Harga saham CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD jatuh – Peluang Investasi Bagus di Industri Pakan Ternak (Poultry)

Sejak awal tahun 2019 ini, harga-harga saham pakan ternak turun lumayan besar. Memberikan kesempatan buat saya untuk melakukan analisa lebih dalam, apakah penurunan ini sudah cukup untuk memberikan peluang investasi yang menarik atau belum. Dan jika industri pakan ternak ini menarik, maka emiten yang manakah yang paling layak dipilih? In summary, tulisan ini akan membahas:

  • Competitive Advantage Industri Poultry di Indonesia: market share, margin, dan ruang pertumbuhan yang besar
  • Perbandingan Kinerja Bisnis: besarnya bisnis (revenue), profitability (ROE), dan keamanan bisnis (Interest Coverage)
  • Ada Apa di Balik Harga Saham yang Turun?
  • Valuasi Harga Saham dan Margin of Savety (MOS)
  • Kesimpulan, menarik buat investasi

Competitive Advantage Industri Poultry di Indonesia

Di Bursa saham Indonesia, ada 5 emiten yang masuk kategori pakan ternak ini :

  • CPIN (Charoen Pokphand Indonesia). Bisnis utama unggas.
  • JPFA (Japfa Comfeed Indonesia). Bisnis utama unggas, sapi, ikan, udang.
  • MAIN (Malindo Feedmill). Bisnis utama unggas.
  • SIPD (Sierad Produce). Bisnis utama unggas.
  • CPRO (Central Proteinaprima). Bisnis utama udang.

Unggas adalah bisnis utama dari keempat perusahaan terbesar di industri Pakan Ternak ini (CPIN, JPFA, MAIN, SIPD). Oleh karena itu, industri pakan ternak sering disebut sebagai industri unggas (poultry). JPFA walaupun bisnisnya meliputi unggas, sapi, ikan, dan udang; segmen unggas tetap yang utama dan terbesar. CPRO, karena bisnis utamanya adalah udang, maka tidak akan dimasukkan dalam pembahasan poultry di tulisan ini. Jadi, perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam industri poultry adalah CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD.

Keempat perusahaan poultry ini menggarap bisnisnya secara terintegrasi dari hulu ke hilir, end-to-end. Mulai dari memproduksi dan menjual pakan ternak, bibit ternak, pembesaran ternak, daging potong, dan juga produk makanan olahannya. 

Market Share yang Besar

Di Indonesia, industry poultry menyumbang sekitar 65% pemenuhan atas protein hewani, di mana yang 35% persen dipenuhi oleh daging hewan lain dan ikan. Sangat besar sekali. Makanya, di mana-mana kita selalu menemukan menu makanan dengan lauk ayam maupun telur. Juga, industri poultry ini menyerap sekitar 10% tenaga kerja Indonesia. Sebuah industri yang sangat strategis karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Saat ini, bisa dibilang bahwa market poultry Indonesia dikuasai oleh 4 perusahaan besar (CPIN, JPFA, dan MAIN). Memberikan kekuatan monopoli yang sangat besar.

Market share industri pakan ternak
Tabel 1. Market share industri poultry di Indonesia

Dengan besarnya penguasaan atas market share, sangat sulit buat pemain baru (competitor) untuk masuk ke industri ini.

Margin yang Besar

Harga jual ayam dan telur di Indonesia, lebih tinggi daripada harga di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi, harga pokok produksi ayam dan telur di Indonesia justru sebaliknya, yaitu lebih rendah daripada harga di Eropa. Double profit! Keuntungan ganda! Margin yang besar!

Ruang pertumbuhan yang Besar

Pertumbuhan perkapita (per tahun per orang) konsumsi unggas lebih kecil dari pada pertumbuhan GDP Indonesia. Artinya, terdapat potensi yang sangat besar seiring meningkatnya kesejahteraan penduduk (ditunjukkan oleh angka pertumbuhan GDP yang lebih besar dari pertumbuhan konsumsi unggas).

Selain itu juga didukung oleh data di mana mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, yang lebih memilih unggas (daripada daging babi), dan semakin dikuatkan lagi oleh data statistic di mana pertumbuhan konsumsi unggas lebih besar daripada pertumbuhan konsumsi daging (sapi dan babi).

Perbandingan Kinerja Bisnis 

Tabel 2 di bawah ini merupakan ringkasan laporan keuangan CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD. Berisi informasi aset, liabilitas, equitas, pendapatan (revenue), laba usaha, laba bersih (net profit), operating cashflow, dan harga saham.  Tiap-tiap informasi dibandingkan antara data tahun terakhir (2018), CAGR (rata-rata pertumbuhan per tahun) selama 3 tahun ke belakang, dan CAGR selama 8 tahun ke belakang.

Ringkasan laporan keuangan perusahaan pakan ternak
Tabel 2. Ringkasan laporan keuangan perusahaan poultry

Ukuran Bisnis dan Pertumbuhan

Ukuran bisnis ditunjukkan oleh revenue (pendapatan). Dari tabel 2 diketahui bahwa ukuran bisnis yang terbesar sampai terkecil adalah CPIN (54 trilyun), JPFA (34 trilyun), MAIN (7 trilyun), dan SIPD (3 trilyun). Competitive advantage (keunggulan kompetisi) CPIN juga paling besar, ditunjukkan oleh pertumbuhan pendapatan jangka Panjang (CAGR 8 tahun) yang paling besar (17,3%) dibandingkan JPFA (11,8%), MAIN (16,1%) dan SIPD.

Profitability (kemampuan menghasilkan profit)

Tabel 3 di bawah ini merupakan rasio kinerja bisnis (net margin, asset turnover, financial leverage, ROA, ROE, DER, interest coverage) dan valuasi market (PBV dan PER) untuk CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD. Data dibandingkan dengan akhir tahun 2018, rata-rata 3 tahun ke belakang, dan rata-rata 8 tahun ke belakang.

Rasio kinerja perusahaan pakan ternak
Tabel 3. Rasio kinerja perusahaan dan valuasi market poultry

Indikator kinerja paling utama adalah ROE, menunjukkansebesar apa hasil bisnis (net profit) terhadap modalnya pemegang saham (equity). Yang terbaik adalah ROE yang besar dan konsisten dalam jangka panjang. Dari tabel 3 terlihat bahwa ROE CPIN adalah yang terbaik disusul oleh JPFA, MAIN. Sementara itu SIPD tidak diperhitungkan sebagai perusahaan yang menguntungkan karena rata-rata ROE nya kecil di bawah bunga bank, bahkan historicalnya malah ROE nya minus.

ROE sendiri adalah kombinasi (perkalian) antara net margin (rasio net profit terhadap revenue), asset turnover (rasio revenue terhadap asset), dan financial leveragae (rasio asset terhadap equity). Net margin CPIN terbesar, menunjukkan besarnya kemampuan revenue-nya menghasilkan profit. Asset turnover CPIN juga terbesar, menunjukkan betapa efesiennya menggunakan asetnya untuk menjalankan bisnis. Financial leverage CPIN terkecil dibandingkan lainnya, memang ini tidak mendongkrak ROE, namun ini berarti CPIN mengedepankan keamanan bisnis (karena mengambil strategi mengecilkan utang). Lagipula dengan besarnya net margin dan asset turnover, ROE CPIN tetap lebih tinggi dibandingkan lainnya.

Keamanan Bisnis (Kemampuan membayar utang)

Dari sisi keamanan bisnis, indicator paling utama adalah Interest Coverage (rasio antara besarnya profit sebelum bunga&pajak terhadap beban bunga). Semakin besar nilai Interest Coverage, maka semakin kecil porsi beban bunga, sehingga perusahaan lebih tahan terhadap resiko (ketidakmampuan dalam membayar bunga pinjaman) jika terjadi penurunan profit di masa depan. Di sini CPIN paling bagus.

Indikator selain interest coverage adalah DER (debt to equity ratio), menunjukkan besarnya hutang (liability) terhadap equity. Semakin besar DER maka semakin besar resiko atas hutang-hutangnya. DER ini berbanding lurung dengan financial leverage. 

DER dan financial leverage semakin besar, maka ROE akan terdongkrak semakin besar pula, namun resiko hutang juga akan membesar pula. Jadi ada trade-off (baik buruknya) dalam memilih kebijakan mengabil hutang ini.

Ada Apa di Balik Harga Saham yang Turun?

Berikut ini penurunan harga-harga saham emiten poultry yang terjadi sejak akhir 2018 dan awal 2019:

penurunan harga saham emiten pakan ternak
Tabel 4. penurunan harga saham emiten pakan ternak

Mengapa harga saham turun? Kalau dilihat dari kinerja Q1 2019 (berdasarkan laporan keuangan terakhir), memang ROE industry pakan ternak ini lebih rendah daripada Q1 2018 (lihat ROE pemimpin pasar CPIN dan JPFA).

ROE Perusahaan pakan ternak
Tabel 5. ROE Perusahaan pakan ternak

Penurunan kinerja Quarter (Quarter tahun ini dibandingkan dengan Quarter yang sama di tahun sebelumnya) memang biasanya akan direspon oleh market dengan penurunan harga saham. Namun respon penurunan harga saham kali ini jauh lebih dramatis daripada penurunan kinerja bisnisnya (ROE). Nah, ada apakah ini? Sepertinya market terlalu emosional.

Ramai diberitakan bahwa sejak awal tahun 2019 ini, harga jual ayam potong hidup (live birds) turun. Berita-berita dengan nada yang sangat negative membanjiri media. Penurunan harga ayam ini disebabkan oleh tidak seimbangnya supply dan demand. Terlalu banyak produksi unggas (ayam), yang jumlahnya melebihi kebutuhan atau permintaan konsumen. Seperti biasa, berita dengan nada negative akan direspon oleh market secara berlebihan.

Sebenarnya, dampak penurunan harga ayam ini lebih dirasakan oleh para peternak mandiri, yaitu peternak ayam yang tidak berafiliasi (bukan mitra) dari perusahaan besar seperti CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD. Bagi peternak mitra, mereka lebih aman karena harga ayam yang dibeli oleh perusahaan tersebut sudah terikat dengan perjanjian (kontrak) harga. Dan bagi perusahaan besar tersebut, harga jual ayam potong di pasaran juga relative lebih stabil. Jadi, mestinya secara bisnis tidak akan menjadi malapetaka buat perusahaan-perusahaan tersebut (CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD).

Selain sentiment negative dari penurunan harga ayam tersebut, ada beberapa analisa lain yang bisa menjadi tambahan penjelasan penurunan harga-harga saham emiten poultry ini. Salah satunya adalah analisa profit taking (ambil untung). Seperti kita ketahui bahwa sepanjang tahun 2018 lalu saham-saham emiten ini naik sangat tinggi. Sepanjang januari 2018 sampai januari 2019, harga-harga saham CPIN, JPFA, dan MAIN naik lebih dari 100%. Kini di tahun 2019 ini, para trader merealisasikan keuntungannya (menjual saham).

Valuasi PER dan PBV yang Rendah dan Manarik 

Sebagai investor, penurunan harga-harga saham emiten ini tentu saja memberikan peluang. Sebagai gambaran awal, bisa dilihat dari nilai PER dan PBV yang juga turun signifikan. Berikut ini perbandingan data akhir tahun 2018 dengan data sekarang (28 Juni 2019).

Penurunan PBV dan PER emiten pakan ternak
Tabel 6. Penurunan PBV dan PER emiten poultry

Sejauh mana kesempatan ini memberikan peluang investasi yang bagus, mari kita lakukan valuasi yang lebih mendalam.

Perbandingan Valuasi Harga Saham

Valuasi yang paling mudah adalah metode valuasi berdasarkan PER dan PBV. Asumsi dari metode ini adalah, di tengah fakta bahwa valuasi (yang direpresentasikan oleh PBV dan PER) itu berfluktiasi, maka valuasi wajar (normal) adalah didapatkan dengan merata-ratakan PER dan PBV. Tentunya akan banyak challenge buat metode ini, namun setidaknya bisa digunakan untuk mengestimasi secara kasar (roughly).

Sebagai catatan, valuasi yang mungkin lebih tepat untuk CPIN dan JPFA adalah metode discounted cashflow, mengingat bahwa perusahaan ini secara konsisten menghasilkan operating cashflow yang sebanding dengan net profit dalam jangka panjang.

Harga saham sekarang, PBV sekarang, PER Sekarang, dan EPS sekarang adalah per tanggal 28 Juni 2019. EPS sekarang, yang dimaksud adalah EPS TTM (Trailing Twelve Months) yaitu data 12 bulan (1 tahun atau 4 quarter) ke belakang. Karena per 28 Juni 2019 data laporan keuangan yang terbaru adalah Q1 2019, maka EPS TTM adalah EPS Q1 2019 + Q4 2018 + Q3 2018 + Q2 2018.

Alternatif lainnya adalah menggunakan EPS annualized, yaitu estimasi EPS di akhir tahun ini. Karena di tahun 2019 saat ini data yang tersedia hanya Q1, maka EPS annualized adalah EPS Q1 2019 * 4. Saya sendiri lebih memilih EPS TTM karena merupakan data yang sudah terjadi, sementara EPS annualized mengestimasikan bahwa kinerja per quarter akan sama persis, padahal yang terjadi tidak pasti begitu.

Adapun PER rata-rata dan PBV rata-rata, diambil dari rata-rata 8 tahun ke belakang (lihat table 6 pada kolom avg 8thn).

Berikut ini perhitungan yang dilakukan:

EPS sekarang = Harga saham sekarang / PER sekarang
Valuasi harga saham =EPS sekarang * PER rata-rata
BV/share sekarang = harga saham sekarang / PBV sekarang
Valuasi harga saham = BV/share sekarang * PBV rata-rata
Valuasi harga saham rata-rata (wajar)
= (Valuasi berdasarkan PER + valuasi berdasarkan PBV) /2
Margin of savety (MOS)
= (Harga saham sekarang – harga saham wajar)/harga saham wajar

Berikut ini hasil perhitungannya:

Valuasi harga saham CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD
Tabel 7. Valuasi harga saham CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD

Berdasarkan perhitungan ini, harga saham emiten poultry adalah murah, di mana harga saham sekarang lebih rendah daripada harga wajarnya. Margin of Safety yang paling besar adalah MAIN, diikuti oleh SIPD, JPFA, dan CPIN.

Kesimpulan, Menarik buat investasi

Dari analisa kinerja bisnis dan competitive advantage, urutan kinerja terbaik adalah CPIN, JPFA, dan MAIN. Ketiganya menguntungkan secara bisnis di mana ROE di atas 10%an. Sementara itu dari analisa valuasi harga saham, menunjukkan bahwa harga-harga saham ini sudah termasuk murah. 

SIPD, walaupun valuasinya termurah (MOS terbesar), namun bisnisnya tidak menguntungkan. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa saham SPID tetap tidak menarik buat invetasi.

Yang menarik adalah perusahaan yang menguntungkan dan harganya sedang murah. CPIN, JPFA, dan MAIN termasuk di sini. Jadi, harga saham industri poultry memang saat ini menarik.

Referensi

  • Data laporan keuangan dan harga saham: stockbit.com
  • Data industry poultry: Ferlito, Carmelo (2018) : Policy Reforms on Poultry Industry in Indonesia, Discussion Paper, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Jakarta

3 tanggapan pada “Harga saham CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD jatuh – Peluang Investasi Bagus di Industri Pakan Ternak (Poultry)”

  1. Terima kasih untuk analisanya yang sangat detail, Pak Rohmad. Selalu mencerahkan dan memberikan insight seperti biasanya.

Tinggalkan Balasan