenapa hutang disebut sebagai daya leverage (pengungkit). Dalam skala mikro (perusahaan), silahkan baca pengaruh leverage terhadap kinerja perusahaan (ROE).

Dalam skala ekonomi negara, dampak hutang ini semakin terlihat jelas. Ketika ekonomi menjadi lebih baik karena produktifitas meningkat, maka kreditor (bank) akan semakin lebih berani untuk meminjamkan uangnya kepada debitor (nasabah). Sebagai dampaknya, ekonomi semakin berkembang, penghasilan (income) meningkat sehingga hidup semakin makmur. Inilah yang disebut dengan masa ekspansi. Masa ekspansi ini akan terus berjalan selama income lebih besar daripada kewajiban hutang (debt service: pokok hutang dan bunganya).

Ketika kemakmuran meningkat, maka konsumsi semakin meningkat. Harga-harga jadi semakin naik (inflasi) karena laju permintaan (demand) konsumsi yang sangat besar akibat kemakmuran, sementara itu laju produksi (supply) tidak bisa secepat itu. Harga-harga aset investasi (properti, saham, dll) juga ikutan naik. Naiknya harga aset investasi menjadikan orang semakin berani berhutang untuk diinvestasikan ke aset yang kenaikan harganya leih besar daripada bunga hutang. Kemakmuran itu terasa sangat mudah untuk dicapai. Bubble ekonomi! Hingga akhirnya, tibalah saatnya untuk membayar hutang yang jatuh tempo. Ekspansi telah mencapai puncaknya.

Awalnya, cicilan hutang yang jatuh tempo tidak terlalu merisaukan karena income masih cukup besar untuk membayar pokok cicilan dan bunganya. Namun karena harga-harga yang semakin mahal (inflasi) maka net-income semakin menurun sehingga kemampuan untuk membayar cicilan hutang semakin menurun pula. Ekonomi mulai melambat, disebut masa resesi. Di saat ini orang mulai mencairkan aset investasinya (menjual properti, saham, dll) untuk membantu mengatasi kewajiban hutangnya. Dan secara agregat, semakin banyak orang melepas aset investasinya menjadikan harga aset investasi itu semakin murah. Dan selanjutnya harga aset investasi itu menjadi semakin murah dan murah.

Di saat resesi inilah, negara berperan sangat penting untuk mengatasinya dengan membuat kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang tepat. Jika ini berhasil, maka masa resesi teratasi dan siklus mencapai dasarnya untuk kembali meneruskan siklus selanjutnya (ekspansi). Namun jika usaha negara tidak berhasil, di mana secara agregat kemampuan membayar hutang semakin melemah bahkan menjadi tidak mampu membayar hutang, maka masa resesi menjadi berkepanjangan. Jika resesi terus berlarut-larut dan semakin parah, maka ini disebut sebagai masa depresi. Dan depresi merupakan peralihan dalam siklus ekonomi jangka panjang.

Gambar 2 di bawah ini menjelaskan siklus sistem ekonomi dengan sangat jelas. Garis kesetimbangan (equilibrium) siklus ekonomi jangka pendek (ekspansi, puncak, resesi, dasar) berpusat pada kurva siklus jangka panjang. Dan Garis kesetimbangan siklus ekonomi jangka panjang berpusat pada garis produktivitas. Mungkin ada pertanyaan, mengapa kurva produktivitas berbentuk garis lurus (tidak bersiklus)? Karena ilmu pengetahuan dan terknologi trend-nya adalah meningkat, bertambah terus-menerus.

Gambar 4. Grafik produktifitas, siklus jangka pendek, dan siklus jangka panjang. Sumber gambar Ray Dalio, How The Economic Machine Works (lihat referensi)

Jadi, karakteristik siklus ekonomi disebabkan oleh karakteristik hutang yang bersiklus. Oleh karena itu, dalam banyak pembahasan, siklus ekonomi (economic cycle) adalah sama dengan siklus hutang (debt cycle). Menurut Ray Dalio, siklus hutang jangka panjang berdurasi sekitar 50 sampai 70 tahun. Sedangkan siklus hutang jangka pendek berdurasi sekitar 5 sampai 8 tahun. Angka-angka durasi waktu siklus ini bukanlah angka yang eksak, hanya menunjukkan perkiraan berdasarkan kejadian masa lalu.

To be continued ….>> nanti akan dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih detail

Tujuan Sistem Ekonomi negara: Pertumbuhan dan Siklus yang stabil

Nilai ekonomi sebuah negara digambarkan sebagai total (keseluruhan) nilai belanja atau pendapatan yang dicapai oleh negara dalam suatu periode, yang disebut dengan produk domestik bruto (PDB), yang bahasa Inggisnya gross domestic product (GDP).

PDB = Konsumsi + Investasi + Pemerintah + (Ekport - import)

Rumus di atas adalah cara menghitung PDB dengan pendekatan belanja (pengeluaran atau spending). Di mana konsumsi adalah belanja rumah tangga, Investasi adalah belanja perusahaan, Pemerintah adalah belanja pemerintah, ekspor import adalah belanja asing. Belanja rumah tangga dan perusahaan disebut sebagai sektok privat, dan belanja pemerintah disebut sebagai sektor publik.

Cara kedua untuk menghitung PDB adalah dengan pendekatan pendapatan (income). Namun pendekatan yang ini lebih sulit dilakukan, sehingga lebih dipilih pendekatan belanja. Adapun rumus PDB dengan pedekatan pendapatan adalah: PDB = sewa + upah + bunga + laba.

Sebagai manusia tentunya kita menginginkan kesejahteraan hidup yang baik dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari perspektif ekonomi negara, ini ditunjukkan oleh nilai PDB yang terus tumbuh dari waktu ke waktu. Ketika terjadi dinamika hidup (kadang di atas dan kadang di bawah), manusia berharap bahwa dinamika itu tidak terlalu ektrim. Dari perspektif ekonomi negara, sangat diperlukan kebijakan negara untuk menjaga pertumbuhan PDB yang stabil agar dinamika (dalam bentuk siklus ekonomi) ini tidak terlalu ektrim (senantiasa dekat dengan titik equilibrium). Kebijakan negara inilah yang akan kita bahas di bagian kebijakan fiskal dan moneter di bawah ini.

Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal

Tujuan kebijakan negara adalah untuk menjaga agar ekonomi (PDB) tumbuh dan stabil. Stabil dalam arti, deviasi pergerakannya tidak terlalu jauh dari titik equilibrium.

Kebijakan Moneter. Dilakukan oleh bank sentral (Bank Indonesia). Untuk mengatur supply uang yang beredar. Dengan cara menaikkan atau menurunkan suku bunga (interest rate), rasio cadangan bank, dan operasi pasar terbuka.

Kebijakan Fiskal. Dilakukan oleh pemerintah (kementerian keuangan). Untuk mengatur demand belanja (barang, jasa, aset keuangan). Dengan cara menaikkan atau menurunkan pajak dan belanja pemerintah.

Kebijakan ekspansi atau pelonggaran

Jika negara menghendaki untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Disebut sebagai kebijakan ekspansi (expansionary policy) atau pelonggaran (easing policy). Dilakukan pada masa awal pertumbuhan dalam siklus ekonomi untuk mempercepat pertumbuhan; dan juga dilakukan pada masa setelah resesi untuk recovery ekonomi.

Kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral untuk menaikkan supply uang supaya kegiatan ekonomi semakin bergairah adalah:

  • Menurunkan suku bunga. Ketika suku bunga rendah, maka orang akan lebih mudah untuk mengambil kredit untuk membiayai aktivitas ekonominya. Sehingga secara agregat akan meningkatkan komsumsi (belanja rumah tangga) dan investasi (belanja perusahaan), dan akan berakibat pada kenaikan PDB.
  • Menurunkan rasio cadangan wajib bank komersial yang disimpan di bank sentral (Cash Reserve Ratio – CRR). Sehingga bank komersial memiliki lebih banyak uang untuk digunakan kredit kepada nasabah untuk membiayai aktivitas ekonominya.
  • Operasi pasar terbuka, membeli kembali aset financial yang dikeluarkan bank sentral. Sehingga lebih banyak orang yang memegang uang cash untuk menambah aktivitas/belanja ekonominya.

Kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah untuk menaikkan permintaan atau belanja:

  • Menurunkan pajak. Ketika beban pajak turun, maka individu (rumah tangga) dan perusahaan akan semakin memiliki uang lebih untuk melakukan pengeluaran sehingga ekonomi semakin menggeliat.
  • Meningkatkan belanja negara sehingga aktivitas ekonomi meningkat pula.

Kebijakan kontraksi atau pengetatan

Jika negara menghendaki untuk mengetatkan pertumbuhan ekonomi. Disebut sebagai kebijakan kontraksi (contractinary policy) atau pengetatan (tightening policy). Dilakukan pada masa puncak pertumbuhan dalam siklus ekonomi untuk memperlambat pertumbuhan; karena pertumbuhan sudah tidak sehat lagi (bubble terlalu besar) di mana inflasi terlalu tinggi.

Kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral untuk menurunkan supply uang supaya bubble ekonomi tidak berkembang terlalu pesat; dan supaya inflasi bisa diturunkan:

  • Menurunkan suku bunga.
  • Menurunkan rasio cadangan wajib bank komersial yang disimpan di bank sentral.
  • Operasi pasar terbuka, menjual/mengeluarkan aset financial (misalnya sertifikat Bank Indonesia – SBI).

Kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah adalah merangsang penghematan:

  • Menaikkan pajak.
  • Mengurangi belanja negara.

Bagaimana potensi hasil investasi di tiap fase siklus ekonomi?

Ketika ekonomi sedang bertumbuh (ekspansi) maka potensi kenaikan (profit) saham lebih besar daripada yield (imbal hasil) obligasi, yield obligasi jangka panjang lebih besar daripada yield obligasi jangka pendek, dan yield obligasi jangka pendek lebih besar daripada bunga deposito.

indek saham > yield obligasi jangka panjang > yield obligasi jangka pendek > bunga deposito 

Mengapa bisa begitu? Ingat filosofi investasi: berharap value masa depan yang lebih besar daripada value sekarang. Ketika semuanya baik-baik saja, kesejahteraan meningkat di mana pendapatan lebih besar dari pada beban, maka orang berasumsi bahwa hal yang baik ini akan berlaku seterusnya. Sehingga semakin panjang waktu, maka berharap bahwa akumulasi value yang dihasilkan akan semakin besar pula. Asumsi ini berlaku terutama ketika ekonomi sedang bubble.

Ketika bubble ekonomi mulai jenuh, kinerja investasi saham mulai melambat pula, sehingga kinerja kenaikan harga saham menjadi di bawah yield obligasi jangka panjang. Parahnya, ketika bubble pecah dengan dahsyat, kinerja saham bisa dibawah bunga deposito, dan bahkan bisa negatif.

Ketika memasuki masa depresi ekonomi, maka terjadi pembalikan yang sempurna. Di mana-mana terjadi rasa pesimisme akan masa depan. Sehingga:

indek saham < yield obligasi jangka panjang < yield obligasi jangka pendek < bunga deposito 

Situasi ekonomi dunia saat ini (Where are we in the cycle now?)

Bagaimana dengan kondisi ekonomi dunia, dan khususnya Indonesia saat ini? Sedang di fase siklus manakah? Sangat menarik ulasan Ray Dalio tentang ekonomi Amerika Serikat (US) dalam The Three Big Issues and the 1930s Analogue (lihat referensi):

  • Trend long-term interest rate (yield obligasi jangka panjang) yang lebih rendah daripada short-term interest rate (yield obligasi jangka pendek).
  • Trend suku bunga semakin menurun. Kebijakan moneter (menurunkan suku bunga) yang tidak begitu mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi. Dan kebijakan moneter ini ada batasnya ketika suku bunga menjadi nol, dan di US sedang menuju kondisi ini. (catatan : Jepang dan beberapa negara EURO sudah mengalami suku bunga nol bahkan negatif).
  • Kedua trend tersebut, mengindikasikan long-term debt cycle (siklus ekonomi jangka panjang) sedang menurun (fase deleveraging). Lihat kembali gambar 4 tentang siklus ekonomi.
  • Gap antara si kaya dan si miskin semakin besar. Berbagai kebijakan negara untuk pemerataan (menaikkan pajak dan meningkatkan layanan public) akan menyebabkan memanasnya konflik politik internal negara.
  • Konstelasi politik ekonomi dunia, dia mana China menjadi penantang dominasi US, semakin memanas dengan terjadinya perang dagang.
  • Dari semua hal tersebut ini, kondisinya mirip dengan masa depresi panjang tahun 1930-an.

Mengapa sistem ekonomi US begitu pentingnya? Karena US adalah pusat kekuatan ekonomi terbesar dunia, sehingga apa yang terjadi di ekonomi US tentunya akan berdampak pada ekonomi dunia secara keseluruhan. Di ekonomi dunia saat ini mata uang US dolar merupakan: 61% cadangan devisa negara, 90% trading forex, dan 40% utang dunia dalam mata uang USD.

Bagaimana dengan Indonesia?

  • Trend suku bunga sedang menurun. Trend inflasi juga menurun.
  • Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) stagnan dua tahun terakhir. Jelas sekali kinerjanya dibawah obligasi, bahkan di bawah deposito. Apakah ini indikasi bahwa bubble (kenaikan harga saham yang sangat melejit pasca krisis 2008) telah berakhir dan akan meledak?
  • Fakta bahwa ketergantungan ekonomi Indonesia dengan ekonomi US (US Dolar) sangat besar.

Kesimpulan (key take aways)

  • Adalah wajib bagi investor untuk memahami bagaimana sistem ekonomi dan keuangan ini bekerja. Bagaimana fase-fase dalam siklus ekonomi itu terjadi. Dan apa dampak-dampak yang bisa terjadi pada kinerja instrument-instrument investasi.
  • Diversifikasi adalah strategi terbaik sepanjang masa. Selalu ingat, tujuan pertama investasi adalah keamanan, profit atau keuntungan hanyalah tujuan nomor dua.
  • Ketika siklus ekonomi sedang berkembang (ekspansi), porsi portfolio investasi bisa diperbanyak di saham. Ketika sedang melambat, obligasi bisa menjadi porsi yang besar dalam portfolio. Dan ketika semua sedang jatuh, maka cash is king.

Saya pernah menulis artikel Sikap Investor Menghadapi Kejatuhan Harga Saham (Market Crash). Memang dalam jangka panjang, investasi saham hasilnya lebih memuaskan. Namun akan lebih baik lagi kalau kita mengetahui siklus sistem ekonomi, dan di posisi mana kita berada saat ini, sehingga resiko bisa lebih terminimalkan dan potensi profit bisa termaksimalkan.

Referensi

Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *