Price to Earnings Ratio (PER) adalah Indikator Terpenting No 1 untuk Valuasi Saham

Price to Earnings Ratio (PER) adalah rasio yang paling penting dan sederhana untuk melakukan valuasi awal, apakah harga saham sudah termasuk mahal atau murah. Di sini akan ditunjukkan juga, bagaimana dengan memilih saham-saham yang PER saat ini di bawah PER rata-rata akan menghasilkan return (kenaikan harga saham) di atas kinerja market (index). Contoh analisa PER di artikel ini akan menggunakan saham-saham dari index LQ45.

Pembahasan detail tentang PER adalah berikut ini:

Pengertian dan rumus PER

PER atau P/E adalah rasio atau perbandingan price (harga saham) terhadap earning (net profit atau laba bersih).

PER = Harga saham / Earning_per_share
PER = Market Cap / Net Profit

PER menunjukkan (dengan nilai EPS yang sekarang ini) berapa tahun lagi investasi (pembelian saham) itu akan balik modal. Balik modal artinya, investor mendapatkan hasil sebesar nilai investasi, dan investasi itu masih dipegang; arti lainnya lagi, nilai aset menjadi dua kali lipat.

Semakin tinggi PER, berarti harga saham semakin mahal karena diperlukan waktu yang lebih panjang bagi inverstor untuk balik modal. Mengapa orang mau membeli saham dengan nilai PER yang tinggi, misalnya PER 50? Karena orang berharap bahwa dengan bagusnya perusahaan maka EPS (profit) akan tumbuh sehingga balik modalnya bukan 50 tahun tapi lebih cepat. Itulah kenapa, perusahaan-perusahaan yang bagus (untungnya tumbuh besar) dihargai mahal.

PER merupakan kebalikan dari Earning Yield.

Earning Yield = Net Profit / Market Cap
Earning Yield = EPS / Harga saham
Earning Yield = 1/PER

Alasan mengapa PER sangat penting

PER adalah jembatan penghubung antara kinerja pasar/market (yang diwakili oleh harga saham) dengan kinerja fundamental perusahaan (yang diwakili oleh laba).

Jika keputusan untuk membeli/menjual saham hanya didasarkan pada analisa harga saham saja (analisa teknikal saja) tanpa mempertimbangkan fundamental perusahaan, maka beresiko terkena crash (lonjakan harga yang sangat tiba-tiba ketika berita fundamental release tanpa diduga sebelumnya).

Jika keputusan hanya didasarkan pada fundamental perusahaan saja tanpa mempertimbangkan analisa market, maka beresiko membeli saham terlalu mahal sehingga ruang pertumbuhan harga saham sangat sempit bahkan bisa cenderung turun.

Itulah kenapa melakukan analisa market dan fundamental perusahaan sangat penting dan harus dilakukan secara holistik. Dan PER adalah salah satu metric analisa yang menyatukan keduanya ini (market dan fundamental).

Valuasi harga saham dengan metode relatif PER

Mengetahui nilai PER saja tidak cukup berguna untuk membuat kesimpulan. Diperlukan pembanding untuk mengetahui posisi PER saat ini, apakah sudah cukup mengindikasikan harga saham yang mahal atau murah.

Ada dua macam pembanding. Pembanding yang pertama adalah perusahaan lain (kompetitor) dalam industri yang sama. Analisa awal, jika PER lebih rendah daripada rata-rata PER industri, maka saham itu adalah relatif lebih murah jika dibandingkan dengan saham-saham kompetitornya. Apakah saham yang murah itu suatu saat nanti akan naik? Belum tentu, karena kalau fundamental semakin buruk maka bisa jadi sahamnya akan ikut lebih buruk lagi.

Pembanding yang kedua adalah rata-rata histori (masa lalu) PER saham itu sendiri. Jika PER lebih rendah dari rata-rata PER historicalnya, maka saham itu relatif lebih murah. Apakah saham yang murah itu suatu saat akan naik? Belum tentu. Namun juga bisa jadi akan naik. Secara umum, berdasarkan analisa yang akan dibahas di bagian bawah nanti (Analisa kinerja valuasi PER yang mengalahkan market) akan kita lihat bahwa saham-saham dalam index LQ45 berkinerja lebih baik ketika dibeli saat PER di bawah rata-ratanya.

Setelah mendapatkan indikasi awal bahwa saham itu murah, maka kita perlu mengukurnya: seberapa murah kah? Apakah murah sedikit, atau murah banget? Hitung harga wajar (berdasarkan rata-rata PER) dengan Metode Valuasi Relative PER. Setelah mendapatkan estimasi harga wajar, kemudian bandingkan dengan harga saham saat ini untuk menghitung Tingkat Keamanan atau Margin of Safety (MOS).

PER adalah saudara dari PBV

Indikator yang lain yang cara menghitung dan cara membacanya mirip PER adalah PBV (price to book value).

PBV = Harga Saham / BV-per-share
PBV = Market Cap / Book Value

Sense penggunaan PBV mirip dengan penggunaan PER, dipakai untuk menilai harga saham itu mahal atau murah. PBV semakin besar, berati sahamnya semakin mahal. Perusahaan yang bagus biasanya PBV-nya besar, karena perusahaan yang bagus akan bisa menggunakan asetnya untuk menghasilnya nilai perusahaan yang lebih besar.

Cara analisa menggunakan PBV sama seperti PER. Yaitu dengan membandingan PBV industri (kompetitor) dan rata-rata PBV historical saham itu sendiri. Cara menghitung valuasi (harga wajar saham) dengan metode Relatif PBV juga sama dengan metode Relatif PER.

Analisa kinerja valuasi PER yang mengalahkan market (index)

Skenario: Kita akan melakukan pembelian saham yang nilai PER-nya di bawah nilai rata-rata PER selama 5 tahun terakhir. Setelah saham dibeli, tunggu 5 tahun kemudian untuk menilai kinerja harga sahamnya (CAGR: rata-rata pertumbuhan per tahun) . Sebagai pelengkap analisa, kita akan gunakan juga metode PBV.

Di tahun 2013, kita ambil rata-rata PER dan PBV 5 tahun ke belakang (data kinerja tahunan 2013, 2012, 2011, 2010, dan 2009). Kemudian PER dan PBV terakhir (2013) dibandingkan dengan rata-ratanya. Kita akan menghitung kinerja kenaikan harga saham selama 5 tahun (dari saat saham dibeli sampai saat saham dijual).

Karena laporan keuangan tahunan biasanya release di bulan Maret tahun depannya, maka data rata-rata PER tersebut kita peroleh pada Maret 2014. Oleh karena itu, pembelian saham dilakukan pada periode akhir Maret 2014.

Kita akan menghitung kinerja harga saham selama 5 tahun, karena pembelian dilakukan akhir Maret 2014, maka penjualan saham dilakukan pada akhir Maret 2019. Kemudian kinerja kita bandingkan dengan kenaikan harga saham jika dibeli di atas rata-rata PER, kenaikan index IHSG, dan kenaikan index LQ45.

Saham yang dianalisa adalah LQ45, demi penyederhanaan riset (tidak perlu melibatkan semua saham di bursa Indonesia yang berjumlah 650an). Ada 7 saham LQ45 yang tidak diikutkan dalam perhitungan karena datanya tidak mencukupi buat analisa, yaitu 6 saham yang IPO di atas tahun 2008 (BTPS, ERAA, ICBP, PTPP, SRIL, WSKT) dan 1 saham yang data PER tidak qualified karena banyak yang bernilai negatif (BRPT). Hasilnya ditunjukkan oleh tabel 1 di bawah ini.

Analisa Valuasi PER dan PBV pada saham LQ45
Tabel 1. Analisa Valuasi PER dan PBV pada saham LQ45

Insight yang kita dapatkan dari analisa ini adalah:

  • Saham dengan PER di bawah rata-ratanya, selama 5 tahun CAGR (kenaikan rata-rata per tahun) adalah 11%. Jauh melampaui kinerja IHSG (6,3%) dan LQ45 (5%). Sebaliknya, saham dengan PER di atas rata-ratanya, CAGR-nya hanya 2,8%, jauh di bawah kinerja IHSG dan LQ45.
  • Untuk parameter PBV, saham dengan PBV di bawah rata-rata, kinerja CAGR 10,9%, sedikit di bawah parameter PER. Namun tetap jauh di atas IHSG dan LQ45.
  • Jika kedua parameter PER dan PBV digabungkan, yaitu dipilih saham-saham yang nilai PER dan PBV-nya di bawah rata-rata maka kinerja CAGR menjadi lebih besar lagi (11,7%)

Saham LQ45 dengan PER rendah (di bawah rata-rata)

Berikut ini adalah saham-saham dalam daftar LQ45 (per 20 November 2019). PER per sekarang (TTM) berdasarkan EPS TTM terakhir (Q3 2019). PER AVG 5 thn adalah rata-rata PER tahun 2015-2019. PER AVG 10 thn adalah rata-rata tahun 2010-2019.

PER dan Rata-rata pada saham LQ45
Tabel 1. PER dan Rata-rata pada saham LQ45

Penjelasan: Warna biru (urut 1-23) PER sekarang (TTM) lebih kecil dari PER rata-rata 5 tahun dan 10 tahun. Warna hijau (urut 24-28) PER sekarang (TTM) lebih kecil dari PER rata-rata 5 tahun dan lebih besar dari PER rata-rata 10 tahun. Warna biru (urut 29-32) PER sekarang (TTM) lebih besar dari PER rata-rata 5 tahun dan lebih kecil dari PER rata-rata 10 tahun. Warna hijau (urut 33-45) PER sekarang (TTM) lebih besar dari PER rata-rata 5 tahun dan 10 tahun. Masing-masing diurutkan berdasarkan Margin % (selisih antara PER TTM dan AVG 5 thn dibagi AVG 5 thn).

Kelebihan dan kekurangan PER

Valuasi PER adalah paling mudah, dengan hasil yang memuaskan. Jika analisa ditambahkan dengan valuasi PBV, maka hasilnya lebih memuaskan. Dan tentu saja akan lebih memuaskan lagi jika ditambahkan valuasi cara lain juga, misalnya Metode Valuasi Discounted Free Cash Flow (DFCF).

Kekurangan PER adalah tidak tepat untuk dikenakan pada :

  • perusahaan yang profitnya sangat kecil (di mana nilai PER besar bukan karena harga saham yang mahal, tapi karena profit yang sangat kecil).
  • perusahaan yang profitnya negatif karena merugi (sehingga nilai PER juga negatif)
  • perusahaan startup (yang belum beroperasi lama) karena persepsi market tentang perusahaan tersebut belum stabil.

Untuk mengatasi kekurangan di atas, bisa ditambahkan parameter growth dari EPS (profit) perusahaan. Kombinasi PER dan growth ini akan bisa menghasilkan outcome yang lebih valid. Silahkan baca PEG (Price/Earning to Growth).

Valuasi PER paling cocok dikenakan pada perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi lama, memiliki kinerja bisnis (penjualan dan profit) yang konsisten. Sektor yang cocok umumnya adalah Consumer Goods, Finance, dan Service. Perusahaan tambang tidaklah cocok karena kinerjanya mengikuti siklus (cyclical) global.

Sebagai pelengkap bacaan, anda bisa juga membaca artikel ini Cara Melakukan Analisa Saham dan Contohnya.

Kesimpulan: Simple is Beauty

Hanya dengan menggunakan valuasi relatif PER dan PBV saja, dengan cara yang sangat sederhana yaitu hanya mengambil saham-saham yang PER dan PBV di bawah rata-rata, maka akan menghasilkan kinerja investasi yang sangat memuaskan. Memuaskan dalam arti melebihi index IHSG dan LQ45. Dalam contoh analisa perhitungan di atas, kinerjanya sekitar 2x kinerja index.

Sangat sederhana sekali, bukan? Simple is Beauty. Silahkan baca juga Simple is Beauty yang lain: ROE adalah Rasio Paling Penting No 1 untuk Analisa.

Catatan:

  • Riset ini hanya dilakukan pada saham-saham LQ45 saat ini. Riset yang lebih baik lagi mestinya dilakukan pada saham-saham LQ45 pada Maret 2014. Namun asumsi saya hasilnya tidak akan jauh berbeda.
  • Riset ini hanya menggunakan rata-rata PER 5 tahun dan periode analisa investasi selama 5 tahun. Riset yang lebih baik lagi bisa dilakukan pada berbagai macam rentang waktu, untuk lebih memastikan lagi konsistensi kesimpulan ini.
Silahkan share artikel ini

Tinggalkan Balasan